Tampilkan postingan dengan label HTI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label HTI. Tampilkan semua postingan

Jumat, 15 Juli 2011

Seruan Hangat Hizbut Tahrir Indonesia


Pada kesempatan yang mulia ini, kami kembali mengingatkan kepada seluruh kaum Muslim tentang kewajiban menegakkan Daulah Khilafah. Sungguh, kewajiban ini telah dijelaskan oleh para ulama terdahulu dalam berbagai kitab mu’tabar. Bahkan sebagaimana ditegaskan oleh Imam al-Qurthubi dalam tafsirnya, al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur‘ân, tidak ada perbedaan pendapat dari kalangan umat maupun ulama mengenai kewajiban mengangkat khalifah, kecuali al-‘Asham. Dinamakan al-Asham (orang yang tuli) karena tuli dari syariah. Demikian pula orang yang sependapat dengannya dan mengikuti pendapat dan mazhabnya.
Allah SWT telah menjadikan agama ini sebagai dîn kâmil, agama yang sempurna. Banyak hukum syariah yang tidak bisa dijalankan kecuali dengan adanya Khilafah. Di antaranya adalah hukum-hukum dalam hudud dan jinayat, jihad futûhât, persatuan umat dalam kesatuan negara, pengelolaan kepemilikan umum; juga berbagai hukum tentang sistem pemerintahan, ekonomi, pendidikan, pergaulan, dan politik luar negeri. Semua hukum tersebut membutuhkan kehadiran Daulah Khilafah. Oleh karena itu, tatkala Daulah Khilafah tidak ada seperti saat ini, maka semua hukum tersebut dipastikan terlantar dan terabaikan. Jika kita tidak ingin disebut sebagai orang yang menelantarkan syariah, maka tidak ada pilihan kecuali kita turut berjuang menegakkan Khilafah. 
Marilah kita berkaca kepada para Sahabat Nabi radhiyal-Lâh ‘anhum. Ketika mendengar Rasulullah saw. wafat para Sahabat yang mulia segera menyibukkan diri di Saqifah Bani Saidah, mencari pengganti Nabi saw. sebagai kepala negara. Bahkan mereka lebih mendahulukan urusan tersebut daripada mengurus dan memakamkan jenazah Rasulullah saw. Padahal siapa pun tahu, mengurus dan memakamkan jenazah termasuk perkara yang harus disegerakan. Itu menunjukkan bahwa pengangkatan khalifah merupakan perkara amat penting dan mendesak untuk disegerakan pelaksanaannya. Jika demikian, mengapa masih ada di antara kaum muslim yang menunda-nunda untuk berjuang bersama menegakkan Khilafah? 
Berapa lama kita dibolehkan hidup tanpa khalifah? Syariah hanya memberikan tenggang waktu tiga hari tiga malam bagi kita untuk hidup tanpa khalifah. Ketetapan ini didasarkan Ijmak Sahabat. Tahun 1342 H yang lalu Khilafah diruntuhkan oleh penjahat Kemal beserta kafir penjajah. Artinya, telah 90 tahun umat ini hidup tanpa Khilafah. Perkara ini termasuk qadhâ’ al-fardh, meng-qadha kewajiban. Karena qadha’, maka kita wajib benar-benar mengerahkan segenap kemampuan untuk berjuang menegakkan Khilafah.

Daulah Khilafah bukan sekadar Nizhâm al-Hukm sistem pemerintahan. Daulah Khilafah juga berfungsi sebagai al-hâris li al-‘aqîdah (penjaga bagi akidah), munaffidz asy-syarî’ah (pelaksana syariah), muqîm ad-dîn ý(penegak agama), muwahhid al-muslimîn (penyatu seluruh kaum muslimin) dan al-hâmi li bilâd al-muslimîn (penjaga negeri-negeri kaum Muslim), darah, harta, dan cita-cita mereka. 
Hizbut Tahrir sejak kelahirannya terus berjuang menegakkan Khilafah. Untuk membangun kehidupan Islam dalam naungan Daulah Islamiyah, Hizbut Tahrir semata-mata hanya mengikuti jalan Rasulullah saw. Beliau melakukan tatsqîf (pembinaan) untuk menggembleng kader-kader dakwah. Beliau juga melakukan tafâ’ul ma’a al-ummah (berinteraksi dengan umat) untuk membangun kesadaran dan opini umum tentang Islam di tengah-tengah umat hingga mereka merindukan tegaknya Islam. 
Hizbut Tahrir juga melakukan dakwah fikriyyah (pemikiran) dan siyâsiyyah (politik). Hizbut Tahrir tidak menempuh jalan kekerasan (lâ mâdiyyah). Semua ini demi meneladani thariqah dakwah Rasulullah saw. Semua aktivitas itu dilakukan di tengah-tengah umat, bersama umat, ditujukan kepada umat, dan untuk kemulian umat ini. 
Sungguh, ini adalah perjuangan yang amat mulia di hadapan Allah SWT. Mengenai besarnya pahala amal siyâsî, aktivitas politik, kita bisa menyimak sabda Rasulullah saw. ini:
لَغَدْوَةٌ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ أَوْ رَوْحَةٌ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيْهَا
Berangkat di pagi hari atau di sore hari untuk (jihad) fi sabilillah lebih baik daripada dunia dan isinya (HR al-Bukhari, Muslim, at-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad).

