Tampilkan postingan dengan label SOSOK. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SOSOK. Tampilkan semua postingan

Jumat, 15 Januari 2010

Sebuah Wawancara : Mengapa Thufail Al Ghifari menolak wawancara media asing.

Awalnya adalah kehadiran Thufail Al Ghifari bersama Ombat Tengkorak dalam wawancara rubrik inspirasi di Majalah Islam Sabili EDISI NO.13 / THN XVII COVER : Dengan Headline 2010 PROGRAM MENGHANCURKAN NEGERI ISLAM dan Topik Pembahasan : 'UNDERGROUND PUN MENGGEMPUR ZIONIS'.

Wawancara Majalah Sabili ini telah membuat redaksi Sabili menerima banyak reaksi baik via telp ataupun email. Tiba - tiba pada Kamis, 14 Januari 2010. Dua orang wanita asing hadir di majalah Sabili untuk mencari tahu siapa sosok Ombat Nasution dan Thufail Al Ghifari.Mereka berulang - ulang kali mondar mandir Majalah Sabili untuk mencari tahu cara mengontak dan mewawancara Kedua tokoh musisi ini.

Sore hari, menurut konfirmasi managemen The Roots Of Madinah, Thufail Al Ghifari menerima sms dari seorang sahabatnya di Majalah Sabili. Yang memberitahukan mengenai kehadiran dua orang dari media asing itu, sekaligus juga menanyakan kesediaan Thufail Al Ghifari untuk bertemu.

Namun Thufail Al Ghifari secara pribadi menolak untuk diwawancarai oleh kedua orang asing itu. Salah satu alasannya kata thufail al ghifari

"Ntar tunggu tembok blokade Israel di Jalur Gaza Di Hancurkan Sendiri Oleh Negara Israel Baru gw mau di wawancara sama makhluk makhluk yahudi itu" Begitu jawab Thufail sederhana.



Berikut wawancara sederhana dan singkat kami dengan Thufail Al Ghifari mengenai hal ini :

Berandalan Puritan (BP): Halo, Assalammualaikum...apa kabar Thufail ?

Thufail Al Ghifari (TAG):
Walaikumsalam, alhamdulillah baik..

BP: Sedang sibuk apa sekarang?

TAG :
Sibuk kerja, ngurus keluarga, ngeband, sholat, nongkrong, baca buku, ah banyaklah..

BP : Benar anda menolak tawaran wawancara dengan media luar negeri?

TAG :
sebenarnya belum bisa dipastikan mereka itu mau wawancara atau tidak. Tapi memang sepertinya dari Media. Sejak liputan dan wawancara Sabili dengan gue dan Bang Ombat. Memang banyak reaksi dan sorotan terhadap artikel yang dibuat oleh Adhes Satria tersebut. Dan gue sendiri bingung kalau sampai dua bule itu sampai segitunya..ya biasa aja sih gue nanggepinnya..

BP :
Apa alasan anda menolak permintaan interview mereka?

TAG : ini lebih kepada gue emang ngak mau sembarangan terima tawaran media, sebelumnya ada orang mengatasnamakan TRANS TV juga ngontak gue, minta wawancara masalah nasyidlah, musik perlawananlah dan sebagainya. tapi gue males nanggepinnya..karena semua itu ngak berefek apa - apa ke dalam tujuan dan harapan perubahan yang menjadi cita - cita dari movemen gue dan kawan - kawan gue.

BP : Tapikan anda sendiri disisi lain menerima permintaan Sabili untuk wawancara? bukankah majalah Sabili juga media?

TAG : gue ngak dibayar sepeserpun sama Sabili, dan gue mau diwawancara sama Sabili murni karena rasa respek gue ke Bang Herry Nurdi dan Adhes Satria yang memang udah gue kenal dan paham ketulusan perjuangan mereka insya Alloh. kalau ngak ada mereka di Sabili maka gue akan pernah mau di wawancara lagi di majalah itu.

BP : Kenapa begitu?

TAG : gmana ya..agak ngejelimet jelasinnya. Gue paham media islam, mereka berjuangnya juga empot empotan. Gue pernah jadi kepala keuangan disebuah penerbit buku, setiap tanggal 20-an tiap bulan pasti direktur gue udah mulai pusing mikirin persiapan gajian karyawan. Begitupun dengan majalah majalah dan koran koran Islam. Sebenarnya yang gue paham dari pengalaman gue. Media Islam itu juga empot empotan dalam membiayai keberlangsungan hidup mereka..bisa dibilang hidup segan mati tak mau.

Gue paham Sabili, walau ada beberapa orang yang gue sendiri mempertanyakan keberadaan mereka di dalamnya. Tapi gue pikir daripada gue hadir di majalah majalah musik ngak jelas juntrungannya, dan akhirnya harus bikin komunitas dan penikmat musik gue beli majalah yang harganya bisa sampai 30.000 sampai 50.000 ribu rupiah padahal isinya ngak berbobot sama sekali, cuma modal cetakan reparasi doang, mending gue biasain orang kenal majalah majalah Islam. Gue juga selektif untuk nerima permintaan wawancara. Buat gue wawancara di Sabili itu murni sinergitas kepentingan. dan Saling menguntungkan baik buat pihak Sabili maupun buat kepentingan gue dan komunitas gue. Hingga saat ini saya tidak merasa dirugikan.

BP : Terus bukankah dengan diwawancara media asing itu akan memberikan keuntungan juga? seperti dengan membuat komunitas anda lebih dikenal luas?

TAG : nah itu yang ngak penting! saya sudah bilang saya selektif. Kalau Sabili saya paham internalnya minimal sosok Herry Nurdi dan kawan - kawan. Jadi saya punya jaminan ini bukan eksploitasi buta. Sedangkan untuk media lain saya perlu bargaining. Kalau media asing mau wawancara saya apa tujuannya? kalau tujuannya untuk bikin saya tenar? walah...itu mah udah butut! Saya tidak butuh mereka, tapi mereka yang butuh saya untuk jadi bahan berita. Minimal untuk cari informasi mengenai saya dan kawan - kawan saya...sorry ngak semudah itu.

