Tampilkan postingan dengan label AL ISLAM.. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label AL ISLAM.. Tampilkan semua postingan

Rabu, 02 Januari 2013

Refleksi Awal Tahun 2013: Optimisme Penerapan Syariah dan Tegaknya Khilafah

[Al Islam 638] Tahun 2012 telah berlalu. Berbagai peristiwa dan kejadian terjadi terhadap umat selama tahun 2012. Semuanya menunjukkan bahwa masalah multikompleks masih terus mendera umat.


Kapitalisme Pangkal Bencana

Setidaknya ada 10 topik penting yang mencerminkan itu. Pertama, kekayaan alam masih dikuasai dan dijarah asing.Kedua, korupsi masih merajalela dan tidak berhenti, bahkan semakin meluas dan menggurita. Ketiga, persoalan perburuhan yang tidak kunjung selesai. Semuaya berujung pada pengaturan perburuhan ala kapitalisme termasuk tidak adanya jaminan pemenuhan kebutuhan pokok dan pemenuhan kebutuhan dasar (pendidikan, kesehatan, dan keamanan) oleh negara. Keempat, potret hukum dan penegakan keadilan di negeri ini masih terus saja buram. Disamping hukum yang amburadul, para penegaknya banyak yang bengkok. Kelima, proses legislasi yang masih saja mengusung liberalisasi, sarat kepentingan kapitalisme dan merugikan kepentingan rakyat. Keenam, konflik horizontal semakin meluas yang mencerminkan kegagalan konsep Bhineka Tunggal Ika sebagai perekat masyarakat. Ketujuh, meningkatnya kenakalan bahkan kriminalitas remaja sebagai cerminan kegagalan sistem pendidikan nasional. Kedelapan, penanganan isu terorisme dan deradikalisasi masih terus mengikuti pola yang didektekan oleh barat (Amerika) dan terus menjadikan Islam dan umat sebagai target. Kesembilan, penghinaan dan pelecehan terhadap Nabi saw terjadi berulang-ulang. Kesepuluh, dunia Islam khususnya kawasan Arab mengalami pergolakan. Revolusi yang dinamakan Musim Semi Arab (Arab’s spring) terjadi di seluruh kawasan Arab, meski dengan tingkat yang berbeda-beda. Namun semuanya memberi pesan yang sama, bahwa umat telah muak dengan sistem dan rezim serta para penguasa mereka yang selama ini telah menindasnya dan setia melayani kepentingan tuan-tuan barat mereka yang sejatinya adalah penjajah. Sebagian besar revolusi telah mereda dan berhasil ”dibelokkan dan dibajak” oleh barat, kecuali revolusi Suria. Revolusi Suria terus berlangsung dengan sifat Islaminya dimana tuntutan penerapan syaraiah dan penegakan al-Khilafah mewarnai jalannya revolusi Suria itu.


Syariah dan Khilafah Solusinya

Menilik berbagai persoalan yang timbul di sepanjang tahun 2012 sebagaimana diuraikan di atas, dapat disimpulkan bahwa:

Pertama, Setiap penerapan sistem sekuler, yakni sistem yang tidak bersumber dari Allah SWT, Sang Pencipta manusia, kehidupan dan alam semesta yang Maha Tahu, pasti akan menimbulkan kerusakan dan kerugian bagi umat manusia di berbagai bidang kehidupan.

Dikuasainya sumber daya dan kekayaan alam negeri ini oleh kekuatan asing, kelamnya persoalan perburuhan, maraknya korupsi di seluruh sendi di seantero negeri, konflik horizontal yang tiada henti, kenakalan dan kriminalitas di kalangan remaja yang tumbuh di mana-mana, adalah bukti nyata dari kerusakan dan kerugian itu. Ditambah dengan kezaliman yang diderita umat di berbagai negara, penghinaan terhadap Nabi yang terus terjadi serta sulitnya perubahan ke arah Islam, karena dihambat oleh negara Barat yang tidak mau kehilangan kendali kontrol atas wilayah-wilayah di Dunia Islam. Semua itu pada akhirnya mendatangkan kesempitan dalam kehidupan umat manusia, bukan hanya umat Islam. Dan semua kesempitan itu pada dasarnya akibat ditinggalkannya petunjuk dari Allah SWT dalam pengelolaan berbagai interaksi dan urusan di masyarakat. Itulah yang jauh-jauh hari sesungguhnya telah diperingatkan oleh Allah SWT kepada kita semua. Allah SWT berfirman kepada kita semua:

فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِنِّي هُدًى فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلاَ يَضِلُّ وَلاَ يَشْقَى *وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا

Dan jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, maka barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit(TQS Thaha [20]: 123-124)

Imam Ibn Katsir menjelaskan dalam kitab tafsirnya: “Siapa saja yang berpaling dari peringatan-Ku, yakni menyalahi perintah-Ku dan apa yang Aku turunkan kepada rasul-Ku, ia berpaling darinya dan berpura-pura melupakannya dan mengambil dari selainnya sebagai petunjuknya; “maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit” yakni di dunia.” (Imam Ibn Katsir, Tafsîr al-Qur’ân al-‘Azhîm).

Semestinya semua itu menyadarkan kita untuk segera meninggalkan segala bentuk sistem dan ideologi kufur, terutama kapitalisme yang nyata-nyata sangat merusak dan merugikan umat manusia. Juga mendorong kita untuk bersegera kembali kepada jalan yang benar, yakni jalan yang diridhai Allah SWT.

Kedua, Demokrasi yang dalam teorinya adalah sistem yang memberikan ruang kepada kehendak rakyat, tapi dalam kenyataannya negara-negara Barat tidak pernah membiarkan rakyat di negeri-negeri Muslim membawa negaranya ke arah Islam. Mereka selalu berusaha agar sistem yang diterapkan tetaplah sistem sekuler, meski dibolehkan dengan selubung Islam; serta penguasanya tetaplah siapa yang mau kompromi dengan kepentingan Barat.

Itulah yang terjadi saat ini di negeri ini, sebagaimana tampak dari proses legislasi di parlemen dan kebijakan-kebijakan yang diambil oleh pemerintah, khususnya di bidang ekonomi dan politik, seperti terlihat dalam program war on terrorismyang sangat pro terhadap kepentingan Barat. Cengkeraman Barat juga tampak di negeri-negeri muslim yang tengah bergolak seperti di Suriah, begitu juga di Mesir dan negara-negara lain di kawasan Timur Tengah. Bahkan Palestina yang telah diakui sebagai sebuah entitias politik, sejatinya hanya sebuah negara di atas kertas, yang secara riil belum menjadi sebuah negara dalam arti yang sesungguhnya.

Kenyataan ini semestinya juga memberikan peringatan umat Islam untuk tidak mudah terkooptasi oleh kepentingan negara penjajah. Juga peringatan kepada penguasa di manapun untuk menjalankan kekuasaannya dengan benar, penuh amanah demi tegaknya kebenaran Islam, bukan demi nafsu serakah kekuasaan dan kesetiaan pada negara penjajah. Pembuatan peraturan perundang-undangan yang bakal membungkam aspirasi rakyat, seperti RUU Kamnas dan peraturan perundangan serupa di negeri ini, mungkin sesaat akan berjalan efektif, tapi cepat atau lambat itu semua justru akan memukul balik penguasa itu sendiri.

Ketiga, Karena itu, bila kita ingin sungguh-sungguh lepas dari berbagai persoalan yang tengah membelit negeri ini seperti sebagiannya telah diuraikan di atas, maka kita harus memilih sistem yang baik dan pemimpin yang amanah. Sistem yang baik hanya mungkin datang dari Dzat yang Maha Baik, itulah syariah Islam dan pemimpin yang amanah adalah yang mau tunduk pada sistem yang baik itu. Di sinilah esensi seruan ”Selamatkan Indonesia dengan Syariah dan Khilafah” yang gencar diserukan oleh Hizbut Tahrir Indonesia. Karena hanya dengan sistem berdasar syariah yang dipimpin oleh seorang Khalifah, Indonesia dan juga dunia, benar-benar bisa menjadi baik. Dengan sistem ini pula terdapat nilai transedental kesadaran akan hubungan dengan Allah SWT dalam setiap aktifitas sehari-hari yang akan membentengi setiap orang agar bekerja ikhlas, tidak terkontaminasi oleh kepentingan pribadi, golongan maupun asing. Memiliki paradigma yang jelas bahwa memimpin adalah amanah dari Allah dan syariah adalah jalan satu-satunya untuk memberikan kebaikan dan kerahmatan Islam bagi seluruh alam semesta, sehingga kezaliman dan penjajahan bisa dihapuskan di muka bumi.

Optimisme Menyongsong Era Islam

Kita tentu wajib optimis, Khilafah akan kembali tegak di Dunia Islam, termasuk di Indonesia. Alasannya: Pertama, perjuangan menerapkan syariah dan menegakkan Khilafah adalah perjuangan yang didasarkan pada keimanan (akidah Islam) dan kewajiban menjalankan seluruh syariah Islam untuk mengharapkan ridha Allah SWT. Mustahil Allah SWT mewajibkan penerapan syariah Islam dan penegakan Khilafah, kalau itu tidak mungkin dilaksanakan oleh kita, sehingga penerapan syariah dan penegakan al-Khilafah tidak lah utopis.