Jika aktivitas jihad demikian tinggi derajatnya di hadapan Allah, maka betapa tinggi dan mulianya menyampaikan dakwah kepada penguasa yang zalim, muhâsabah li al-hukkâm (mengontrol para penguasa) yang merupakan salah satu aktivitas politik . Rasulullah saw. Bersabda:
إِنَّ أَفْضَلُ الْجِهَادُ كَلِمَةُ حَقٍّ عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِرٍ
Sesungguhnya jihad yang paling mulia adalah kalimat yang benar yang diucapkan didepan penguasa yang zalim (HR Ahmad).

Dalam menegakkan Daulah, Rasulullah saw. telah menyeru para pemimpin kabilah di sekitar Makkah dan Madinah. Seruan itu akhirnya disambut oleh para pemimpin kabilah Aus dan Khazraj di Madinah. Mereka menyerahkan kekuasaan kepada Rasulullah saw. hingga berdirilah Daulah Islamiyah yang pertama. Inilah tharîqah (metode) dakwah Rasulullah dalam mengambil-alih kekuasaan, yakni dengan thalab al-nushrah (meminta pertolongan) kepada Ahl al-Quwwah. 

Metode ini pula yang diadopsi Hizbut Tahrir. Maka dari itu, seruan paling hangat juga kami sampaikan kepada Ahl al-Quwwah, para jenderal dan perwira militer Muslim. Jadilah Saudara sebagai kaum Anshar abad 15 Hijrah sebagaimana kaum Anshar pada zaman Rasulullah saw! Ambillah kekuasaan dan satukan tangan saudara dengan tangan Hizbut Tahrir untuk mengumumkan Khilafah yang mengikuti manhaj Kenabian.
Tidakkah saudara rindu mendapatkan kehormatan dan kemuliaan seperti yang diperoleh kaum Anshar? Semua itu disebabkan oleh nushrah (pertolongan) yang diberikan oleh Saad kepada Rasulullah saw. hingga tegak Daulah Islamiyyah yang pertama. Sungguh, ’Arasy ar-Rahman telah bergetar karena kematian pemimpin Anshar, Saad bin Muadz ra. Nabi saw. bersabda:
اِهْتَزَّ عَرْشُ الرَّحْمَنِ لِمَوْتِ سَعْدِ بْنِ مُعَاذٍ
‘Arasy ar-Rahman bergetar karena kematian Saad bin Muadz (HR al-Bukhari dari Jabir ra).

Akhirul kalam
, semoga seruan hangat ini benar-benar dapat menggugah kesadaran seluruh kaum Mulim untuk meraih kemuliannya kembali; juga dapat membulatkan tekad, menguatkan niat dan mengobarkan semangat untuk berjuang bersama Hizbut Tahrir menegakkan Daulah Khilafah. Sungguh, hari demi hari, perjuangan ini terus menunjukkan peningkatan yang mengagumkan. Kita memohon kepada Allah SWT agar segera menurunkan pertolongan-Nya dengan tegaknya al-Khilâfah al-Râsyidah al-tsâniyyah. Amîn, ya Mujîb al-sâilîn. []
Read More

Selasa, 20 Juli 2010

Menyedihkan! Festival Tari Dan Nyanyi Diizinkan, Sementara Kegiatan Mengenang Runtuhnya Khilafah Dilarang!

Hari demi hari, rakyat Palestina semakin melihat kebobrokan fakta dan isi dari proyek nasional yang diklainnya, serta fakta Otoritas yang menyerukannya. Mengingat tidak ada hari yang berlalu tanpa sekandal demi skandal dan keburukan demi keburukan yang dimainkan oleh Otoritas. Mulai dengan skandal para pemimpin mereka hingga dengan kebijakan mereka; mulai dari pencurian uang hingga kerjasama tokohnya dengan pendudukan zionis, dan hingga kenakalan remajanya; bahkan hingga skandal kebijakan menjual-belikan tanah Isra’ dan Mi’raj serta melayani keamanan pendudukan zionis, dan sampai pada penjagaan terhadap perbuatan rendah dan hina, seperti festival tari dan nyanyi, kontes kecantikan dan fashion show, yang disebutnya sebagai budaya bangsa?!

Namun tidak jauh dari waktu dimana Otoritas Palestina melarang Konferensi Khilafah yang diserukan oleh Hizbut Tahrir Palestina di Ramallah pada tanggal 17 Juli 2010, dan penangkapan sekitar seribu aktivis dan pendukung Hizbut Tahrir. Bahkan Otoritas bekerjasama dengan polisi Yahudi untuk melarang masuknya massa ke Ramallah guna menghadiri konferensi yang akan mengingatkan kaum Muslim terhadap kewajiban agung; menjelaskan karakteristik Khilafah, yang kemunculannya kembali telah disebutkan oleh Rasulullah saw; dan mendorong mereka untuk bekerja menjalankan perintah Allah yang pasti. Justru Otoritas mengijinkan apa yang disebut dengan “Festival International Tari dan Musik Palestina“. Meskipun festival ini mencerminkan pembangkangan secara terbuka terhadap konsep masyarakat Muslim Palestina dan hukum agama mereka.