BP : apa selamanya kalian akan menolak wawancara dengan media media seperti itu?

TAG :
selama tidak menguntungkan saya dan kawan - kawan saya, ya tidak akan pernah.

BP :
Menguntungkan dalam hal apa maksudnya?

TAG : Banyak, bisa propaganda, publisitas bahkan finansial. contoh di Sabili, saya mengambil kesempatan itu, karena pertimbangan sudah waktunya Berandalan Puritan sedikit mengeluarkan taringnya. Dan disisi lain saya bisa mendongkrak penjualan Sabili di Edisi tersebut minimal ngalahin media media sampah lainnya. itu baru salah satu hal yang menguntungkan..toh dengan larisnya majalah Sabili di Edisi tersebut itu akan membantu kelancaran finansial dan Alhamdulillah bisa gajian lebih cepat deh saudara muslim gue di Sabili hahahahahaha....

Nah kalau medianya yang gue ngak kenal, gue ngak paham, murni cuma manfaatin gue jadi komoditas berita. wah disini gue bicara keuntungan finansial...hahaha..

BP :
Maksudnya keuntungan Finansial?

TAG : Ya iyalah..kalau mau bicara popularitas? wah gue ngak butuh mereka..jadi kalau mereka ngejar ngejar gue buat wawancara itu namanya mereka butuh gue. Berarti mereka harus bayar gue...pakai duit! bukan pakai jabat tangan doang..

BP : Kok jadi komersil begitu?

TAG : ini bukan komersil, ini masalah sama - sama menguntungkan. Contoh seperti dua orang bule yang mondar mandir majalah Sabili tadi. Apa coba kepentingan dia nyariin gue? bisa jadi dia bilang mau wawancara, tapi kalau ternyata cuma mau ngorek ngorek ngak jelas siapa dan bagaimana gue kan bisa aja.

Gue juga belajar dari wawancara Bang Ombat Tengkorak di Film Dokumenter GLOBAL METAL. Wawancara Ombat yang sebegitu panjangnya ternyata pas udah jadi Film cuma diambil sepotong sepotong. Akhirnya Pesan yang ingin disampaikan Ombat tentang Zionisme di film itu jadi mentah dan malah bikin salah paham. Atau mungkin yahudi yang wawancara Bang Ombat udah terlanjut panas duluan kali ya..hahahaha...

Jadi ngak salah dong, kalau ada media siapapun dia yang mau wawancara gue, terus gue minta bayaran contoh seperti dua bule tadi. ya minimal dia harus bayar gue 25 juta untuk 15 menit wawancara. jadi kalau satu jam dia bayar gue 100 juta. Buat gue itu fair, toh gue juga jadi komoditas bisnis merekakan? gue jadi bahan berita yang bisa mereka jual. karena mereka ngak boleh dapetin bahan itu gratis..mereka harus bayar! hahahaha...seperti pesan Abdullah Azzam..Jihad membutuhkan dana!

lumayankan..30 Juta buat bikin acara metal, 10 juta modal bisnis gue, 10 juta buat bantuin bayar hutang temen temen dekat, 50 juta buat kirim ke Palestina buat modal HAMAS dan JIHAD ISLAM bikin bom dan roket buat lawan Israel. hahahahaha....kalau wawancara gratisan gue dah males...ngak nafsu lagi gue...hahahahaha

BP : Di Dalam wawancara Sabili itu disebutkan nama band GunXRose? bukankah GunXRose itu band anti media? apakah GunXrose sudah berubah?

TAG :
itu tanya langsung ke GunXRose. Tapi yang saya pahami, GunXrose tidak pernah diwawancara oleh Sabili dan media manapun. Kalau memang nama mereka disebutkan itu murni hasil investigasi tim Sabili di lapangan. GunXRose is Rules! mereka tidak berubah!...Mereka Icon Berandalan Puritan!

BP :
oke kalau begitu thanks buat wawancaranya om. wassalamualaikum

TAG : Sama - sama..walaikumsalam...

sumber
Read More

Senin, 07 Desember 2009

Ismail Saul Yenu (Mantan Kepala Pendeta): Islam adalah Kemajuan

H Ismail Saul Yenu
(Mualaf, Kepala Suku Besar Serui, dan Mantan Kepala Pendeta)

Missionaris tidak membangun peradaban baru, justru mempertahankan budaya terbelakang.

Hidayah datang tak mengenal umur. Itulah yang saya alami. Saat usia menginjak angka 68 tahun, Allah membuka pintu hati saya untuk masuk Islam. Padahal bertahun-tahun, saya adalah seorang pendeta, malah saya adalah ketua pendeta di Manokwari. Saya sekaligus adalah Kepala Suku Besar Serui.

Saya terlahir dengan nama Saul Yenu. Saya adalah manusia tiga zaman. Saya merasakan hidup di zaman Belanda, Jepang, dan kemerdekaan. Saya lahir 28 Oktober 1934. Karena itu saya pernah merasakan perih getirnya perjuangan. Saat itu saya sebagai pejuang pembebesan Irian Jaya.

Ternyata setelah kemerdekaan, penduduk Irian Jaya bukannya tambah berbudaya. Mereka tetap saja dalam ketertinggalan. Mereka tetap telanjang. Padahal di sana banyak berkeliaran para misionaris. Kekayaan alam yang dimiliki Irian Jaya ternyata tak memberi dampak kemajuan kepada penduduknya.

Ini saya lihat berbeda dengan kalangan Muslim. Kebetulan saya bergaul dengan baik dengan kaum Muslim di Irian Jaya, terutama ABRI (sekarang TNI) yang sering mengadakan kegiatan ABRI masuk desa pada dasawarsa 70-80-an. Mereka semua berpakaian. Mereka pun membangunkan rumah-rumah gratis bagi warga Irian. Begitu senangnya saya dengan mereka hingga saya pun dengan senang hati sering memberi bantuan kepada mereka. Kebetulan saat itu saya bekerja di Departemen Pekerjaan Umum.