Kedua, tegaknya syariah dan khilafah merupakan janji Allah SWT (Lihat: QS an-Nur [24]: 55), dan Allah tidak akan menyalahi janji-Nya. Rasul saw juga telah mengabarkan akan kembalinya al-Khilafah ar-Rasyidah kedua setelah era penguasa diktator. Rasul bersabda: … kemudian akan ada khilafah ‘ala minhaj an-nubuwwah. (HR Ahmad dan ath-Thayalisi).

Ketiga, ada kelompok yang ikhlas berjuang karena Allah semata, yang beriman pada janji Allah dan membenarkan berita gembira Rasulullah saw serta berjuang siang-malam, tanpa gentar karena Allah terhadap celaan orang yang suka mencela kebenaran. Dalam hal ini, Hizbut Tahrir merupakan kelompok yang dengan serius dan bersungguh-sungguh memperjuangkan kembalinya Khilafah Islam itu.

Keempat, kesadaran umat untuk berjuang bersama-sama menegakkan Khilafah makin menguat dari hari ke hari. Semua ini merupakan hasil dari dakwah yang tak kenal lelah, bukan hasil dari berdiam diri.

Syariah Islam pasti akan diterapkan kembali dan al-Khilafah juga pasti akan tegak kembali. Itu adalah kemenangan yang besar dan kemuliaan yang agung. Namun, yang terpenting hendaknya kita semua tidak diam menunggu hal yang pasti itu, melainkan kita semua turut berpartisipasi dengan segenap potensi dan sumber daya yang kita miliki untuk mewujudkannya, sehingga kita layak mendapat kemuliaan di dunia dan pahala besar, serta keridhaan Allah SWT di akhirat.

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ …

Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu (TQS al-Anfal [8]: 24).

Wallâh a’lam bi ash-shawâb. []

Komentar:

Menurut Samsudin Haris profesor riset LIPI, Parpol tidak lagi menjadi pilar demokrasi, tetapi berubah menjadi pilar korupsi. Mendekati Pemilihan Umum 2014, skala korupsi diperkirakan semakin meningkat karena parpol membutuhkan biaya kampanye (Kompas, 30/12/12).
Dalam sistem demokrasi bagi parpol kemungkinan hanya dua: menjadi pilar korupsi atau bersekongkol dengan para cukong pemilik modal yang menanamkan investasi dengan “menyumbang” biaya politik
Selama sistem politik demokrasi masih diadopsi dan diterapkan, hal itu tidak akan berubah.
Politik dan politisi yang bersih dan peduli kepentingan rakyat hanya bisa diwujudkan dengan sistem politik Islam dan tentu dalam bingkai sistem al-Khilafah ar-Rasyidah.

Read More

Sabtu, 21 Juli 2012

Ramadhan: Singkirkan Sekulerisme Tegakkan Ketakwaan


[Al Islam 616] Marhaban ya Ramadhan. Bulan yang penuh berkah, yang di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Bulan yang telah Allah SWT jadikan didalamnya puasa sebagai fardhu dan shalat malamnya sebagai tathawwu’. Bulan yang siapa saja mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan melakukan kebajikan, samalah ia mengerjakan fardhu di bulan yang lain; dan barang siapa melakukan fardhu, samalah ia dengan mengerjakan tujuh puluh fardhu di bulan lain. Bulan yang Allah tebarkan di dalamnya beragam kebaikan. Sungguh merugi seorang muslim yang menyia-nyiakan beragam amalan selama Ramadhan tiba.
Puasa Sebagai Perisai
Imam ath-Thabari dalam tafsirnya mengatakan bahwa puasa adalah; mencegah atau menahan dari apa yang Allah perintahkan untuk menahan darinya -al-kaf ‘amma amarallahu bil kaffi ‘anhu-(Tafsir ath-Thabari, iii/409). Dalam berpuasa, seorang muslim diperintahkan oleh Allah SWT. untuk menahan diri dari perkara-perkara yang membatalkan puasa semisal makan, minum, bersetubuh, juga dari perkara yang merusak pahala puasa seperti marah, berkata kasar dan kotor, berbuat keji, dsb.
Dengan melaksanakan puasa seorang muslim hakikatnya telah membentengi dirinya dari berbagai perbuatan keji dan mungkar. Nabi saw. bersabda:
« الصَّوْمُ جُنَّةٌ مَا لَمْ يَخْرِقْهَا »
Puasa itu adalah perisai selama ia (manusia) tidak melubanginya (HR. Ahmad).
Jika orang menjalankan puasa dengan sebak-baiknya dengan segala amalan di dalamnya, maka puasa itu akan benar-benar menjadi perisai baginya di akhirat kelak. Yaitu Allah jadikan pahalanya sebagai perisai dari api neraka. Nabi saw bersabda:
« الصِّيَامُ جُنَّةٌ مِنَ النَّارِ، كَجُنَّةِ أَحَدِكُمْ مِنَ الْقِتَالِ »
Puasa itu adalah perisai dari api neraka, seperti perisai seseorang dari kalian dari serangan musuh. (HR. An-Nasai, Ibnu Majah)
Ibadah Tapi Sekuler
Karenanya sudah saatnya kaum muslimin merenung, apakah Ramadhan demi Ramadhan yang dilewati telah dijalankan dengan shaum sebagaimana mestinya? Apakah kaum muslimin benar-benar telah menahan diri dari berbagai perkara yang dapat mengantarkan datangnya azab Allah? Ataukah sebaliknya?
Sungguh bila kita dengan jujur melakukan introspeksi maka ibadah puasa yang selama ini dijalankan masih banyak baru sebatas menahan diri dari lapar dan haus. Tapi belum melaksanakan secara penuh apa yang diperintahkan dan menjauhi apa yang dilarang oleh Allah SWT. Sementara itulah hakikat takwa yang menjadi hikmah yang harus serius kita wujudkan melalui puasa kita.
Menjelang dan selama Ramadhan tempat-tempat hiburan malam dan tempat-tempat yang menebar kemaksiatan dilarang beroperasi, tetapi boleh buka kembali pasca Ramadhan. Seolah-olah haramnya kemaksiatan hanya berlaku selama Ramadhan.
Acara-acara televisi selama Ramadhan serentak menayangkan berbagai acara-acara keislaman dengan beragam variasi. Itupun selalu berbau komersil dan sering diwarnai adegan-adegan yang jauh dari nilai Islam. Sehingga justru meminggirkan pesan-pesan keislaman dalam acara tersebut.
Ramadhan tahun lalu, pihak Kementerian Agama dan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) berulangkali menegur sejumlah televisi swasta yang melanggar etika penyiaran. Banyolan yang tidak pantas hingga artis bergaya waria kerap mewarnai beragam acara selama Ramadhan. Bahkan ada saja juru dakwah yang ikut berpartisipasi dalam acara-acara seperti itu. Bila demikian, maka apa artinya Ramadhan?