Dalam otak kotor Otoritas menyanyi dan menari, bahkan telanjang sekalipun dikenal sebagai seni dan budaya yang harus dilestarikan. Akan tetapi gagasan tentang Khilafah adalah dilarang dan ditolak, karena ia bertentangan dengan doktrin demokrasi berdasarkan kebebasan pelacur; dan berdasarkan undang-undang bikinan manusia menggantikan undang-undang yang berasal dari Tuhan yang menciptakan manusia.

Dan dalam otak kotor Otoritas melakukan apa yang diwajibkan Allah merupakan kejahatan yang harus dikejar, ditangkap dan dihancurkan mata pencaharian. Sementara kemaksiatan dan kemesuman adalah nilai-nilai luhur sehingga dinas keamanan harus menjaganya siang malam!

Tindakan Otoritas ini sama persis dengan perjalanan hidup kaum Luth dalam menilai sesuatu. Dimana mereka menjadikan pemeliharaan kesucian sebagai kejahatan, sebaliknya melakukan kekejian sebagai keutamaan, seperti perkataan mereka: “Jawab kaumnya tidak lain hanya mengatakan: “Usirlah mereka (Luth dan pengikut-pengikutnya) dari kotamu ini; sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang berpura-pura mensucikan diri.” (TQS. Al-A’raf [7] : 82).

Tindakan Otoritas dalam memerangi seruan Khilafah ini jelas datang dari pemikiran dan arahan Barat, bukan dari umat. Sebagaimana Otoritas berusaha menyesatkan publik dari sebab sebenarnya dibalik pelarangan terhadap kegiatan mengenang runtuhnya Khilafah.

Otoritas merupakan sebuah replika kecil dari rezim yang ada di negeri-negeri Arab dan Islam, yang menempuh langkah-langkah keji dan amoral, serta memposiskan Islam sebagai musuh. Sehingga hari demi hari mereka berkorban demi mewujudkan rencana kaum kafir, sebaliknya mereka memerangi rencana umat, yaitu menegakkan Khilafah, yakni menerapkan syariat Allah, melaksanakan hudud dan konstitusi yang mencakup seluruh aspek kehidupan.

Seruan penegakan Khilafah menjadi seperti baju putih yang semakin mengkilat dari hari ke hari. Sementara mereka yang memusuhi rencana ini bertambah gelap dan semakin kelam. Semua ini menegaskan semakin dekat waktu lenyapnya mereka, sebaliknya semakin dekat waktu terbitnya fajar kemenangan, yakni tegaknya Khilafah.

Suatu hari Khilafah akan terbit menyinari seluruh bumi, insya Allah. Khilafah akan mewarnai bumi dengan cahaya dan keadilan, sebagaimana sebelumnya dunia dipenuhi oleh kezaliman, kemaksiatan dan kejahatan. Sayangnya, banyak orang yang tidak mengerti dengan semua ini! (pal-tahrir.info, 19/7/2010).

Read More

Kamis, 15 Juli 2010

Khilafah vs Demokrasi

Sejak keruntuhan Khilafah pada 28 Rajab 1342 H, 89 tahun lalu, bisa disebut hampir sebagian besar Dunia Islam mengadopsi sistem demokrasi. Harapannya, sistem demokrasi akan membuat Dunia Islam lebih baik, ternyata tidak. Dunia Islam tetap saja mengidap berbagai persoalan yang akut seperti kemiskinan, kebodohan, pembantaian dan konflik yang berkepanjangan.

Di sisi lain, arus besar untuk kembali ke sistem Khilafah semakin menguat. Ada pernyataan berulang: Demokrasi memang tidak sempurna, tetapi sampai saat ini merupakan sistem terbaik untuk melawan sistem totaliter. Muncul pula pertanyaan berulang: Kebaikan apa yang ditawarkan sistem Khilafah untuk menggantikan sistem demokrasi? Bisakah sistem Khilafah mewujudkan harapan-harapan manusia yang gagal diwujudkan demokrasi? Kita tentu menjawab dengan tegas: sistem Khilafah pasti mampu.

Pertama: menjamin kebenaran yang hakiki. Demokrasi telah gagal dalam hal ini. Klaim suara rakyat adalah suara Tuhan dan menganggap suara mayoritas rakyat adalah suara kebenaran tidak terbukti. Bagaimana suara mayoritas rakyat Amerika bagian utara yang melegalkan perbudakan pada abad ke-19 dianggap benar. Demikian juga, sulit diterima sebagai sebuah kebenaran ketika mayoritas wakil rakyat lewat proses demokrasi melegalkan penghinaan terhadap manusia apalagi manusia yang mulia seperti Rasululllah saw., perkawinan homoseksual dan lesbian. termasuk serangan terhadap Irak, Afganistan yang telah membunuh ratusan ribu orang yang dilegalkan lewat suara mayoritas rakyat.

Adapun Islam menawarkan sebuah sistem yang sempurna karena berasal dari Zat Yang Mahasempurna, yaitu Allah SWT. Memang, mungkin saja terjadi penyimpangan dari pelaksaan sistem yang sempurna ini. Namun, dari segi sumbernya sistem Khilafah ini adalah yang terbaik. Sebaliknya, demokrasi sejak dasarnya saja sudah bermasalah ketika kebenaran diserahkan kepada manusia.