Pergaulan intensif saya dengan orang-orang Muslim itu sedikit demi sedikit menimbulkan kekaguman pada diri saya. Mereka selalu membersihkan diri setiap hari minimal lima kali sehari. Mereka pun selalu shalat. ”Wah, jangan-jangan karena mereka sembahyang terus tiap hari, bumi ini menjadi berkah,” pikir saya.

Ini sangat berbeda dengan kebiasaan kami. Kami hanya ke gereja seminggu sekali. Itu pun tidak wajib. Berarti doa hanya sekali seminggu. Itu pun banyak di antara jemaaht gereja masih dalam keadaan habis minum bir dan minuman keras lainnya. ”Bagaimana doa bisa diterima kalau mabuk,” pikir saya.

Tapi itulah, kenyataaannya. Suatu saat saya berpikir: ”Kalau Kristen terus, berarti ini melanjutkan zaman Belanda. Masyarakat tidak akan pernah maju.” Soalnya, memang Belanda-lah yang membawa misi Kristen di Irian Jaya pertama kali. Dan hingga kini, misionaris tidak membangun peradaban baru. Justru mereka ingin mempertahankan budaya Irian yang sebenarnya terbelakang.

Pergaulan saya dengan orang-orang Muslim mengantarkan saya pada sebuah kesimpulan bahwa Islam identik dengan kemajuan. Dan inilah yang saya lihat sendiri. Orang-orang Muslim justru mengajak kami menggunakan pakaian. Belakangan saya baru tahu bahwa ada kewajiban bagi setiap Muslim menutup aurat.

Begitu eratnya hubungan saya dengan kaum Muslim ini hingga kalangan Kristen di Manokwari menyebut saya pendeta Krimus, alias Kristen Muslim. Saya bilang kepada mereka: ”Janganlah mengatakan seperti itu, nanti malah bisa menjadi Muslim betulan.”

Kekaguman saya atas perilaku kaum Muslim itulah yang membuat tekad saya kian kuat untuk memeluk Islam. Saya yakin: Islam adalah kemajuan. Pelajaran kependetaan yang saya jalani di Gereja Tabernakel tak mampu mencegah keinginan saya memenuhi panggilan Allah.


Jalan Berliku

Ternyata tak mudah masuk Islam. Mungkin karena saya adalah kepala pendeta dan kepala suku besar. Hingga suatu saat ketika saya menyampaikan niat saya kepada seorang kepala KUA di Manokwari, dia menolak. Sepertinya dia tak berani mengislamkan saya.

Tapi niat hati ini tak bisa dibendung. Saya akhirnya memutuskan pergi ke Jakarta demi niat tersebut. Saya dibantu oleh saudara Khairudin, kenalan saya yang bekerja di Angkatan Laut. Saya kemudian diantar ke Condet, menghadap seorang ulama di sana. Di situ saya mengucapkan syahadat. Saya pun mengubah nama menjadi Ismail Saul Yenu.

Untuk lebih meyakinkan lagi, saya dibawa ke Masjid Al Azhar di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Saat itu bulan Februari 2002. Keislaman saya disahkan di masjid besar itu. ”Alhamdulillah.” Setelah itu, saya pun disunat. Saya dibawa ke Bandung. Dalam kondisi sudah tua seperti ini saya harus sunat bersama anak-anak. Memang agak malu, tapi harus bagaimana lagi.

Masuk Islam saya ternyata sampai juga ke Irian Jaya, Belanda, dan Jerman. Mereka gempar. Jelas mereka tak terima langkah saya, apalagi saya punya posisi yang penting di Manokwari khususnya Suku Besar Serui.

Karena itu saya memutuskan untuk tidak langsung pulang. Saya ingin tinggal di Jakarta terlebih dahulu, sekalian belajar Islam. Kebetulan saat itu adalah musim haji. Saya ingin sekali naik haji. Berkat bantuan teman-teman di Jakarta, akhirnya saya dibantu Pak Amien Rais untuk menunaikan haji. Dalam kondisi masih diperban, saya berangkat haji bersama rombongan Aisyiyah.

Sepulang dari haji, saya diminta tak langsung pulang ke Irian. Tapi saya tetap nekad. Saya yakin Allah akan selalu menyertai kita. Saya yang sejak haji mengenakan gamis panjang dan topi haji, berangkat naik kapal Pelni. Banyak liku-liku di perjalanan, termasuk ketika kapal dilarang merapat di Ambon karena ada konflik. Saya nekad meminta kapal dibolehkan sandar. Kapal pun sandar.

Ketika kapal Ciremai sampai di Manokwari, saya justru disambut. Tidak hanya kalangan Islam tapi juga Kristen. Saya diterima secara adat dengan cara melewati kain slopang sepanjang 40 meter berwarna biru tua. Ini adalah simbol kematian. Tapi di atas kain itu ditaruh 100 piring yang menandakan kebangkitan. Ini artinya, sebagai pendeta sudah mati dan bangkit lagi sebagai haji.

Sejak itu saya berusaha menyampaikan Islam kepada siapapun. Baik kepada keluarga maupun saya datang langsung ke gereja. Saya selalu bilang kepada mereka: ”Saya datang untuk sampaikan firman Allah yang sebenarnya.”

Memang baru hal-hal ringan yang saya sampaikan seperti tidak boleh mabuk, harus selalu bersih dan suci. Saya juga menyampaikan bahwa Islam tidaklah seperti yang digambarkan oleh para misionaris sebagai agama yang harus dibenci. Islam adalah agama yang baik yang mengajarkan manusia untuk berbudaya luhur, tidak telanjang seperti sekarang. ”Ajaran yang demikian baik, seharusnya bisa diterima,” kata saya dalam setiap pertemuan.