Pantas bila datangnya Ramadhan seperti tidak mengubah kondisi apapun di negeri ini. Korupsi makin menggila. Bahkan menurut KPK para koruptor rata-rata adalah para pejabat yang rajin beribadah. Bahkan mereka juga ada yang sudah mengantongi gelar agama. “Solat tetapi korup dan tetap nekat korup,” kata Busryo Muqoddas (detiknews. com, 18/6).
Tiap Ramadhan selalu semarak dengan beragam kegiatan. Bahkan di luar Ramadhan pun majlis wirid dan zikir bersama selalu dipadati banyak orang. Akan tetapi angka korupsi tetap tinggi. “Ini merupakan spiritual laundering, lebih parah dari pada money laundering,” tutur Busyro lagi. Para pelaku koruptor merasa bahwa dengan wirid, zikir, naik haji, puasa Ramadhan, dan membayar zakat maka sudah bisa membersihkan segala dosa mereka.
Selain kasus korupsi, pergaulan bebas di kalangan remaja di tanah air pun sudah parah. Berdasarkan penelitian dari Australian National University (ANU) dan Pusat Penelitian Kesehatan Universitas Indonesia (UI) tahun 2010/2011 di Jakarta, Tangerang dan Bekasi (Jatabek), dengan jumlah sampel 3006 responden (usia 17-24 tahun), menunjukkan 20.9 persen remaja mengalami kehamilan dan kelahiran sebelum menikah. Dan 38,7 persen remaja mengalami kehamilan sebelum menikah dan kelahiran setelah menikah. Padahal, bukankah mayoritas remaja Indonesia beragama Islam?
Itulah diantara wajah sekuler negeri ini. Meski negeri ini mayoritas muslim, akan tetapi kehidupan diatur berlandaskan sekulerisme, yakni agama dipisahkan dari kehidupan. Ajaran Islam hanya menjadi urusan ibadah yang sifatnya individual, tidak berpengaruh pada kehidupan masyarakat dan negara. Sekulerisme menghasilkan orang-orang yang bermental hipokrit; lain di ruang ibadah, lain di ruang publik.
Kokohkan Iman, Tegakkan Syariah dan Khilafah
Semestinya, dengan mengerjakan puasa dengan benar, kaum muslimin akan terbimbing menuju pribadi yang agung. Gemar beramar maruf nahi mungkar dan senantiasa bersemangat untuk melaksanakan perintah Allah SWT. Ia akan menjalankan hukum-hukum Allah tanpa pilah-pilih. Dan akan meninggalkan kemungkaran tanpa ditunda-tunda.
Kita semua sering, apalagi selama Ramadhan, membaca firman Allah SWT:
] يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ[
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa (QS. al-Baqarah [2]: 183)
Dengan Ibadah puasa, orang yang beriman diperintahkan untuk memproses dirinya agar menjadi orang yang bertakwa dan makin bertakwa. Di dalam Jami’ ash-Shahih al-Mukhtashar disebutkan bahwa takwa itu adalah rasa takut (al-khasyyah) yang perwujudannya adalah menjaga diri dari apa yang dapat menyebabkan mendapat siksa, berupa meninggalkan ketaatan atau mengerjakan kemaksiatan (Jami’ ash-Shahih al-Mukhtashar, i/7).
Sebagai pangkal untuk mewujudkan ketakwaan itu, tentu saja keimanan harus dikokohkan. Tauhid pun harus dimurnikan dari segala kesyirikan, apalagi kesyirikan sistematis seperti yang dilakukan Bani Israel. Allah SWT berfirman:
] اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ …[
Mereka menjadikan orang-orang alim dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah ... (QS at-Tawbah [9]: 31)
Tatkala Nabi membaca ayat tersebut, Adi Bin Hatim menimpali: “ya Rasulullah mereka tidak menyembah para alim dan rahib mereka”. Nabi menjawab:
« بَلَى، إِنَّهُمْ حَرَّمُوْا عَلَيْهِمْ الْحَلاَلَ، وَأَحَلُّوْا لَهُمْ الْحَرَامَ، فَاتَّبِعُوْهُمْ، فَذَلِكَ عِبَادَتُهُمْ إِيَاهُمْ »
Ya, mereka (orang-orang laim dan para rahib) mengharamkan yang halal dan menghalalkan yang haram lalu mereka mengikuti mereka, maka itulah ibadah (penyembahan) mereka kepada orang-orang laim dan para rahib (HR Ahmad dan Tirmidzi)
Kesyirikan yang dilakukan Bani Israel dahulu adalah menyerahkan penentuan halal dan haram yakni pembuatan hukum kepada orang-orang alim dan para rahib menurut akal da hawa nafsu mereka. Dan kesyirikan itu jugalah yang diajarkan oleh demokrasi dalam bentuk kedaulatan rakyat dengan menyerahkan pembuatan hukum kepada wakil-wakil rakyat. Karena itu, Ramadhan ini hendaknya dijadikan bulan mengokohkan iman, memurnikan tauhid, mencampakkan sekulerisme dan membuang kesyirikan yang menjadi inti demokrasi itu.
Sekaligus hendaknya Ramadhan ini dijadikan momentum mewujudkan hikmah puasa, yaitu ketakwaan yang bisa jadi terlewatkan dan belum sempurna diwujudkan pada Ramadhan-Ramadhan lalu. Dan hakikat ketakwaan adalah melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Perintah dan larangan Allah itu merupakan hukum-hukum halal haram yang harus kita pedomani dan laksanakan baik terkait individu, keluarga atau kemasyarakatan, dalam masalah akidah, ibadah, makanan, pakaian, minuman, akhlak, ekonomi, pemerintahan, tata pergaulan, politik dalam dan luar negeri dan sebagainya. Semua itu termaktub dalam syariah Islam. Karena itu mewujudkan ketakwaan secara sempurna tidak lain adalah dengan menerapkan Syariah Islam secara utuh dan total, Hal itu tentu saja tidak bisa terwujud kecuali dalam bingkai Sistem Pemerintahan Islam yang menerapkan syariah yaitu dalam bingkai al-Khilafah ar-Rasyidah ‘ala minhaj an-nubuwwah.
Wahai Kaum Muslimin
Saatnya Ramadhan kali ini kita jadikan bulan mengokohkan iman dan memurnikan tauhid dengan mencampakkan sekulerisme dan membuang demokrasi yang mengajarkan kesyirikan menjadikan manusia sebagia Tuhan-tuhan selain Allah. Saatnya pula Ramadhan kali ini kita jadikan titik tolak untuk mewujudkan ketakwaan paripurna dengan menerapkan syariah Islam dalam bingkai Khilafah Rasyidah ‘ala minhaj an-Nubuwwah. Dengan itu keberkahan pun akan dilimpahkan kepada kita sebagaimana janji Allah SWT:
] وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى ءَامَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ[
Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (QS. al-A'raf [7]: 96).
Wallâh a’lam bi ash-shawâb. []