Kedua: memberikan ruang bagi masyarakat untuk berpendapat, memilih pemimpinnya sendiri, berekspresi, mengkritik sesuatu yang keliru. Demokrasi memang mengklaim telah memenuhi seluruh harapan ini. Namun, nilai-nilai liberal kemudian menjadi pilarnya. Akibatnya, kebebasan yang ditawarkan menjadi kebablasan dan mengancam masyarakat sendiri. Bukankah atas dasar kebebasan berekspresi, berpendapat dan berkumpul, kelompok-kolompok homoseksual dan pelaku-pelaku pornografi menginginkan eksistensinya diakui? Ahmadiyah, Lia Eden, dan aliran sesat lainnya pun minta diakui dengan berdalih pada kebebasan?

Di sisi lain, kebebasan yang ditawarkan demokrasi mengidap penyakit hipokrit (standar ganda). Mengklaim kebebasan beragama tetapi melarang pemakaian cadar, jilbab, atau burqa di Eropa. Klaim menghargai pilihan rakyat, tetapi menghadang kemenangan FIS di Aljazair dan Hamas di Palestina, yang sebenarnya menang secara demokratis. Boleh menghujat Nabi Muhammad sekalipun, tetapi siapa pun yang mempertanyakan kebenaran holocaust dikriminalkan. Sudah pula menjadi rahasia umum, terdapat pengekangan terhadap media baik lewat sensor internal pemilik modal media ataupun pemerintah.

Sebaliknya, sistem Islam memberikan ruang bagi masyarakat seluas-luasnya, namun tetap dalam kerangka hukum syariah yang menjadi standar acuan. Dalam sistem Khilafah, kepala negara atau Khalifah dipilih oleh rakyat dengan berdasarkan keridhaan mereka. Mengkritik penguasa yang menyimpang dalam Islam bukan hanya hak, tetapi sekaligus merupakan kewajiban. Pahala sangat besar pun diberikan kepada mereka yang syahid mengkritik penguasa dengan sebutan sebaik-baik jihad (afdhal al-jihad) dan pemimpin para syuhada.

Terdapat juga Mahkamah Mazhalim yang akan menyelesaikan persengketan antara rakyat dan penguasa, kalau rakyat menganggap kebijakan penguasa telah merugikan mereka. Mahkamah Mazhalim juga akan meluruskan keputusan-keputusan Khalifah yang bertentangan dengan hukum syariah.

Adapun Majelis Ummah, tempat tokoh-tokoh yang merupakan representasi dari masyarakat, bisa mengkritik penguasa atau memberikan masukan kepada Khalifah (musyawarah).

Perbedaan pendapat selama masih berlandaskan pada hukum syariah juga dibolehkan dalam Islam. Meskipun Khlifah bisa jadi mengadopsi salah satu pendapat Imam mazhab dalam pemerintahannya untuk diterapkan, perdebatan ilmiah tentang itu tetap saja dibiarkan. Inilah yang membuat dalam sistem Khilafah muncul berbagai mazhab, sebagai cerminan dari pengakuan perbedaan pendapat ini.

Ketiga: menjamin hak-hak mendasar manusia. Ini adalah sesuatu yang gagal dipenuhi oleh sistem demokrasi. Praktik pelanggaran HAM terbanyak dan terbesar justru dilakukan oleh negara-negara kampiun demokrasi seperti AS dan Inggris. Sebaliknya, penerapan syariah Islam akan menjaga nyawa manusia, keturunan, harta dan kehormatan. Di antaranya dengan menjatuhkan sanksi yang keras bagi pelaku pembunuhan, pencuri,pezina dll.

Keempat: menjamin kepastian hukum dan persamaan di depan hukum. Syariah Islam yang akan diterapkan oleh Khilafah menjamin hal ini bagi seluruh warga, baik Muslim maupun non-Muslim. Rasulullah saw. menolak makelar hukum yang menginginkan agar perempuan bangsawan tidak dihukum. Rasulullah saw. dengan tegas mengatakan kalaupun anaknya Fatimah mencuri, beliau akan memotong tangannya. Khalifah Ali bin Thalib pernah kalah ketika memperkarakan seorang Yahudi dengan tuduhan telah mencuri baju perangnya. Saat itu hakim menilai Khalifah Ali bin Abi Thalib tidak memilik saksi yang bisa diterima oleh hukum.

Kelima: membuat kebijakan yang pro rakyat. Demokrasi gagal mewujudkan hal ini. Sistem demokrasi telah melahirkan hubungan simbiosis mutualisme antara penguasa dan pemilik modal yang merugikan rakyat. Akibatnya, muncullah kebijakan elit politik yang lebih pro kepada pemilik modal daripada rakyat. Industrialisasi politik, politik transaksional, pragmatisme politik dan suap-menyuap merupakan penyakit kronis demokrasi.

Sebaliknya, Khilafah melalui syariah Islam akan menutup pintu kejahatan ini. Dalam bidang ekonomi syariah Islam juga menjamin kebutuhan pokok tiap individu rakyat, pendidikan gratis dan kesehatan gratis. Barang tambang yang melimpah (emas, perak, minyak dll), air, hutan dan listrik merupakan milik umum yang digunakan untuk kepentingan rakyat; tidak boleh diberikan kepada swasta atau individu. Dengan cara seperti ini Khilafah akan mensejahtrakan masyarakat, yang gagal diwujudkan oleh sistem demokrasi.