Paling tidak hingga kini sudah ada 50 orang yang masuk Islam. Alhamdulillah. Sebanyak 20 di antaranya sudah naik haji. Keluarga pun beberapa mengikuti jejak saya. Anak saya yang berjumlah 37 orang, tujuh di antaranya sudah masuk Islam. Istri saya empat orang, dua di antaranya pun sudah jadi mualaf. Alhamdulillah. Saya akan terus berusaha agar penduduk Irian terbebas dari keterbelakangannya dengan cara mengajak mereka masuk Islam.

Berbagai bantuan kini sedang saya kumpulkan, terutama adalah pakaian. Saya ingin mereka berpakaian, menutup aurat. Itulah salah satu ajaran Islam.[] diolah oleh mujiyanto dari hasil wawancara

sumber

Read More

Sabtu, 17 Oktober 2009

Ibn Juljul, Sang Ahli Herbal Dari Cordoba

Abu Da'ud Sulayman bin Hassan atau yang dikenal dengan panggilan Ibn Juljul lahir di Cordoba, Spanyol pada tahun 944. Sejak kecil dia sangat tertarik dengan ilmu pengetahuan dan banyak menghabiskan waktu untuk belajar.

Pada usia 10 tahun, dia sudah belajar tentang tata bahasa dan tradisi masyarakatnya. Lalu pada usia 15 tahun, dia mulai mempelajari ilmu kedokteran. Padahal pada zaman modern ini, ilmu kedokteran baru dipelajari di bangku kuliah.

Pengalaman memelajari ilmu kedokteran pada usia sangat dini, membuat Ibn Juljul, pada usia yang relatif muda sudah sangat terampil dalam ilmu kedokteran dan pengunaan obat-obatan herbal. Menurut catatan sejarah yang dikutip Muslimheritage.com , dia pernah bekerja sebagai dokter pribadi Al-Mu'ayyad Billah Hisyam, seorang Kalifah yang berkuasa pada tahun 977-1009 Masehi. Selama masa pemerintahan Kalifah Al-Mu'ayyad, Ibn Juljul banyak menghabiskan waktu untuk mempraktekkan keahlian medisnya dan menulis karya-karya medis.

Ketertarikan Ibn Juljul dengan obat-obatan terutama herbal sebagai obat alami yang banyak diekstrak dari tumbuh-tumbuhan luar biasa besar. Selain mempelajari pengobatan herbal, dia juga mempelajari farmasi.

Saat mempelajari pengobatan dia banyak berbagi dan berlatih dengan Albucasis atau Abu al-Qasim Khalaf bin Abbas Al-Zahrawi. Albucasis sendiri merupakan seorang dokter bedah di Cordoba, Spanyol yang menemukan penyakit hemofilia di mana bila penderita mengalami luka, darahnya sulit membeku dan terus mengalir. Albucasis juga menuliskan buku yang sangat populer di dunia kedokteran berjudul At-Tasrif liman 'Ajiza 'an at-Ta'lif (Metode Pengobatan).

Baik Ibn Juljul dan Albucasis bekerja dan menulis selama hari-hari terakhir masa kekalifahan di Andalusia ( Spanyol). Menurut catatan seorang ahli sejarah kedokteran yang terkenal di Bagdad yakni Bin Abi Usaybi'a, Ibn Juljul menulis sebuah buku sejarah pengobatan yang berjudul Atibba'wa'l Tabaqat al-Hukama.

Menurut Bin Abi, buku tersebut telah diedit beberapa kali. Buku tersebut dimulai dengan tulisan riwayat ayah Ibn Juljul yang juga ahli obat-obatan. Setelah itu dilanjutkan uraian tentang para ahli obat-obatan yang sangat terkenal sebagai para pendahulunya di Andalusia.

Dia juga menuliskan tentang banyaknya hubungan maupun komunikasi yang baik antara kekalifahan Timur dan Andalusia. Selain itu dia juga menceritakan tentang banyaknya para mahasiswa yang melakukan perjalanan untuk mencari ilmu pengetahuan dan melakukan banyak pelatihan.

Ibn Juljul mempelajari ilmu pengobatan herbal yang dilakukan oleh Pedanius Dioscorides, seorang dokter Yunani kuno, ahli farmasi dan ahli botani. Dioscorides sering bepergian guna mencari bahan-bahan jamu dari seluruh wilayah Romawi dan Yunani. Dia juga menulis lima jilid buku dalam bahasa Yunani asli. Salah satu bukunya yang terkenal berjudul De Materia Medica (Masalah-masalah yang berhubungan dengan medis).

Berdasarkan ajaran dalam buku milik Dioscorides, Ibn Juljul membuat sebuah karya berjudul Maqalah. Dalam karyanya itu dia menuliskan berbagai macam tumbuhan yang penting bagi obat-obatan termasuk sifat tumbuh-tumbuhan tersebut. Dia juga menuliskan efek dari penggunaan tumbuh-tumbuhan tersebut bagi organ tubuh tertentu.

Tumbuh-tumbuhan untuk herbal yang ditulisnya sebanyak 28 jenis, berasal dari India atau tempat-tempat yang ia singgahi dalam perjalanannya melalui rute perdagangan India, 2 dari Yaman, 2 dari Mesir , 1 dari Ceylan, 1 dari Khwarizm, 2 dari kota yang dekat dengan Cordoba. Dalam Maqalah, Ibn Juljul kadang-kadang menuliskan nama orang yang pertama kali menggunakan tumbuhan tersebut untuk pengobatan atau orang yang menceritakan fungsi dan efek penggunaan tumbuhan tersebut.

Ibn Juljul juga pernah membahas tentang batu Bezoar yang dapat digunakan untuk melawan semua racun. Batu tersebut memiliki warna yang kekuning-kuningan dengan garis-garis putih.