Komentar Al Islam:

Dalam pertemuan yang berlangsung pada 8-10 Maret 2012 para hakim agung telah membuat 50 butir kesepakatan. Antara lain membicarakan masalah hukuman untuk para koruptor kecil yaitu hukuman untuk koruptor kelas teri harus dihukum minimal 1 tahun penjara, sesuai dengan pasal yang berlaku. (detiknews.com, 17/7)
  1. Buktikan dengan memberantas korupsi dari yang paling atas dan kelas kakap. Jangan yang kelas teri diperberat sementara yang kelas kakap dan pejabat diperingan
  2. Memberantas korupsi hingga tuntas hanya bisa dilakukan secara sistematis dengan pendepatan multi sektor. Hanya Syariah Islam yang memberikan perangkat hukum dan sistem yang bisa mewujudkan hal itu.
  3. Berantas korupsi satu jawabnya: terapkan Syariah Islam secara utuh dan total dalam bingkai Khilafah Rasyidah ‘ala minhaj an-nubuwwah.
Read More

Sabtu, 30 Juni 2012

Al-Khilafah, Satu-satunya Sistem Pemerintahan yang Difardhukan oleh Allah


بسم الله الرحمن الرحيم
Al-Khilafah, Satu-satunya Sistem Pemerintahan yang Difardhukan oleh Allah, Rabb Semesta Alam
Dan Seruan Negara Demokrasi Sipil Merupakan Kesalahan Besar Khususnya Jika Hal itu Keluar dari Bibir Kaum Muslim!
Kemarin tanggal 24 Juni 2012 Komite Pemilihan Umum Presiden di Mesir memutuskan kemenangan calon Muhammad Mursi atas saingannya Ahmad Shafiq. Berikutnya, Komite mengumumkan (Muhammad Mursi adalah presiden Mesir arab yang baru). Pernyataan pertama dari presiden baru adalah bahwa dia menyerukan negara demokrasi sipil. Juga bahwa ia mengumumkan persetujuan Mesir atas perjanjian-perjanjian Mesir yang bersifat internasional. Dan puncaknya tentu saja, dan itu yang dimaksudkan dengan pernyataan itu, perjanjian Camp David khianat yang menyetujui perampasan oleh Yahudi atas bumi Isra’ dan Mi’raj, bumi yang diberkahi, Palestina.
Wahai Kaum Muslim: sistem al-Khilafah dan pemutusan perkara dengan apa yang telah diturunkan oleh Allah SWT dalam perkara besar ataupun kecil, merupakan kewajiban dan sebaik-baik kewajiban. Hal itu sudah diketahui bersama, dan bukannya tidak diketahui. Al-Khilafah telah memakmurkan negeri-negeri kaum Muslim selama lebih dari tiga belas abad. Dengan al-Khilafah, kaum Mukmin bahagia dan mulia. Dan sebaliknya musuh-musuh Islam terpukul dan hina… Perkara ini telah ditetapkan dengan perintah Allah SWT:
] وَأَنِ احْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ وَاحْذَرْهُمْ أَنْ يَفْتِنُوكَ عَنْ بَعْضِ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ إِلَيْكَ [
Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. (QS al-Maidah [5]: 49)
Juga telah ditetapkan dengan perintah Rasulullah saw:
« كَانَتْ بَنُو إِسْرَائِيلَ تَسُوسُهُمْ اْلأَنْبِيَاءُ كُلَّمَا هَلَكَ نَبِيٌّ خَلَفَهُ نَبِيٌّ وَإِنَّهُ لاَ نَبِيَّ بَعْدِي وَسَيَكُونُ خُلَفَاءُ فَيَكْثُرُونَ قَالُوا فَمَا تَأْمُرُنَا قَالَ فُوا بِبَيْعَةِ اْلأَوَّلِ فَاْلأَوَّلِ »
Dahulu Bani Israel, (urusan) mereka dipelihara dan diurusi oleh para nabi, setiap kali seorang nabi meninggal digantikan oleh nabi yang lain dan sesungguhnya tidak ada nabi lagi sesudahku dan akan ada para khalifah dan mereka banyak. Mereka (para sahabat) berkata: “lalu apa yang engkau perintahkan kepada kami?” Rasul saw bersabda: “penuhilah baiat yang pertama lalu yang pertama” (HR al-Bukhari dari Abu Hurairah ra)
Sebagaimana, perjuangan untuk tegaknya al-Khilafah adalah fardhu yang bisa menyelamatkan dari neraka.
« مَنْ خَلَعَ يَدًا مِنْ طَاعَةٍ لَقِىَ اللَّهَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لاَ حُجَّةَ لَهُ وَمَنْ مَاتَ وَلَيْسَ فِى عُنُقِهِ بَيْعَةٌ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً »
Siapa saja yang melepaskan tangan dari ketaatan niscaya dia menjumpai Allah pada hari Kiamat kelak tanpa memiliki hujjah dan siapa saja yang mati sementara dipundaknya tidak ada bekas baiat maka ia mati seperti kematian jahiliyah (HR Muslim dari Abdullah ibn Umar ra)
Baiat disini tidak ada kecuali kepada khalifah. Dan kematian jahiliyah merupakan kiasan atas dosa besar dimana orang yang tidak berjuang untuk al-Khilafah terjerumus di dalamnya.
Adapun negara sipil demokrasi maka itu adalah buatan sekulerisme yang diproduksi oleh barat kafir. Dengan negara sipil demokrasi, agama dipisahkan dari negara dan di dalam negara itu masyarakat menyerahkan keputusan hukum kepada manusia bukan kepada Rabbnya manusia, sehingga mereka menghalalkan dan mengharamkan, memperbolehkan dan melarang … Mereka bertanya kepada manusia dan sebaiknya mereka tidak bertanya kepada kitabullah SWT dan sunnah rasulullah saw.
Sedangkan keterikatan kepada perjanjian-perjanjian internasional yang menyia-nyiakan hak kaum Muslim, merampas tanah mereka dan menjadikan kaum kafir memiliki jalan untuk menguasai mereka, maka itu jelas merupakan kesalahan yang mengerikan dan merupakan pintu lebar untuk kesedihan dan kekerdilan di dunia dan sungguh azab Allah itu lebih besar … Semua itu merupakan musibah yang besar dan berbahaya dengan diserukan kewajiban-kewajiban ini di Mesir, Mesir al-Kinanah, Mesir yang merupakan anak panah Allah di muka bumi, Mesir yang mengalahkan pasukan salib, Mesir yang mengalahkan Tatar, dan Mesir yang mengalahkan entitas Yahudi dengan izin Allah dan melenyapkan eksistensinya … Semua itu merupakan musibah besar dan berbahaya yang diserukan di Mesir. Dan itu menjadi kesalahan yang lebih besar dan lebih serius jika diserukan dengan bibir orang-orang al-Ikhwan al-Muslimun yang calon mereka meraih kemenangan dengan dukungan suara kaum Muslim dengan anggapan mereka bahwa mereka akan diperintah dengan Islam dan berlindung di bawah naungan panji Islam, naungan al-Khilafah yang membuat mereka mulia setelah kerendahan, mereka aman setelah ketakutan dan mengembalikan bumi yang diberkahi setelah dirampas … Karena semua itulah mereka memberikan suara-suara dan dukungan mereka. Mereka memberikan suara dan dukungan mereka bukan agar sistem sekuler dikembalikan kepada mereka dengan wajah baru dan lisan baru tetapi dengan ucapan lama yang diperbarui menyerukan negara yang sekuler pemikiran, manhaj dan identitasnya!