Walhasil, tidak ada alasan bagi kita untuk tidak menerima sistem Khilafah yang akan mewujudkan harapan-harapan manusia. Selain itu, karena menegakkan Khilafah adalah kewajiban agama kita. Kalau ada sistem yang sempurna, mengapa kita tidak mengambilnya? [Farid Wadjdi]

Read More

KEMISKINAN RAKYAT MERISAUKAN, PENGUASANYA BERMEWAH-MEWAHAN

[Al Islam 515] Seperti yang dilansir sejumlah media, jumlah orang miskin makin merisaukan seiring kenaikan Tarif Dasar Listrik (TDL) per 1 Juli 2010. Pasalnya, kenaikan TDL memberikan efek domino berupa kenaikan harga sembako, ancaman PHK dan pengangguran.

Berdasarkan standar BPS (Maret 2007), kategori miskin di antaranya seorang dengan penghasilan di bawah Rp 167.000,-/bulan/orang atau Rp 5.500,-/hari/orang. Dengan stadar BPS, angka kemiskinan saat ini hanya sekitar 13 persen atau sekitar 30 juta orang. Namun, menurut Bank Dunia, salah satu kriteria orang miskin di Indonesia adalah mereka yang berpenghasilan di bawah 2 dolar/Rp 19.000,- perhari (sekitar Rp 500 ribu/bulan). Jika menggunakan ukuran World Bank ini, angka kemiskinan di Indonesia bisa di atas 43 persen dari sekitar 240 juta penduduk Indonesia; kira-kira mendekati 100 juta jiwa. Inilah fakta keseharian kehidupan rakyat yang amat menyedihkan. Padahal bukankah mereka hidup di sebuah negeri yang subur serta kaya dengan kandungan mineral dan sumber daya alam lainnya?

Pemerintah Tak Peduli

Di negeri ini, penerapan sistem ekonomi Kapitalisme-yang akhir-akhir ini makin mengarah pada liberalisme ekonomi-menjadi akar munculnya kemiskinan yang terus meningkat. Dalam sistem ekonomi liberal, Pemerintah tidak lagi memerankan fungsinya sebagai pemelihara urusan-urusan dan kebutuhan dasar rakyatnya. Bahkan di tengah kemiskinan rakyat, Pemerintah sering mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang makin membebani rakyat. Mulai April lalu, misalnya, Pemerintah menaikkan harga pupuk urea isi 50 kilogram sebesar 50 persen, yakni dari Rp 60 ribu menjadi Rp 90 ribu. Kenaikan ini muncul karena anggaran subsidi yang semula Rp 11,3 triliun dikurangi menjadi Rp 4,2 triliun. Padahal tahun 2009 lalu, besarnya subsidi pupuk mencapai Rp 17,6 triliun. Dampak dari kenaikan harga pupuk ini sudah terasa Juni lalu. Harga produk pertanian melambung tinggi, sementara pendapatan masyarakat malah turun karena harga pokok produksi hanya naik 10 persen. Bagaimana para petani bisa untung?

Namun, masalahnya tidak hanya berhenti di sini. Pasalnya, dalam sistem ekonomi liberal, saat Pemerintah melepaskan tanggung jawabnya terhadap nasib rakyat, Pemerintah justru lebih berpihak kepada para pemilik modal, termasuk pihak asing. Contoh: terkait kenaikan tarif listrik. Kasus terbaru menunjukkan bagaimana Pemerintah negeri ini mengelola Proyek Gas Donggi Senoro. Pemerintah memutuskan bahwa untuk proyek gas Donggi Senoro, 30% dialokasikan untuk kebutuhan dalam negeri, sedangkan 70% untuk ekspor. Padahal yang 30% itu saja belum cukup untuk memenuhi kebutuhan gas PT PLN. Artinya, kebutuhan dalam negeri untuk PLN dan industri lainnya seperti industri pupuk sesungguhnya masih sangat besar. Sungguh ironis, saat kebutuhan akan gas di dalam negeri begitu besar, Pemerintah justru mengalokasikan 70% untuk ekspor. Padahal jika kebutuhan pasokan gas domestik mendapat prioritas maka kekurangan pasokan gas untuk PLN, pabrik pupuk dan pabrik lainnya akan terpenuhi. Hal ini secara pasti akan membuat harga produksi listrik turun sehingga harga TDL tidak perlu dinaikkan, bahkan bisa diturunkan. Lebih dari itu, dengan ketersediaan bahan bakar pembangkit yang jauh lebih murah dan sangat besar, seperti batu bakar dan gas, Pemerintah melalui PT PLN dapat segera memperbesar kapasitas produksi listrik dan ini akan segera dapat mengatasi kekurangan pasokan serta menambah luasnya jangkauan pelayanan listrik kepada masyarakat.

Kebijakan Pemerintah ini tentu patut dipertanyakan. Apakah karena ada kepentingan para pemungut rente yang tidak ingin kehilangan penghasilannya dari pasokan BBM ke PT PLN selama ini? Juga apakah ada kepentingan pemungut rente karena komisi dari penjualan ekspor gas keluar negeri? Hal ini menjadi sangat mungkin mengingat besarnya rente yang akan dinikmati para makelar yang mengatasnamakan kebijakan negara. Kalau ini benar, inilah dampak nyata dari sistem kapitalis yang menyuburkan kolusi antara pengusaha dan pengusaha, dengan mengorbankan rakyat banyak.