Tak hanya itu, dia juga pernah membahas Ribas. Dia menuturkan bahwa menurut salah seorang pedagang kepercayaannya, ribas merupakan sejenis sayuran yang rasanya masam. Ribas dengan akar sangat masam dapat diperoleh di pegunungan yang tertutup dengan salju. Meskipun daftar pengobatan Ibn Juljul memiliki cerita yang eksotis, namun semuanya mengandung elemen medis.

Rupanya karya herbal Ibn Juljul banyak dipelajari oleh para ilmuwan lain. Beberapa ilmuwan lain yang mempelajari metode pengobatan Ibn Juljul diantaranya seorang ahli botani yang bernama Al-Ghafiqi. Dia mengoleksi beragam jenis tumbuh-tumbuhan yang diperolehnya baik dari wilayah Spanyol maupun Afrika. Selain itu, dia juga membuat catatan yang menggambarkan secara detil tentang jenis-jenis tumbuhan dikoleksinya itu. Bahkan seorang ahli sejarah dari Barat yang bernama George Sarton mengatakan, Al Ghafiqi merupakan ahli botani paling cerdas pada masanya.

Deskripsi tentang tumbuh-tumbuhan yang dibuat Al-Ghafiqi diakui sebagai karya yang paling membanggakan yang pernah dibuat seorang Muslim. Pasalnya karya fenomenal Al-Ghafiqi yang judulnya Al-Adwiyah al-Mufradah memberikan inspirasi kepada Ibnu Baytar untuk meneliti tumbuh-tumbuhan dengan cara sederhana seperti yang dilakukan Al-Ghafiqi.

Abdullah Ibnu Ahmad Ibnu Al-Baitar, salah satu ahli Botani sekaligus ahli obat-obatan di Spanyol pada abad pertengahan, juga mengutip empat belas obat-obatan herbal milik Ibn Juljul. Padahal Al-Baitar pun merupakan ahli botani hebat. Dia mengoleksi dan mencatat 1.400 jenis tanaman obat yang diperolehnya saat menjelajahi daerah pesisir Mediteranian dari Spanyol ke Suriah. Salah satu karya Al-Baitar yang paling termasyhur berjudul Al-Mughani-fi al Adwiyah al Mufradah.

Para ahli botani dan medis berjumlah banyak yang mengutip karya Ibnu Juljul menunjukkan bahwa karya Ibn Juljul tentang pengobatan herbal teruji oleh waktu. Selain teruji, karya-karya ia sangat berguna dan bernilai bagi para cendekiawan dan praktisi herbalis baik di wilayahnya sendiri, Andalusia maupun di luar negeri seperti di Maroko

Ibn Juljul menggunakan dan menghormati karya-karya herbal kuno dari Yunani. Namun dia membuat pengembangannya sendiri, bahkan yang sebelumnya tidak pernah ada di Yunani. Kontribusi terhadap dunia medis sangat berharga bagi penggunaan tanaman obat selanjutnya, bahkan di dunia modern ini.(rpb)

sumber
Read More

Minggu, 23 Agustus 2009

Evliya Celebi, Petualang Muslim Tangguh Di Era Turki Usmani

April 1640, Evliya mulai melakukan perjalanan pertamanya keluar dari kota Istanbul. Dia pergi menuju Bursa atau Pursa, sebuah kota di Barat Laut Turki bersama sahabatnya.

Hampir seluruh belahan dunia telah dijelajahinya. Selama 40 tahun, Evliya Celebi melanglang buana ke berbagai penjuru dunia. Tak heran, jika Evliya ditabalkan sebagai petualang hebat dari Kekhalifahan Turki Usmani. Hasil petualangannya ke berbagai negara itu dituliskannya dalam sebuah buku perjalanan berjudul Seyahatname.

Evliya terlahir pada 25 Maret 1611 di Istanbul, Turki. Ayahnya adalah tukang emas yang mengabdikan diri untuk seorang penguasa Turki Usmani bernama Dervis Mehmed Zilli. Meski Evliya terlahir di Istanbul, kedua orangtuanya berasal dari Kutahya.

Dedikasi sang ayah untuk Kekhalifahan Turki Usmani membuat Evliya bisa mengenyam pendidikan yang sangat baik, dari kecil hingga remaja. Setamat sekolah dasar, di Kekhalifahan Turki Usmani, Evliya lalu melanjutkan studinya ke madrasah, yaitu sekolah yang berbasis pendidikan Islam selama tujuh tahun.

Di sela-sela masa studinya di madrasah, Evliya biasa membantu ayahnya bekerja di bengkel kerajinannya. Di tempat tersebut, sang ayah mengajarkannya berbagai macam keterampilan dan kesenian Turki, seperti, tezhip ( cara mendekorasi sampul buku dengan lukisan dan sepuhan emas), khat (cara menulis indah serta nakis (seni mendekorasi tembok dan langit-langit ruangan).

Evliya memiliki semangat belajar yang sangat tinggi. Ia mau belajar dari siapapun. Evliya belajar bahasa Yunani dari pekerja yang magang di bengkel kerajinan ayahnya. Empat tahun kemudian, Evliya belajar di Enderun, yakni, tempat belajar dan training bagi orang-orang yang akan bekerja di Kekhalifahan Turki Usmani.

Begitu lulus dari Enderun, Evliya menjadi pengawal Kaisar Murad IV pada 1636 dengan bantuan pamannya Melek Ahmed Pasa. Sejak kecil, Evliya terobsesi untuk berpetualang dan melakukan perjalanan jauh. Pasalnya ayahnya selalu bercerita tentang petualangannya yang menakjubkan selama melakukan perjalanan dan melayani para sultan, termasuk Sulaiman yang Agung.

Suatu ketika, Evliya bermimpi bertemu dengan Nabi SAW, dalam sebuah kumpulan jamaah yang sangat banyak di Masjid Ahi Celebidi Istambul. Ia sangat senang bisa bertemu dengan Nabi. Mimpi itu juga yang semakin membuatnya bersemangat untuk segera melakukan petualangan.