Wahai Kaum Muslim: kita paham bahwa al-Khilafah ar-Rasyidah yang kedua dengan izin Allah SWT pasti datang, dengan hati orang-orang mukmin yang bertakwa, dengan tangan-tangan yang saling menyatu lagi bersih, dan dengan aliran yang kuat dan kokoh serta hidung musuh-musuh Islam pasti tersungkur … Ini adalah janji Rabb kita SWT.
] وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ [
Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa (QS an-Nur [24]: 55)
Juga merupakan berita gembira Rasul kita saw:
« … ثُمَّ تَكُونُ خِلاَفَةٌ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ »
… kemudian akan ada Khilafah yang berjalan mengikuti manhaj kenabian (HR Ahmad)
Janji Allah SWT dan berita gembira Rasulullah saw pasti terjadi dengan izin Allah. Pada hari itu orang-orang yang beriman akan bergembira karena pertolongan Allah.
Sesungguhnya Hizbut Tahrir menyeru Anda wahai kaum Muslim agar Anda semua memenuhi panggilan Allah SWT dan tidak mengikuti kecuali jalan Allah SWT.
] قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ [
Katakanlah: "Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik". (QS Yusuf [12]: 108)
Janganlah Anda menyerahkan keputusan hukum kecuali kepada syariah Allah SWT dalam seluruh apa yang terjadi diantara Anda.
] فَلاَ وَرَبِّكَ لاَ يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لاَ يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا [
Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. (QS an-Nisa' [4]: 65)
Hizbut Tahrir menyeru Anda agar berjuang bersama kami untuk melanjutkan kembali kehidupan Islami di muka bumi dengan menegakkan al-Khilafah ar-Rasyidah kedua yang mengikuti manhaj kenabian dan membaiat seorang Khalifah untuk beraktivitas dengan apa yang telah diturunkan oleh Allah SWT, Anda jadikan dia sebagai pelindung dan berperang di belakangnya.
« وَإِنَّمَا الْإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ »
Dan sesungguhnya seorang imam tidak lain merupakan laksana perisai yang orang-orang berperang di belakangnya dan menjadikannya pelindung (HR al-Bukhari dari Abu Hurairah)
Kemudian nasihat yang tulus ikhlas karena Allah SWT semata kami sampaikan kepada Presiden baru di Mesir: bertakwalah kepada Allah sehingga Anda kembali dari menyerukan negara sipil demokrasi yang sekuler pemikiran, manhaj dan identitasnya. Rujuk (kembali) kepada kebenaran itu memiliki fadhilah (keutamaan). Hal itu supaya Anda tidak merugi kehilangan dunia seluruhnya setelah Anda rugi kehilangan sebagian besarnya karena Dewan Militer memotong sayap-sayap Anda dan melucuti wewenang Anda … Juga supaya Anda tidak merugi kehilangan akhirat karena Anda menyenangkan Amerika dan barat dengan pernyataan negara sipil demokrasi, dan sebaliknya membuat murka Rabbnya Amerika dan Barat dengan duduk dari penegakan al-Khilafah dan penerapan syariah Allah SWT … Tidak diragukan lagi bahwa Anda membaca hadits Rasulullah saw:
« مَنْ أَرْضَى النَّاسَ بِسَخَطِ اللهِ وَكَلَهُ اللهُ إِلَى النَّاسِ وَمَنْ أَسْخَطَ النَّاسَ بِرِضَا اللهِ كَفَاهُ اللهُ مُؤْنَةَ النَّاسِ »
Siapa saja yang mencari keridhaan manusia dengan kemurkaan Allah maka Allah menyerahkannya kepada manusia dan siapa saja yang membuat manusia marah dengan keridhaan Allah maka Allah mencukupkannya dari bantuan manusia (HR at-Tirmidzi dan Abu Nu’aim di al-Hilyah dari Aisyah ra)
Sungguh ini adalah nasihat yang tulus ikhlas karena Allah SWT. Kami tidak menginginkan dari Anda balasan ataupun ucapan terima kasih atasnya, kecuali sebagai pencegahan kegembiraan kaum kuffar beserta antek-antek mereka dan semua musuh-musuh Islam dengan kesengsaraan kaum Muslim ketika mereka tertawa lebar mendengar bahwa proyek mereka dalam negara sipil demokrasi telah diserukan oleh kaum Muslim, al-Ikhwan al-Muslimun. Dan innâ lillâhi wa innâ ilayhi râji’ûn -sesungguhnya kita adalah milik Allah dan kepada-Nyalah kita pasti kembali-.
05 Sya’ban 1433 H
25 Juni 2012
Hizbut Tahrir
Komentar:
Kampanye Kondom sebagai upaya pengendalian HIV masih kontroversial. Namun, ada titik temu. Sejumlah anggota Komisi IX DPR setuju kampanye kondom dilakukan secara terbatas di kelompok beresiko tinggi alias rentan (kompas, 26/6)
  1. Sudah tahu tidak efektif masih dilakukan juga, padahal menghabiskan anggaran 25 miliar uang rakyat.
  2. Menghentikan penularan HIV dan PMS hanya bisa dituntaskan dengan melarang perzinaan dan hubungan seksual yang melanggar syariah.
  3. Semua itu hanya bisa diterapkan sempurna dengan penerapan syariah dalam institusi Khilafah Rasyidah ‘ala minhaj an-nubuwwah.
Read More