Penguasa dan Pejabat Bermewah-mewahan

Presiden SBY mengajak warga masyarakat Indonesia agar tetap berhemat dalam menggunakan energi, baik energi listrik, gas, maupun minyak bumi serta energi lainnya. “Kita sama-sama lakukan hemat energi, jangan boros, dan sejak anak-anak harus sudah mulai berhemat energy, apapun bentuknya,” ujarnya dalam sebuah kesempatan.

Ajakan itu sebenarnya sudah basi. Pasalnya, penghematan di jajaran pemerintahan tak pernah terlihat. Masyarakat masih ingat bagaimana uang Rp 22.55 miliar untuk tahun anggaran tahun 2009 dihamburkan hanya untuk merenovasi pagar Istana. SBY sendiri tak memberikan contoh bagaimana dirinya melakukan hemat energi itu; misalnya ia naik kendaraan umum saja ke Istana atau seluruh listrik Istana dimatikan pada malam hari. Itu tidak terjadi. Inilah sikap ‘munafik’ penguasa.

Pada tahun 2011, Pemerintah pun berencana membeli pesawat kepresidenan jenis Boeing 737-800 NG, dengan harga dipatok US$ 84,5 juta, sekitar Rp 800 miliar lebih. Selain itu, dalam kurun waktu 2001-2011 Presiden SBY menghabiskan Rp 1,173 triliun untuk anggaran “plesiran”-nya ke luar negeri. Anggaran “jalan-jalan” Presiden SBY tahun 2011 saja dipatok sebesar Rp 181 miliar. Ini jauh di atas anggaran presiden sebelumnya di era GusDur yang total menghabiskan Rp 48 miliar dan semasa Megawati Rp 48,845 miliar. Lalu untuk kebutuhan baju Presiden saja, anggarannya mencapai Rp 893 juta pertahun atau Rp 74 juta perbulan atau sekitar Rp 18 juta perminggu. Padahal gaji Presiden Indonesia saat ini saja sudah amat besar, hanya terpaut sedikit saja dari gaji tertinggi sejumlah kepala negara di dunia, terutama jika dikaitkan dengan tingkat kemakmuran rakyatnya. Sebagaimana diketahui, total gaji Presiden SBY saat ini adalah sebesar Rp 62.740.000,-. Adapun kepala negara dengan gaji tertinggi di dunia adalah Presiden Singapura, Hongkong, Amerika Serikat, Irlandia dan Prancis. (Http://www.kaskus.us/showthread.php?t=3409487).

Sebelumnya, DPR meloloskan proyek gedung megah yang nilainya Rp 1,8 triliun. Ini menunjukkan bahwa penguasa, baik kalangan eksekutif maupun legislatif, betul-betul telah hilang kepekaannya terhadap rakyat. Mereka lebih mementingkan diri sendiri daripada rakyatnya.

Selain itu, wajah APBN kita pun tidak pro rakyat. Ini bisa disimak dari APBN Perubahan 2010. Di sana tergambar jelas bahwa APBN itu lebih ditujukan untuk kepentingan pragmatis elit politik dan pejabat, ketimbang untuk rakyat. DPR, misalnya, berhasil mengajukan anggaran fantastis sebesar Rp 1,8 triliun untuk pembangunan gedung barunya. Angka ini lebih besar dari anggaran program keluarga harapan yang hanya senilai Rp 1,3 triliun untuk 810 ribu Rumah Tangga Sangat Miskin (RTSM). Padahal anggaran Rp 1,8 triliun ini bisa dimanfaatkan oleh 1,1 juta RTSM melalui program keluarga harapan, dibandingkan untuk gedung baru DPR yang hanya dinikmati 560 anggotanya.

Pemerintah juga kembali mengajukan tambahan anggaran untuk remunerasi (kenaikan gaji pejabat) senilai Rp 3,3 triliun sehingga total menjadi Rp 13,9 triliun. Padahal terbukti kenaikan gaji pejabat tidak mampu menghentikan kebiasaan korupsi yang bercokol di birokrasi. Di sisi lain, triliunan uang tersebut bisa digunakan untuk 76,4 juta Jaminan Kesehatan Masyarakat Miskin selama 3 tahun, atau 1,9 juta balita gizi buruk dan 1,8 miliar liter beras.

Saatnya Hentikan Sistem/Rezim Tak Amanah

Gaya hidup penguasa kaum Muslim saat ini yang menampilkan kemewahan, dari mulai gaji yang tinggi hingga mobil dinas yang mahal, tidak bisa dilepaskan dari cara pandang mereka terhadap jabatan. Bagi mereka, jabatan identik dengan prestise, martabat, kehormatan, bahkan ladang penghasilan yang subur. Wajar jika mereka berebut untuk mendapatkan jabatan/kekuasaan.