Bahkan, dia memilih hidup dengan berbagai macam petualangan. Evliya berobsesi juga menulis dan menceritakan berbagai macam hal yang akan dilihat dan ditemuinya dalam perjalanan panjangnya. Setelah bermimpi bertemu Nabi SAW, Evliya meminta nasihat kepada seorang Syeikh yang terkenal tentang keinginannya yang menggebu-gebu untuk segera melakukan perjalanan.

Syeikh tersebut menyarankannya untuk memulai perjalanan di sekitar kota Istanbul terlebih dulu. Setelah mendapatkan petuah yang cu kup, Evliya memulai perjalanannya yang pertama kali di sekitar Istanbul. Dia menulis dan menceritakan berbagai macam objek yang dia lihat dan datangi seperti berbagai macam bangunan, pasar, tokotoko, musik, literatur, festival, aga ma, serta adat-istiadat, serta kebudayaan.

Baru pada April 1640, dia mulai melakukan perjalanan pertamanya keluar dari kota Istanbul. Dia pergi menuju Bursa atau Pursa, sebuah kota di Barat Laut Turki bersama sahabatnya. Setelah melakukan petualangan ke kota itu, semangatnya untuk melakukan perjalanan panjang di seluruh kekuasaan Turki Usmani dan luar negeri kian menggebu.

Evliya terkadang menemani para petinggi kekaisaran menuju daerah-daerah pedesaan yang terpencil, kadang melakukan perjalanan dengan misi yang ditugaskan dari Sultan, dan kadang juga ikut melakukan peperangan. Setelah melakukan perjalanan ke Izmit, Evliya pergi ke Trabzon di sebuah pantai di Laut Hitam menemani Ketenci Omer Pasa yang akan bertemu dengan Gubernur Izmit. Selama tinggal di Izmit, dia menyaksikan kegagalan tentara Turki Usmani menaklukan Kastil Azov.

Setelah itu, dia pindah ke Crimea dan menghabiskan musim dingin di tempat tersebut. Evliya baru kembali ke Istanbul, setelah Turki Usmani berhasil menaklukan Kastil Azov. Pada 1645, dia bersama tentara Turki Usmani menaklukan Pulau Kreta dan kembali ke Istanbul untuk beristirahat selama empat tahun.

Lalu dia mulai melakukan perjalanan lagi menuju Anatolia, mengunjungi Azerbaijan dan Georgia, bersama tentara Turki Usmani menaklukan para pemimpin lokal wilayah tersebut. Dia juga melakukan perjalanan ke Gumushane, sebuah provinsi di timur laut Turki.

Setelah menghabiskan musim dingin di Erzurum, Evliya ditugasi mengantarkan pesan kepada pemberontak Vardar Ali Pasa oleh penguasa Turki Usmani untuk membuat perjanjian damai. Ketika mengantarkan pesan tersebut, Evliya tersesat akibat badai salju yang hebat. Untunglah dia, bisa menemui sejumlah pemimpin pemberontak lainnya.

Pengalaman itu dikisahkannya dalam sebuah catatan tentang pemberontakan Vardar Ali Pasa secara komprehensif. Antara 1648-1650, Evliya melakukan perjalanan ke Damaskus. Dari perjalanan ini, dia melakukan eksplorasi lebih dalam mengenai negara Suriah dan Palestina. Lalu dia kembali ke Istanbul. Ia lalu menemani pamannya, Melek Ahmed Pasa untuk bertemu dengan perdana menteri.

Evliya paham betul berbabai intrik politik yang tengah terjadi di Kekhalifahan Turki Usmani. Selama menemani perdana menteri, Evliya memiliki kesempatan mengunjungi Balkan antara 1651-1653. Sekembalinya dari Balkan, dia mengunjungi Anatolia bagian timur dan Iran. Dia menghabiskan waktu dengan Sekte Yezidis yang percaya bahwa Ali adalah Tuhan dalam bentuk manusia. Dia mengetahui banyak informasi mengenai sekte sesat tersebut.

Setelah itu, dia melakukan perjalanan lagi dengan pamannya Melek Ahmed Pasa menuju Bosnia. Lalu, pada1660, dia mengikuti ekspedisi yang dipimpin oleh Kose Ali Pasa. Selama ekspedisi tersebut, dia melakukan eksplorasi ke Albania, Bohemia dan wilayah sekitarnya.

Setelah menghabiskan musim dingin di Belgrade, dia kembali ke Istanbul. Lalu dia bergabung dengan pasukan Fazil Ahmed Pasa menyerang Austria. Selama masa ekspedisi, Evliya juga mengunjungi Swedia dan Belanda. Kemudian dia kembali lagi ke Balkan untuk mengunjungi Edirne, Komotini dan Salonika.

Ia lalu melanjutkan perjalanannya ke Pulau Kreta di Yunani. Ia menyaksikan kehebatan tentara Turki Usmani. Setelah itu, ia mengunjungi pantai Adriatik melalui Albania dan kembali ke Istanbul pada 1670.

Merasa berdosa karena belum pernah menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci, Makkah, Evliya kembali ke Istanbul untuk mempersiapkan perjalanannya yang terakhir. Dia menuju Makkah melalui bagian barat Anatolia, kemudian melewati Scio dan Rhodes, melewati selatan Anatolia dan bergabung dengan jamaah haji di Suriah. Ia pun berhasil menunaikan rukun Islam ke lima itu.

Seusai menunaikan ibadah haji di Makkah, dia menuju Mesir melalui terusan Suez bersama jamaah haji Mesir. Kemudian menuju Sudan dan Ethiopia, ia tinggal di sana cukup lama. Namun tidak ada catatan sejarah di mana sang petualang menghembuskan nafas terakhirnya.

Ada dua perkiraan, yakni di Mesir atau di Istanbul. Meski begitu, kiprah dan dedikasinya sebagai seorang petualang Muslim di zaman kejayaan Turki Usmani hingga kini masih tetap dikenang.