Kamis, 14 Juni 2012

Renungan Isra’ Mi’raj Menjadi “ash-Shiddîq” Abad Ini


[Al Islam 611] Salah satu momen penting dalam perjalanan dakwah Rasulullah saw., yaitu peristiwa Isra’ Mi’raj. Menurut riwayat Ibnu Sa’d dalam Thabaqat-nya (juz 1, hal. 213), peristiwa Isra’ Mi’raj berlangsung delapan belas bulan sebelum Rasulullah saw. dan kaum muslimin hijrah ke Madinah.
Allah SWT menggambarkan peristiwa ini dengan firman-Nya:
] سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلاً مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ ءَايَاتِنَا إِنَّه هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ[
Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari al-Masjid al-Haram ke al-Masjid al-Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (TQS. al-Isra' [17]: 1).
Ujian Keimanan
Ibnu Hisyam dalam Sirah-nya (juz 1, hal 397) meriwayatkan beragam kemukjizatan yang dialami Rasulullah saw. Diantaranya adalah Buraq yang Beliau jadikan tunggangan selama perjalanan Isra’ dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsha, yakni hewan berwarna putih seperti bighal (peranakan kuda dan keledai) yang memiliki sayap yang langkah kakinya sejauh pandangan mata.
Allah SWT. juga mempertemukan Rasulullah saw. dengan para nabi dan Rasul dan Beliau mengimami mereka. Selain itu Beliau pun diperlihatkan beragam keadaan penghuni neraka dan azab yang mereka derita diantaranya azab kepada pelaku riba, para pezina, dan pemakan harta anak yatim.
Peristiwa Isra’ Mi’raj secara keseluruhan mengokohkan kembali pribadi Nabi saw. setelah menjalani hari-hari yang penuh penderitaan di tahun kesedihan setelah Khadijah ra isteri belau wafat dan paman Beliau Abu Thalib meninggal dunia. Sekaligus Isra’ Mi’raj itu juga menjadi isyarat kemenangan Islam.
Lalu apa makna Isra’ Mi’raj itu bagi kaum muslimin? Dengan indah Ibnu Ishaq menuliskan, “Sungguh pada peristiwa Isra’ yang beliau jalani dan apa yang beliau sebutkan, di dalamnya terdapat ujian, seleksi, dan salah satu bukti kekuasaan Allah. Di dalamnya juga terdapat pelajaran bagi orang-orang berakal, petunjuk, rahmat pengokohan bagi orang yang beriman kepada kekuasaan Allah dan membenarkannya.”(Sirah Ibnu Hisyam, juz 1, hal. 396).
Rangkaian peristiwa Isra’ dan Mi’raj memang diluar jangkauan akal manusia sehingga sebagian orang yang lemah keimanannya berbalik murtad karenanya. Keadaan ini pun dimanfaatkan kaum musyrik Quraisy untuk menghasut kaum muslimin yang masih bertahan dengan keimanan mereka.
Namun ketika diprovokasi oleh kaum musyrikin soal Isra Miraj, Abu Bakar ra malah mempertanyakan sikap kaum musyrik Quraisy yang masih tetap mengingkari kebenaran yang dibawa oleh Rasulullah saw., “Demi Allah, jika itu yang Muhammad katakan, sesungguhnya ia berkata benar. Apa yang aneh bagi kalian? Demi Allah, sesungguhnya ia berkata kepadaku bahwa telah datang kepadanya wahyu dari langit ke bumi hanya dalam waktu sesaat pada waktu malam atau sesaat pada waktu siang dan aku mempercayainya. Inilah puncak keheranan kalian?”
Setelah itu Abu Bakar mendatangi Rasulullah saw. dan meminta Beliau menjelaskan ciri-ciri Baytul Maqdis. Setelah Nabi saw. menjelaskan dengan lengkap lalu Abu Bakar berkata, “Engkau berkata benar. Aku bersaksi engkau adalah utusan Allah!”. Rasulullah saw. menjawab, “Engkau Abu Bakar adalah ash-shiddîq (yang selalu membenarkan)!”
Sikap Abu Bakar ash-Shiddiq menunjukkan pribadi mukmin yang teguh imannya di tengah arus opini yang hendak merusak keyakinan umat Islam terhadap Rasulullah saw. dan ajaran Islam. Sikap seperti inilah yang selayaknya diteladani oleh kaum muslimin pada hari ini. Tidak goyah keimanannya saat kaum kuffar mencoba menghasut dan menyebarkan provokasi yang menyesatkan. Sedikitpun tidak ada keraguan.
Maka amat kontradiktif dengan kondisi hari ini dimana ajaran Islam justru diragukan oleh sebagian kaum muslimin. Malah bermunculan intelektual, politisi, atau bahkan orang yang disebut ulama yang justru menebarkan keraguan terhadap kebenaran ajaran Islam, bahkan mendiskreditkan agamanya sendiri. Bila dulu kaum musyrik Quraisy yang melakukan provokasi untuk meruntuhkan keimanan kaum muslimin, sekarang justru sebagian tokoh Islam sendiri yang melakukan hal itu.
Bukan sekedar mempropagandakan pemikiran yang destruktif terhadap ajaran Islam, tapi mereka juga mendiskreditkan Islam dan kelompok-kelompok yang ingin menegakkan syariat Islam terus dilakukan. Sebutan ‘radikal’, ‘garis keras’, ‘fundamentalis’, hingga ‘terorisme’, disematkan bagi kelompok-kelompok yang konsisten memperjuangkan Islam.
Meragukan Islam; Menderita!
Allah SWT telah berfirman:
] وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى ءَامَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَاْلأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ[
Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (TQS. al-A'raf [7]: 96).
Allah SWT berjanji bahwa keberkahan dalam berbagai bentuknya akan diberikan kepada penduduk suatu negeri jika mereka beriman dan bertakwa yakni menerapkan syariah Islam secara total di tengah kehidupan mereka. Namun sebaliknya Allah SWT juga memperingatkan :
] وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا… [
Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit (TQS Thaha [20]: 124)
Imam Ibn Katsir dalam Tafsîr al-Qur’ân al-‘Azhîm menjelaskan, “yakni menyalahi perintah-Ku dan apa yang telah Aku turunkan kepad rasul-Ku, berpaling darinya, berpura-pura lupa terhadapnya dan mengambil selainnya sebagai petunjuk “maka baginya penghidupan yang sempit” yakni di dunia”.
Sikap istiqamah atau konsisten para sahabat dan kaum muslimin dahulu terhadap ajaran Islam membuahkan kejayaan. Pada masa Khulafaur Rasyidin misalnya, keberkahan telah mereka rasakan dengan amat luar biasa diantaranya dalam bentuk kemakmuran hidup. Di dalam ­al-Bidayah wa an-Nihayah diriwayatkan bahwa Khalifah Umar bin Khaththab ra. yakni negara Khilafah mampu memberikan santunan tunai kepada setiap warga negara Khilafah Islamiyyah, bahkan termasuk untuk bayi yang baru lahir. Itu semua adalah keberkahan dan kemakmuran yang dijanjikan Allah SWT. bagi penduduk negeri yang beriman lagi bertakwa.
Sebaliknya, manakala kaum muslimin meragukan apalagi meninggalkan ajaran Islam maka kesengsaraan pun menghantam kehidupan mereka. Kondisi inilah yang patut direnungkan oleh umat Islam di negeri ini saat ini. Negeri ini memiliki kekayaan alam yang berlimpah, ironisnya angka kemiskinan dan pengangguran masih tinggi. Masih ada sekitar 30 juta orang miskin. Sementara angka pengangguran terbuka ada 7,7 juta (2011) dan setengah penganggur 13,52 juta (2011). Juga masih ada jutaan anak mengalami gizi buruk di tengah masyarakat. Hutang negeri ini pun sangat besar, per akhir April 2012 mencapai Rp 1.903,21 triliun. Bila dihitung, setiap warga Indonesia termasuk bayi yang baru lahir harus menanggung hutang sebesar Rp 7,9 juta rupiah. Masyarakat juga makin sulit mendapatkan rasa aman. Beragam kejahatan mengancam termasuk pembunuhan.
Negeri ini sungguh telah diberi berbagai karunia dan kenikmatan oleh Allah SWT. Namun karunia itu belum membuahkan kemakmuran dan kehidupan yang sejahtera dan baik bagi seluruh rakyatnya. Tiada lain hal itu karena ditinggalkannya petunjuk Allah SWt dan syariah-Nya dan sebaliknya justru akidah sekulerisme dan sistem demokrasi dan kapitalisme diambil sebagai petunjuk dan jalan hidup. Kondisi ini tentu harus segera disudahi, supaya negeri ini tidak ditimpa perumpamaan yang dinyatakan oleh Allah SWt dalam firmannya:
] وَضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا قَرْيَةً كَانَتْ ءَامِنَةً مُطْمَئِنَّةً يَأْتِيهَا رِزْقُهَا رَغَدًا مِنْ كُلِّ مَكَانٍ فَكَفَرَتْ بِأَنْعُمِ اللَّهِ فَأَذَاقَهَا اللَّهُ لِبَاسَ الْجُوعِ وَالْخَوْفِ بِمَا كَانُوا يَصْنَعُونَ (112) وَلَقَدْ جَاءَهُمْ رَسُولٌ مِنْهُمْ فَكَذَّبُوهُ فَأَخَذَهُمُ الْعَذَابُ وَهُمْ ظَالِمُونَ [
Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezkinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah; karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka seorang rasul dari mereka sendiri, tetapi mereka mendustakannya; karena itu mereka dimusnahkan azab dan mereka adalah orang-orang yang zalim. (TQS. an-Nahl [16]: 112-113).
Wahai kaum muslimin!
Saat peristiwa Isra’ Mi’raj Abu Bakar digelari oleh Rasul saw sebagia ash-shiddîqdikarenakan pembenaran dan keyakinannya terhadap berita Isra’ Mi’rajnya Rasul saw. Saat ini sikap serupa sikpa Abu Bakar ra. itulah yang harus kita tunjukkan. Sesungguhnya Rasul saw telah memberitakan kepada kita dalam sabda Beliau:
« ثُمَّ تَكُوْنُ خِلاَفَةٌ عَلَى مِنْهَجِ النُّبُوَّةِ ثُمَّ سَكَتَ »
Kemudian akan ada kembali Khilafah yang mengikuti manhaj kenabian, kemudian beliau diam (HR Ahmad)
Menyikapi berita dan janji Rasul saw tersebut, sehingga kita akan menjadi “ash-shiddîq” abad ini, maka yang harus kita lakukan adalah membenarkan dan mempercayai berita dan janji Rasul saw itu serta gigih memperjuangkannya agar terwujud secara riil. Dengan itu pula keimanan dan ketakwaan penduduk negeri ini bisa diwujudkan sehingga semoa keberkahan akan diturunkan oleh Allah dari angit dan bumi. Kpaan lagi hal itu kita wujudkan jika tidak sekarang? Wallâh a’lam bi ash-shawâb. []
Komentar:
Direktur Jenderal Pengelolaan Utang Kementerian Keuangan Rahmat Walujanto mengatakan, tahun ini pemerintah berencana menambah utang hingga Rp 134 triliun. Utang tersebut digunakan untuk menutupi defisit anggaran. (republika.co.id, 11/6/2012)
  1. Negeri ini makin dalam terjebak dalam jerat utang. Jumlah utang per April 2012 tlah mencapai Rp 1.903,21 triliun. Sehingga tiap orang dari rakyat termasuk bayi baru lahir harus menanggung utang Rp 7,96 juta.
  2. Padahal selama tahun 2000-2011 negeri ini sudah membayar utang pokok dan bunganya total mencapai Rp 1.845 triliun tapi utang justru makin bertumpuk. Ironinya masih ada 30,2 juta orang miskin; 7,7 juta penganggur (2011), 13,52 juta (2011) setengah penganggur dan jutaan anak menderita gizi buruk
  3. Sebabnya tidak lain akibat penerapan sistem sekuler demokrasi kapitalisme. Karena itu harus dicampakkan secepatnya.
Read More