Sikap mereka ini berbeda dengan para khalifah (kepala negara Khilafah) dulu. Bagi para khalifah, jabatan adalah amanah. Karena itu, jabatan/kekuasaan benar-benar dimaksudkan untuk menunaikan apa yang menjadi hak rakyatnya. Bagi mereka, martabat dan kehormatan justru terletak pada ketakwaan, dan salah satu ukuran ketakwaan terletak pada sikap amanah dalam mengurus rakyat, bukan pada kemewahan. Karena itu, kesederhanaan mereka tidak membuat mereka kehilangan martabat dan kehormatan. Wajar jika kisah kesederhanaan para khalifah kaum Muslim pada masa lalu banyak menghiasi sejarah peradaban Islam nan agung ini. Imam as-Suyuthi menuturkan dalam Tarikh al-Khulafa’-nya tentang kisah kesederhanaan Khalifah Umar bin al-Khaththab ra., misalnya, yang tidak pernah malu berpakaian dengan banyak tambalan, bukan dengan kain yang sama, tetapi dengan kain yang berbeda, bahkan dengan kulit hewan. Khalifah Umar ra. juga biasa tidur nyenyak di atas hamparan pasir, dengan berbantalkan pelepah kurma di sebuah kebun kurma, tanpa seorang pun pengawal. Namun, di balik kebersahajaan itu, Khalifah Umar dan para khalifah kaum Muslim itu mempunyai prestasi yang luar biasa. Mereka berhasil memakmurkan rakyatnya sekaligus menjadikan Islam dan Khilafah Islam memimpin dunia selama berabad-abad dengan segala kemuliaan dan keagungannya. Bandingkanlah dengan para penguasa kaum Muslim saat ini, termasuk di negeri ini. Mereka hidup mewah, tetapi miskin prestasi, bahkan menjadi musibah bagi rakyatnya.

‘Ala kulli hal, umat belum terlambat untuk menyadari bahwa sistem sekular-kapitalis-liberal inilah yang menjadi penyebab hilangnya karakter para pemimpin yang sederhana dan zuhud, sekaligus yang menjadi penyebab suburnya para pemimpin yang tamak akan ‘sekerat tulang’ dunia.

Karena itu, umat belum terlambat untuk segera menerapkan sistem (syariah) Islam sebagai wujud ketakwaan mereka kepada Allah SWT. Hanya dengan ketakwaanlah Allah SWT menjamin keberkahan hidup bagi mereka, sebagaimana firman-Nya:

وَلَو أَنَّ أَهلَ القُرىٰ ءامَنوا وَاتَّقَوا لَفَتَحنا عَلَيهِم بَرَكٰتٍ مِنَ السَّماءِ وَالأَرضِ وَلٰكِن كَذَّبوا فَأَخَذنٰهُم بِما كانوا يَكسِبونَ

Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi (QS al-A’raf [7]: 96).

Sebaliknya, jika umat ini tetap berpaling dari peringatan Allah SWT, enggan menerapkan syariah-Nya secara total dalam seluruh aspek kehidupan dalam institusi Khilafah, maka kesempitan akan selalu menjadi ‘hiasan hidup’ mereka, sebagaimana firman-Nya:

وَمَن أَعرَضَ عَن ذِكرى فَإِنَّ لَهُ مَعيشَةً ضَنكًا وَنَحشُرُهُ يَومَ القِيٰمَةِ أَعمىٰ

Siapa saja yang berpaling dari peringatan-Ku, baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada Hari Kiamat dalam Keadaan buta (QS Thaha [20]: 124).

Wallahu a’lam. []

Komentar al-islam:

Para menteri ngantuk saat rapat kabinet, juga para anggota DPR saat rapat paripurna, karena semalaman begadang nonton bola (Detik.com, 13/7/2010).

Ironis! Padahal puluhan juta rakyat sering tak bisa tidur karena terus bergelut dengan kemiskinan.

Read More

Selasa, 08 Juni 2010

ISRAEL BRUTAL: AS MENDUKUNG, PENGUASA MUSLIM HANYA MENGECAM

[Al-Islam 509] BRUTAL! Untuk ke sekian kalinya, dunia disuguhi tontonan kebiadaban Yahudi-Israel. Israel secara brutal menembaki rombongan relawan dari berbagai negara yang diangkut sembilan kapal. Kapal tersebut membawa setidaknya 10,000 ton bantuan dan 750 aktivis. Turut serta dalam armada ini 44 pejabat pemerintah, anggota parlemen dan aktivis politik Eropa dan Arab, termasuk sepuluh anggota parlemen Aljazair. Armada ini membawa bantuan untuk penduduk Gaza yang lama menderita, apalagi sejak Israel membombardir wilayah tersebut awal 2009 dan terus memblokadenya hingga hari ini.

Para relawan itu dihadang, sebagiannya (tidak kurang dari 19 orang) bahkan dibunuh di atas kapal yang membawanya. Tentara dan penguasa Israel benar-benar telah mengunci rapat mata, telinga, akal dan hatinya; tidak peduli bahwa relawan yang berlayar menuju Gaza itu dalam rangka misi kemanusiaan. Pasalnya, Israel tidak menghendaki terbukanya blokade atas Gaza. Selain 19 korban tewas, "Sejauh ini, 83 telah ditahan, 25 di antaranya telah sepakat untuk dideportasi. Sisanya akan dipenjara." Demikian kata Jurubicara Kepolisian Israel Sabine Hadad seperti dilansir AFP, Selasa (1/6/2010). Hadad mengatakan, Kepolisian Israel masih akan melakukan penangkapan terhadap ratusan relawan lainnya.