SEYAHATNAME Kisah Perjalanan Sang Petualang

Seyahatname berarti sebuah buku perjalanan. Ini merupakan karya besar Evliya Celebi. Dalam buku tersebut, dia menuliskan dan menceritakan berbagai macam pengalamannya. Seyahatname terdiri dari 10 volume yang menggambarkan secara detail beragam pengalaman yang dialami Evliya diwilayahwilayah yang dikunjunginya.

Dia menuliskan tentang komunitas , gaya hidup, bahasa, maupun budaya orang-orang di wilayah tersebut. Buku tersebut merupakan catatan yang komprehensif untuk menggambarkan kehidupan pada abad ke-17 M. Evliya mampu menggambarkan objek-objek yang dilihatnya secara mendetail dan menarik.

Selain itu, Evliya menuliskan bukunya dengan cara sederhana, sehingga mudah dipahami orang awam. Dia tidak khawatir dengan kesalahan tata bahasa, asalkan yang membacanya paham.

Seyahatnamesangat baik dalam menggambarkan hubungan Kekhalifahan Turki Usmani dengan negara-negara lain. Buku tersebut, merupakan sumber informasi yang berharga pasalnya buku tersebut mencakup pengetahuan tentang budaya, sejarah, geografi, cerita rakyat, bahasa, sosiologi, arsitektur, dan ekonomi.

Evliya tidak hanya menuliskan apa yang dia lihat dan dengar saja. Tetapi, dia juga berusaha menggambarkan kemajuan umat manusia di setiap bidang pada masa itu. Dia menuliskan tentang berbagai macam bangunan-bangunan penting seperti kerajaan, kastil, benteng, maupun masjid.

Dia juga menuliskan biografi orang-orang yang penting dan terkenal, karakter bangsa di setiap wilayah yang dikunjungi, juga kepercayaankepercayaan mereka. Buku Seyahatnamevolume I hingga VIII diterbitkan pada 1896-1928 dalam bahasa Arab.

Sedangkan volume IX dan X Seyahatnamedipublikasikann pada 1935-1938 dalam bahasa Latin. Seyahatnamejuga dialihbahasakan ke bahasa Inggris, Jerman, Prancis, Rusia, Hungaria, Romania, Bulgaria, Serbia, Yunani, Armenia dan bahasa-bahasa asing lainnya. Ada sebuah rumor bahwa Evliya juga membuat buku keduanya yang berjudul Sakaname.

Namun buku tersebut hingga saat ini belum ditemukan keberadaannya. Evliya juga menuliskan sejumlah kata-kata asli dari setiap wilayah yang dia kunjungi selama melakukan perjalanan. Dia juga menuliskan 30 dialek bahasa Turki dan 30 katalog bahasa asing lainnya di buku Seyahatname.

Dia sempat menuliskan persamaan antara bahasa Persia dengan bahasa Jerman. Dalam buku tersebut dia mendeskripsikan berbagai macam bahasa Kaukasia, Tsakonian, Kudish, dan Ubykh.(rpb) www.suaramedia.com

Download
Read More

Jumat, 31 Juli 2009

Sosok : Jerry D. Gray

Sejak kecil sampai sebelum pergi ke Arab, saya tidak pernah bertemu Muslim, mendengar suara adzan atau pun melihat masjid. Meskipun demikian saya berkeyakinan bahwa Yesus bukan anak Tuhan. Pada usia 12 tahun saya sudah berpikir tentang Tuhan. Umur 14, sudah mulai malas ke gereja.

Saya malas pergi ke sana karena tempat itu tidak dapat menghilangkan dahaga saya tentang Tuhan. Saya bosan setiap kali datang selalu disuguhi dengan banyak ucapan haleluya. Padahal yang saya butuhkan adalah pencerahan siapa itu Tuhan dan kejelasan misi hidup saya di dunia ini untuk apa.

Saya percaya adanya Tuhan dan mau masuk surganya Tuhan. Tapi dari agama ini saya mencium something wrong karena saya harus meyakini Yesus sebagai anak Tuhan. Untung saja nenek di rumah sering banyak cerita tentang Tuhan, sehingga saya lebih suka mendengarkan nenek. Selama saya belajar agama kepadanya, ia tidak pernah bilang bahwa Yesus adalah anak Tuhan. Namun sebaliknya, di gereja saya selalu disalahkan, karena tidak mau mengakui Yesus sebagai anak Tuhan.

Kalau Yesus menjadi anak Tuhan, mengapa Musa, Ibrahim dan Adam tidak menjadi anak Tuhan? Padahal, kalau mau, justru Adamlah yang paling berhak menjadi anak Tuhan karena dia tidak punya ibu dan bapak. Keyakinan saya bertambah setelah membaca kisah Musa yang memaksa ingin melihat Tuhan.

Musa akhirnya dibolehkan melihat sedikit cahaya Tuhan dari gunung granit yang sangat gelap. Baru saja merefleksikan sedikit cahaya Tuhan, langsung gunung itu goyang-goyang dan sangat menyilaukan, Musa pun pingsan. Berdasarkan kisah itu, kalau benar Yesus anak Tuhan, pasti orang yang melihat Yesus bakal mati atau pingsan. Ini kan tidak, berarti Yesus bukanlah anak Tuhan!


Hampir Nangis

Saya selalu berdoa agar saya diberi petunjuk yang benar tentang Tuhan. Usai mengikuti wajib militer di angkatan udara, saya ditawari menjadi maintenance pesawat pribadi Raja Fadh di Jeddah, Arab Saudi. Saya tolak karena saya takut dibunuh orang Islam. Lebih baik saya menganggur.

Saya tinggal di dalam mobil di ujung satu dermaga di Hawaii. Setiap hari mancing. Bila dapat ikan, saya makan, bila tidak saya kelaparan. Paling hanya minum dari kran air putih yang ada di situ.

Enam bulan begitu terus. Pernah tiga hari berturut-turut saya tidak makan sama sekali, hanya minum saja karena tidak dapat ikan. Tapi saya tidak mau bunuh diri. Saya menangis, memohon, agar Tuhan memberikan jalan keluar.