Minggu, 13 Mei 2012

Liberalisme Agama & Budaya; Strategi Penjajah Hancurkan Islam, Merusak Bangsa


[Al Islam 606] Kaum liberalis terus berupaya menghancurkan umat dan merusak bangsa ini. Dalam kerangka hukum, diajukanlah RUU Kesetaraan dan Keadilan Gender (RUU KKG). Sebagaimana pernah dibahas dalam buletin ini, RUU KKG mengandung muatan yang bertentangan dengan syariat Islam, menyuarakan kebebasan perilaku dan ekspresi seksual, dan bisa merusak tatanan institusi keluarga dan masyarakat.
Ditengah proses itu yang terus berjalan, seruan liberalisme digaungkan kaum liberalis dengan mengundang Irshad Manji, tokoh liberalis penyeru homoseksual dan lesbian. Terang-terangan ia mengaku seorang lesbian dan memperjuangkan kaum gay. Ia juga menghujat dan melecehkan ajaran Islam.
Serangan liberalisme budaya dan agama itu juga makin deras dialirkan melalui dunia hiburan dengan rencana konser penyanyi kontroversial Lady Gaga. Artis ini bukan saja terkenal karena penampilannya yang vulgar, tapi juga karena lagu-lagunya yang cabul dan mengajak pendengarnya melakukan penyimpangan seksual seperti homoseksual.
Liberalisme Budaya & Agama - Strategi Penjajah
Seruan penegakkan syariat dan khilafah makin bergema di negeri ini. Sambutan berbagai kalangan umat pun makin menguat. Hal itu tidak disukai oleh penjajah karena akan mengancam hegemoninya. Hal itu juga tidak disukai oleh orang-orang liberal. Sebab akan mengancam kepentingan mereka. Untuk menghambat kebangkitan Islam itu di tengah umat, maka mereka pun menjalankan strategi liberalisasai agama dan budaya di negeri ini dan tentu saja menjadikan umat Isam sebagai sasarannya.
Strategi liberalisasi untuk mengacak-acak dan menghancurkan umat Islam dilakukan melalui setidaknya tiga cara. Pertama, adalah membangun kerangka hukum yang liberal. Diantara upaya ini adalah diajukannya RUU KKG yang sedang dibahas di DPR RI. Dalam RUU tersebut terkandung muatan yang bertentangan dengan syariat Islam dan berpotensi merusak tatanan sosial serta keluarga muslim. Muatan RUU KKG itu akan merusak syariah Islam khususnya diantaranya yang terkait kewajiban menutup aurat, pernikahan, peran wanita sebagai isteri dan ibu, kepemimpinan laki-laki, peran pencari nafkah, dsb. Perbedaan peran dan tanggungjawab laki-laki dan perempuan menurut syariah akan dihilangkan dan harus disetarakan dengan dalih keadilan dan kesetaraan jender. Selain itu, RUU tersebut juga menyerukan kebebasan tiap orang (khususnya perempuan) untuk berperilaku dan mengekspesikan diri secara seksual. RUU ini ingin memformat umat untuk menerima persamaan jender dan peran jender yang bisa dipertukarkan. Pada akhirnya ini adalah bagian dari pendahuluan agar umat menerima ekspresi transjender.
Kedua, kaum liberalis juga terus berusaha membongkar pemikiran Islam dan sebaliknya menyerukan ide liberalisme. Disinilah konteks kedatangan Irshad Manji ke negeri ini. Manji berani menyatakan bahwa di dalam al-Quran terdapat ayat-ayat setan yang lalu diubah oleh Rasulullah. “Banyak yang tidak tahu bahwa para filsof Muslim selama ratusan tahun telah berbicara mengenai ‘ayat-ayat setan’, di mana Nabi menerima ayat-ayat Quran yang kemudian beliau sadari lebih memuja para berhala ketimbang Tuhan. Nabi lalu menghapus ayat-ayat tersebut - beliau mengedit Quran.“(http://islamlib.com/id/artikel/irshad-manji-saya-seorang-pluralis-bukan-relativis)
Ucapan Manji itu jelas merupakan kelancangan yang kiranya hanya dilakukan oleh kaum kafir. Ucapan itu hanyalah cermin ketidakpercayaan kepada al-Quran yang merupakan wahyu dari Allah SWT yang Allah jamin bebas dari campur tangan siapapun termasuk Rasulullah saw.
وَلَوْ تَقَوَّلَ عَلَيْنَا بَعْضَ الْأَقَاوِيلِ ﴿٤٤﴾ لَأَخَذْنَا مِنْهُ بِالْيَمِينِ ﴿٤٥﴾ ثُمَّ لَقَطَعْنَا مِنْهُ الْوَتِينَ ﴿٤٦﴾ فَمَا مِنكُم مِّنْ أَحَدٍ عَنْهُ حَاجِزِينَ ﴿٤٧﴾ وَإِنَّهُ لَتَذْكِرَةٌ لِّلْمُتَّقِينَ ﴿٤٨﴾ وَإِنَّا لَنَعْلَمُ أَنَّ مِنكُم مُّكَذِّبِينَ ﴿٤٩﴾
“Seandainya dia (Muhammad) mengadakan sebagian perkataan atas (nama) Kami,niscaya benar-benar Kami pegang dia pada tangan kanannya, Kemudian benar-benar Kami potong urat tali jantungnya. Maka sekali-kali tidak ada seorangpun dari kamu yang dapat menghalangi (Kami), dari pemotongan urat nadi itu. Dan sesungguhnya Al Qur’an itu benar-benar suatu pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa. Dan sesungguhnya kami benar-benar mengetahui bahwa di antara kamu ada orang yang mendustakan (nya).” (QS. al-Haqqah [69]: 44-49)
Disamping itu, kedatangan Manji itu adalah untuk menyerukan kebebasan seksual dan jender. Kedatangannya itu adalah bagian dari pengkondisian agar ada pengakuan dan penerimaan terhadap perilaku transjender. KH Hasyim Muzadi mengatakan, “Umat Islam dan seluruh umat beragama di Indonesia harus mewaspadai karena gerakan tersebut merupakan conditioning (pengkondisian) untuk merintis pengesahan undang-undang perkawinan sejenis, laki-laki kawin dengan laki-laki dan perempuan dengan perempuan” (republika.co.id, 7/5).
Ketiga, agenda liberalisme di tanah air juga dilakukan melalui penyebaran budaya dan gaya hidup liberal. Gaya hidup hedonis yang mengusung kebebasan seksual ditunjukkan oleh Irshad Manji dan juga pesohor Lady Gaga.
Manji terang-terangan menyatakan dirinya sebagai seorang lesbian. Ia pun membela kaum gay. Ia berilusi bahwa kaum gay juga ciptaan Allah, dan ciptaan Allah itu sempurna. Maka jika ada yang menghujat kaum gay sama saja mengatakan bahwa Allah telah melakukan ‘kesalahan’ dalam proses penciptaan. Ia pun menampik realitas azab Allah terhada kaum nabi Luth as adalah karena perbuatan homoseksual mereka, karena menurutnya bisa jadi azab itu disebabkan faktor lain seperti tindak kekerasan seksual.
Pernyataan ini jelas permainan logika yang dangkal dan mengingkari al-Quran. Allah SWT sendiri menyatakan bahwa azab yang Allah timpakan kepada kaum nabi Luth as. disebabkan perbuatan keji mereka melakukan tindakan homoseksual (QS al-A’raf [7]: 80-81).
Gaya hidup liberal juga yang disebarkan melalui konser penyanyi Lady Gaga bulan depan. Melalui lirik lagu, video klip dan asesoris yang dikenakan, penyanyi asal Amerika ini menyatakan dukungannya terhadap penyimpangan seksual, termasuk penggunaan kekerasan dalam hubungan intim.
Karena itulah pemerintah Korea Selatan melarang remajanya untuk menonton konser Lady Gaga. Kelompok-kelompok Kristen Korea Selatan juga menentang kehadiran penyanyi tersebut. Namun ironisnya, di negeri muslim ini penguasa dan politisinya yang muslim justru tidak melarangnya. Bahkan fatwa yang mengharamkan konser Lady Gaga justru dicibir. Sekretaris Fraksi PKB DPR Hanif Dhakiri menyatakan kalau fatwa itu berlebihan. Ia berdalih pelarangan itu akan merugikan penyelenggara. “Lagi pula, Indonesia bukan negara Islam, jadi ukuran kepantasan umumnya pasti berbeda dengan negara Islam,” kata Hanif (seruu.com, 21/3).
Agenda-agenda liberalisme agama dan budaya itu harus diwaspadai. Sebab agenda liberalisme itu tidak lain ditujukan untuk menghancurkan Islam dan merusak umat. Ketika kaum Muslimin tidak lagi terikat dengan agamanya, budaya dan perilakunya liberal dan gaya hidupnya hedonis maka penjajahan yang ada di tengah umat ini tidak akan bisa dilenyapkan. Disinilah sebenarnya semua agenda liberalisasi agama dan budaya itu merupakan bagian dari strategi penjajah untuk melanggengkan penjajahannya.
Sikap Islami
Ajaran liberalisme jelas bertentangan dengan Islam dikarenakan semua amal perbuatan seorang muslim itu wajib terikat dengan perintah dan larangan Allah SWT. Aneh, bila ada orang yang mengaku muslim, mengakui Allah sebagai Rabbnya tapi tidak mau taat kepadaNya. Sama saja ia mengatakan, “Ya Allah, Engkau memang Tuhanku yang menciptakanku, tapi jangan coba-coba Engkau atur hidupku di dunia. Hidupku adalah hakku, bukan hakMu mengatur diriku!”.
Hal itu bertentangan dengan makna syahadat. Konsekuensi dari keimanan adalah taat pada Allah dan RasulNya. Bahkan Allah SWT berfirman:
فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا ﴿٦٥﴾
Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.(QS. an-Nisa’ [4]: 65).
Disamping itu, Allah telah menetapkan hukum-hukumNya keseluruhannya adalah demi kebaikan umat manusia, bukan untuk menyesengsarakan. Allah SWT berfirman:
مَا أَنزَلْنَا عَلَيْكَ الْقُرْآنَ لِتَشْقَىٰ ﴿٢﴾
Kami tidak menurunkan al-Quran ini kepadamu agar kamu menjadi susah (QS. Thaha [20]: 2).
Allah juga menegaskan bahwa Syariah Islam diturunkan tidak lain agar menjadi rahmat bagi umat manusia. Maka rahmat itu tidak akan terwujud dengan mengikuti ide-de liberalisme yang saat ini gencar diserukan kepada kaum muslimin. Rahmat itu hanya bisa terwujud dengan mengambil Islam dan menerapkannya secara riil di tengah kehidupan.
Wahai kaum muslimin!
Ide-ide liberalisme hanya akan menyengsarakan umat manusia. Sebaliknya hanya Islam yang memberikan kebaikan bagi umat manusia. Untuk mewujudkan kebaikan itu tidak ada jalan lain kecuali dengan menerapkan syariah Islam secara total dalam bingkai al-Khilafah ar-Rasyidah ‘ala minhaj an-nubuwwah. Inilah yang saat ini harus kita perjuangkan dengan penuh kesungguhan sebagai bukti keimanan kita dan bentuk tanggungjawab dan belas kasih kita kepada seluruh umat manusia. Wallâh a’lam bi ash-shawâb. []
Komentar:
Penelitian Wakil Ketua DPR Pramono Anung (PDIP) membuat kita semakin trenyuh dan risau. Ternyata DPR memang banyak dihuni para pekerja yang sekadar mencari nafkah, bukan tempat para idealis memperjuangkan kepentingan rakyat. (mediaindonesia.com, 8/5)
1.       Bukan hanya mencari nafkah, tapi yang lebih banyak lagi mencari dan menumpuk kekayaan. Wajar saja sebab sistem politiknya sistem politik sarat modal. Jadi ahrus cari kekayaan untuk baik modal dan mendapat keuntungan.
2.       Itulah sebagian bukti kebobrokan sistem politik demokrasi kapitalisme. Saatnya sistem itu dicampakkan.
3.       Terapkan Syariah Islam secara total, niscaya akan sangat banyak politisi yang idealis perjuangkan kepentingan rakyat.
Read More