Namun tawaran tersebut datang lagi. Saya mengira Tuhan telah marah kepada saya. Karena saya tidak mendapatkan pekerjaan lain, malah disuruh ke Arab. Akhirnya teman memberikan saran kepada saya untuk menerima tawaran itu. Saya pun berangkat ke sana.

Di Jeddah saya melihat kejadian-kejadian yang sangat luar biasa, yang sangat berbeda dengan bayangan saya sebelumnya. Ternyata orang Islam begitu taat kepada Tuhannya dan baik kepada saya. Ketika mendengar adzan mereka langsung meninggalkan aktivitasnya untuk segera shalat.

Begitu juga ketika saya ke toko emas. Saya dengar adzan. Pintu toko emas terbuka. Padahal di toko tersebut tidak ada orang. Siapa pun yang berniat mencuri emas, akan sangat mudah mengambilnya. Tapi kok ini dibiarkan? Saya berdiri saja di depan toko itu menunggu penjual emas muncul.

Setelah adzan, jalanan mendadak sepi dari lalu lalang manusia. Penjaga keamanan tidak ada. Paling sekali-kali saya melihat polisi menegur beberapa orang yang sedang lewat untuk segera shalat.

Tak lama kemudian, pemilik toko itu datang dan berkata “Mengapa tidak masuk?” Saya jawab, “Tidak mau”. “Kenapa tidak mau?” tanyanya. “Saya takut disangka maling, nanti tangan saya dipotong,” jawab saya karena setahu saya orang yang mencuri tangannya akan dipotong. Biasanya orang bule yang datang ke Jeddah diundang untuk menyaksikan pemotongan tangan bagi pencuri setiap Jum'at siang.

“Masuk saja, karena semua ini adalah Allah yang punya, bukan punya saya,” kata pemilik toko itu. “Apa pun, kamu perlu, ambil! Mungkin kamu lebih membutuhkan itu daripada saya?” lanjutnya. Ia mengatakan bahwa semua itu milik Allah dan akan kembali kepada Allah.

Saya terharu dan mau menangis mendengar ucapan yang tulus itu. Saya sangat ingin punya iman seperti itu. Dengar adzan dia shalat. Orang mau mengambil atau tidak mengambil hartanya, dia tidak ada masalah. Yang penting ketika Allah menyuruh shalat dia berangkat shalat dan semua hartanya itu dia pasrahkan kepada Allah.


Masuk Akal

Peristiwa itu membuat saya jadi tertarik untuk mengetahui agama Islam lebih lanjut. Saya jadi banyak diskusi tentang Islam. Termasuk dengan Ahmad, salah seorang anggota Angkatan Udara Arab Saudi. Saya diberinya Alquran dengan terjemah bahasa Inggris.

Ia tunjukkan ayat yang menyatakan Isa anak Maryam adalah hamba dan utusan Allah, bukan anak Allah. Ahmad menyebut Isa itu adalah nama lain dari Yesus, sedangkan Maryam sebutan lain dari Bunda Maria.

Kurang lebih tiga ayat saya baca. Saya tidak kuat lagi meneruskan membacanya, karena saya mau menangis. Saya tidak mau menangis di depan orang. Saya sangat yakin, inilah jawaban dari Tuhan. Rupanya saya disuruh ke Jeddah itu bukan karena Tuhan marah, tapi karena Tuhan mengabulkan doa saya.

Kemudian temannya Ahmad, yang bernama Rosyid datang ke rumah. Dia memberi tahu bahwa di salah satu masjid di Jeddah malam itu dimulai lagi sekolah Islam yang menggunakan bahasa Inggris.

“Kalau kamu ingin tahu lebih banyak tentang Islam datanglah ke masjid tersebut, nanti saya antar,” kata Rosyid. Di sekolah itu terjadilah diskusi. Hati saya berdecak kagum. Luar biasa, pintar sekali guru ini. Semua yang dia katakan masuk akal. Argumennya begitu spiritually and lightening.

Dia mengatakan bahwa Tuhan itu satu bukan tiga, semua adalah ciptaan Tuhan dan bergantung kepada Tuhan. Tuhan tidak beranak tidak pula punya orangtua. Tidak ada yang dapat menyerupai Tuhan. Serta manusia hidup di dunia ini untuk mengabdi kepada Tuhan saja. Belum satu jam pun diskusi, sebenarnya hati saya sudah menerima Islam. Hanya saja saya belum mau menyatakan pada guru.

Malam itu saya tidak bisa tidur. Terus merenungkan ucapan guru. Akhirnya di hari ketiga saya putuskan masuk Islam. Saya ucapkan dua kalimat syahadat. Setelah itu guru berdiri dan cium pipi kanan kiri saya. Guru mengajak semua orang yang ada di situ antre untuk cipika-cipiki saya. Saya kaget mendapat perlakuan itu. Kemudian saya mengerti bahwa itu adalah ungkapan senang luar biasa dari sesama Muslim.[] joko prasetyo


Biodata

Nama : Jerry Duane Gray
Lahir : 24 Sept 1960 di Wiesbaden, Jerman. Umur 3 tahun pindah ke Amerika
Pendidikan : Insinyur Penerbangan Universitas Hawaii, Amerika.
Mualaf : Masuk Islam dan naik haji (1984)
Istri : Ratna Komala (orang Garut)
Anak : Adam Kusuma Gray (8 tahun)

Pengalaman Kerja
1978-1982 : Angkatan Udara Amerika Serikat.
1982-1984 : Maintenance pesawat pribadi Raja Fadh di Jeddah, Arab Saudi.
1978-1984 : Mendapat 30 ijazah menyelam dan instruktur selam internasional.
1985-kini : Pindah ke Jakarta. Wartawan lepas, membuat foto/video pemandangan bawah laut, dan penulis buku (Deadly Mist).


Sumber

Read More