Jumat, 23 Desember 2011

Refleksi Akhir Tahun 2011





[Al Islam 586] Tahun 2011 segera berlalu. Menilik catatan berbagai peristiwa yang terjadi dan kondisi riil kehidupan umat, terlihat jelas bahwa umat masih menderita disebabkan kapitalisme. Catatan berikut adalah sebagian kecil faktanya:
Rakyat Nganggur dan Miskin di Negeri Kaya
APBN-P 2011 sebesar Rp 1.321 triliun meningkat Rp 279 triliun. Namun, utang Pemerintah juga meningkat. Dari Statistik Utang Kemenkeu, per Oktober 2011 utang Pemerintah mencapai Rp 1.768 triliun. Maka 20% dari APBN (Rp 266,3 triliun ) pun habis hanya untuk membayar utang dan bunganya.
Diperkirakan, tahun 2011 angka pertumbuhan 6,5% dan PDB mencapai US$ 752 miliar. Menurut Majalah Forbes yang dirilis November lalu, dari jumlah itu 11 % atau US$ 85,1 miliar dimiliki hanya oleh 40 orang terkaya di negeri ini. Hal ini menunjukkan lebarnya kesenjangan dan buruknya distribusi kekayaan di negeri ini.
Di sisi lain, berdasarkan data BPS tahun 2011 terdapat 8,12 juta orang menganggur. Sementara data Kadin, justru ada tambahan 1,3 juta penganggur tiap tahun. Sebab tambahan lapangan kerja hanya 1,61 juta sementara tambahan tenaga kerja baru mencapai 2,91 juta orang (lihat, Republika, 15/12).
Angka kemiskinan pun tetap tinggi. Berdasarkan Data BPS tahun 2011 di negeri ini ada 30 juta orang miskin dengan standar kemiskinan yaitu pengeluarannya kurang dari 230 ribu/bulan. Jika ditambahkan dengan yang ‘hampir miskin’ (pengeluarannya Rp 233-280 ribu/bulan), jumlahnya menjadi 57 juta orang atau 24% dari penduduk negeri ini. Apalagi kalau menggunakan standar Bank Dunia (pengeluaran kurang dari US$ 2 per hari) maka ada lebih dari 100 juta orang miskin di negeri ini. Sungguh ironi.
Kekayaan alam begitu melimpah di negeri ini. Tapi sebagian besarnya dikuasai asing. Tentu hasilnya lebih banyak dinikmati asing. Contohnya, Freeport yang sudah bercokol 40 tahun di bumi Papua, antara tahun 2004 -2008 pendapatannya US$ 19,893 milyar (sekitar Rp 198 triliun). Sementara pemerintah selama 5 tahun itu hanya menerima Rp 41 triliun dalam bentuk pajak dan royalti.
Kenapa semua itu bisa terjadi? Kesenjangan, kemiskinan, pengangguran, penguasaan asing dan swasta atas kekayaan negeri dan sebagainya itu, tak lain akibat diterapkannya sistem kapitalisme di negeri ini.
Korupsi Makin Menjadi
Menurut survei Transparency International yang dilansir pada bulan Desember 2011, Indeks Persepsi Korupsi (IPK) negeri ini hanya 3.0 (skala 0 terkorup - 10 terbersih). Indonesia menempati rangking 100 dari 183 negara yang disurvei. Dalam 10 tahun ini, IPK Indonesia hanya naik 0,8. Artinya, pemberantasan korupsi 10 tahun ini tidak menunjukkan perubahan berarti.
Korupsi menjangkiti semua instansi dan lembaga, baik parpol, birokrasi, legislatif dan yudikatif. Kasus Nazarudin sang bendahara Parpol berkuasa, kasus korupsi di Kemenakertrans, korupsi wisma atlet SEA GAMES Palembang, mafia anggaran di DPR, banyaknya pegawai muda memiliki rekening bejibun, puluhan kepala daerah terjerat korupsi, jaksa dan hakim tertangkap korupsi dan menerima suap, dsb, secara nyata menjadi buktinya.
Akar penyebabnya tak lain adalah sistem politik yang berbiaya tinggi. Perlu modal besar untuk membiayai proses politiknya. Besarnya biaya itu tak sebanding dengan perolehan yang sah. Dari mana lagi menutupinya kalau bukan dengan korupsi, kolusi dan manipulasi? Itulah sistem politik demokrasi.
UU Represif dan Liberal
Tahun ini, rakyat dihadiahi UU Intelijen. UU ini berpotensi mengancam kebebasan dan hak-hak privasi rakyat. Banyaknya istilah, definisi dan pasal multi tafsir memungkinkan terjadinya penyalahgunaan wewenang demi kekuasaan. Adanya wewenang penyadapan, pemeriksaan rekening dan penggalian informasi berpotensi menjadi alat represif dan melanggar hak-hak privasi rakyat. Celakanya bagi orang yang merasa dilanggar hak dan privasinya oleh intelijen, tidak ada mekanisme untuk mengadu dan mendapatkan keadilan. Potensi lahirnya rezim represif itu makin besar dengan dibahasnya RUU Kamnas dan RUU Ormas yang senafas dengan UU Intelijen.
Disisi lain, UU BPJS dan UU Pengadaan Lahan untuk Pembangunan menambah daftar UU liberal yang menyengsarakan rakyat. UU BPJS dan UU SJSN dengan spirit neoliberal membenarkan negara berlepas tangan dari menjamin pemenuhan kebutuhan rakyat, khususnya kesehatan. Atas nama UU, beban itu dilimpahkan ke pundak rakyat. Rakyat wajib membiayai sendiri dan saling membiayai jaminan kesehatan melalui skema asuransi sosial. Dengan UU ini setiap rakyat diwajibkan menjadi peserta asuransi sosial dan wajib membayar premi. Maka yang pasti, beban di pundak rakyat makin berat. Seolah belum cukup beban dan penderitaan rakyat akibat berbagai UU bernafas liberal, DPR dan Pemerintah pun giat membahas RUU lainnya seperti RUU Pangan, RUU Perguruan Tinggi dan RUU lainnya. Semuanya kental dengan ideologi liberal yang mengancam rakyat.
Gejolak Papua
Gejolak di Papua diantaranya adalah dampak perebutan kekuasaan dalam Pilkada seperti yang terjadi di Kabupaten Puncak dan mengakibatkan 20 orang lebih tewas pada Juli silam. Gejolak juga terjadi berkaitan dengan keberadaan PT Freeport Indonesia (PTFI). Terjadi pemogokan karyawan PTFI dan berujung bentrokan dengan aparat menewaskan dua orang pada Oktober silam. Gejolak lainnya terkait separatisme untuk memisahkan Papua.
Sementara itu, kekerasan lain yang terus terjadi di Papua adalah rangkaian penembakan yang diduga dilakukan oleh OPM. Rangkaian penembakan itu telah menjadi teror tersendiri dan memakan korban tewas 12 orang termasuk Kapolsek Mulia. Ironisnya, meski sudah berupa teror dan menimbulkan korban tewas, semua itu tidak pernah disebut dan ditindak seperti terorisme. Mereka dianggap sebagai pelaku kriminal biasa. Lebih parah lagi sebagian besar pelakunya belum tertangkap.
Ironi Deradikalisasi
Salah satu proyek yang dengan sangat semangat dilakukan pemerintah adalah deradikalisi. Didukung anggaran yang meningkat menjadi lebih dari Rp 400 milyar, proyek deradikalisasi ini menjadikan Islam dan umat Islam sebagai target utama. Diantara kriteria radikal yang digunakan adalah mereka yang memperjuangkan formalisasi syariat Islam dalam negara dan mereka yang menggangap Amerika Serikat sebagai biang kezaliman global. Syariah Islam justru dianggap ancaman. Itulah ironi negeri yang mayoritas penduduknya muslim ini. Muslim yang menentang penjajahan brutal Amerika pun dianggap musuh.
Pemerintah dalam proyek ini banyak mengadopsi rekomendasi lembaga kajian asing seperti Rand Corporation. Menurut lembaga kajian asal Amerika ini, deradikalisasi adalah proses memoderatkan keyakinan seseorang (Rand Corporation, 2010, Deradicalizing Islamist Extremist, hal. 5). Maka deradikalisasi itu adalah upaya membuat kaum muslim menjadi liberal, moderat, pluralis, menerima sekulerisme dan kapitalisme serta tidak anti AS dan Barat. Tentu saja yang dirugikan adalah umat Islam. Sebaliknya itu akan melanggengkan penjajahan dan menguntungkan asing terutama AS.
KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
Pertama, Setiap sistem yang tidak bersumber dari Allah SWT, Zat Maha Tahu, pasti akan menimbulkan kerusakan dan akhirnya tumbang. Rapuhnya kapitalisme dengan berbagai bentuk kerusakan dan segala dampak ikutan yang ditimbulkannya berupa kemiskinan dan kesenjangan kaya miskin serta ketidakstabilan ekonomi dan politik, seperti yang saat ini terjadi di berbagai belahan dunia adalah bukti nyata. Kenyataan ini semestinya menyadarkan kita semua untuk bersegera kembali kepada jalan yang benar, yakni jalan yang diridhai oleh Allah SWT, dan meninggalkan semua bentuk sistem dan ideologi kufur. Allah SWT berfirman:
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
Telah nampak kerusakan di darat dan di laut karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (QS ar-Rum [30]: 41)
Kedua, Sekuat apapun sebuah rezim yang otoriter, korup, menindas rakyat dan durhaka kepada Allah SWT, meski telah dijaga dengan kekuatan senjata dan didukung oleh negara adidaya, cepat atau lambat pasti akan tumbang dan tersungkur secara tidak terhormat. Jatuhnya Ben Ali, Mubarak, Qaddafi, Ali Abdullah Saleh dan mungkin segera menyusul penguasa Suria Bashar Assad, serta penguasa lalim di negara lain, adalah bukti nyata. Kenyataan ini semestinya memberikan peringatan kepada penguasa dimanapun untuk menjalankan kekuasaannya dengan benar, penuh amanah demi tegaknya kebenaran, bukan demi memperturutkan nafsu serakah kekuasaan dan kesetiaan pada negara penjajah. Pembuatan berbagai UU yang bakal membungkam aspirasi rakyat, seperti UU Intelijen atau RUU Kamnas dan yang serupa di negeri ini, mungkin sesaat akan berjalan efektif, tapi cepat atau lambat itu semua justru akan memukul balik penguasa itu sendiri.
Ketiga, Oleh karena itu, bila kita ingin sungguh-sungguh lepas dari berbagai persoalan yang tengah membelit negeri ini, maka kita harus memilih sistem yang baik dan pemimpin yang amanah. Sistem yang baik hanya mungkin datang dari Dzat yang Maha Baik, itulah syariah Allah dan pemimpin yang amanah adalah yang mau tunduk pada sistem yang baik itu. Di sinilah esensi seruan “Selamatkan Indonesia dengan Syariah” yang gencar diserukan oleh Hizbut Tahrir Indonesia. Karena hanya dengan sistem berdasar syariah dengan menegakkan Khilafah yang dipimpin oleh orang amanah (Khalifah) saja Indonesia benar-benar bisa menjadi baik. Wallâh a’lam bi ash-shawâb. []
Komentar
Studi Bank Dunia: Kelas menengah yaitu mereka yang pengeluarannya US$ 2-20 per hari 56,5% dari 237 juta penduduk Indonesia atau sekitar 134 juta orang. Namun dari jumlah itu, yang masuk kategori belanja US$ 6 - 20 per hari hanya 14 juta orang. Lainnya, tidak mandiri dan rentan menjadi miskin (lihat, Kompas, 20/12).
  1. Artinya, kelas menengah yang benar-benar kaya hanya 14 juta orang (5,6 % dari penduduk Indonesia). Sementara 120 juta orang (50,6% dari penduduk Indonesia) tidak mandiri dan rentan menjadi miskin. Di luar itu, lebih dari 100 juta orang (atau sekitar 45 % penduduk Indonesia) terkategori miskin menurut standar Bank Dunia.
  2. Itulah prestasi sistem kapitalisme: kesenjangan yang lebar, distribusi kekayaan yang tak adil, memiskinkan mayoritas rakyat dan sebaliknya menumpuk kekayaan pada sebagian sangat kecil dari rakyat.
  3. Terapkan Sistem Ekonomi Islam, niscaya kesenjangan menyempit dan hampir hilang, kekayaan terdistribusi secara adil. Kesejahteraan dan kemakmuran bisa dirasakan oleh semua.
Read More