Hampir dua tahun penduduk Gaza menderita akibat blokade Israel. Perbuatan semena-mena tersebut mengakibatkan terputusnya pasokan pangan dan obat-obatan dari luar. Gaza memang sangat bergantung pada impor makanan dan obat-obatan dari luar negeri. Israel juga memperketat penjagaan perbatasan. Israel bahkan menghancurkan Terowongan Gaza yang mensuplai kebutuhan pangan penduduk Gaza. Akhirnya, banyak yang menderita sakit dan kelaparan. Persediaan obat-obatan juga tidak ada. Israel benar-benar menghendaki kematian perlahan bagi penduduk Gaza.

Dukungan Total AS

Berbagai kecaman–hanya sekadar kecaman–mengalir. Namun, seperti biasa, kecaman itu segera lenyap ditelan waktu. Israel pun tetap dengan pongahnya mempertontonkan kebrutalannya. PBB yang katanya berfungsi sebagai penjaga perdamaian dunia hanya membisu menyaksikan kebiadaban Israel atas bangsa Palestina yang sudah berlangsung puluhan, bahkan ratusan kali. Amerika Serikat (AS), yang merupakan anggota tetap Dewan Keamanan (DK) PBB, tak pernah absen mendukung setiap kebrutalan Israel, baik secara langsung maupun lewat upaya memveto (menggagalkan) setiap resolusi PBB yang merugikan Israel.

AS memang mengecam serangan Israel kali ini, sebagaimana dinyatakan Jurubicara Gedung Putih William Burton (Reuters, 31/5). Namun, dunia pun tahu, itu hanyalah sikap sandiwara AS. Faktanya, AS mendukung penuh setiap tindakan Israel. Bahkan senjata-senjata yang saat ini dipakai untuk membunuhi para relawan adalah senjata-senjata yang dibeli dengan dolar bantuan dari AS. Tahun ini AS bahkan berencana menaikkan bantuan anggaran militer untuk Israel hingga 6 miliar dolar AS pertahun. Ini seperti yang diungkap Wapres AS Joe Biden ketika berceramah di Universitas Tel Aviv. Wapres AS Joe Biden pun telah menjanjikan dukungan penuh Washington terhadap Zionis-Israel. Saat mengadakan pembicaraan terpisah dengan Netanyahu dan Presiden Shimon Peres, Biden menegaskan dukungan total dan absolut Washington (AS) terhadap keamanan Israel (Hidayatullah.com, 22/3/2010).

Menlu AS Hillary Clinton (yang tentu mewakili pemerintahan Obama), dalam kutipan pidatonya di depan konvensi tahunan Komisi Urusan Hubungan AS-Israel–yang dikenal dengan sebutan AIPAC, sebuah lobi kuat yang pro-Israel–di Washington, Senin (22/3) juga meyakinkan Israel, bahwa komitmen AS terhadap keamanan Israel masih “tetap kuat.” (Voanews.com, 22/3/2010).

Kongres AS bahkan menyetujui usulan Presiden Barack Obama untuk mendanai pembangunan Kubah Besi–sistem pertahanan antiroket–milik Israel. Pemungutan suara di Kongres yang digelar pada Kamis (20/5), sebanyak 410 suara mendukung usulan itu dan empat suara menolak. Dengan hasil voting mayoritas ini, dana 205 juta dolar AS sepakat untuk dikucurkan ke Israel. Ini sekaligus membuktikan bahwa pemerintahan AS di bawah Obama tidak ada bedanya dengan pemerintahan AS di bawah George W. Bush dan presiden-presiden AS sebelumnya, yang mendukung penuh Israel. Istilah ”soft power” cuma menjadi ‘gincu’ diplomasi Obama untuk mengelabui Dunia Islam agar tetap berada dalam cengkeraman kepentingan global AS dan lumpuh di hadapan Israel yang biadab.

Penguasa Muslim Hanya Mengecam

Para penguasa dan pemimpin Muslim mengecam tindakan biadab Israel, dalam hal ini terhadap armada kapal yang membawa bantuan kemanusiaan ke Gaza ini. “Kami mengutuk kejahatan ini…Setiap orang harus mengutuk tindakan Israel ini," kata Sekretaris Jenderal Liga Arab, Amr Moussa, kepada AFP (31/5). Mousa lebih lanjut mengatakan, bahwa 22 anggota Liga Arab saat ini sedang ‘memikirkan’ langkah selanjutnya terhadap Israel.

Pimpinan Otoritas Palestina Mahmud Abbas pun mengecam serangan Israel itu dengan menyebutnya sebagai pembantaian. Perdana Menteri Libanon, Saad Hariri, juga mengutuk serangan mematikan Israel tersebut yang ia sebut sebagai tindakan yang berbahaya dan gila (31/5). Pemerintah Indonesia pun, melalui Menlu Marty Natalegawa, turut mengecam tindakan Israel ini (Antara, 31/5).

Namun, lagi-lagi para penguasara Arab-Muslim itu hanya mengecam, tidak pernah melakukan langkah nyata, misalnya dengan mengirimkan pasukan dari masing-masing negara mereka untuk melawan kebiadaban Israel. Padahal sudah nyata dan jelas, bangsa ‘kera’ (Yahudi-Israel) ini tidak pernah mengenal bahasa kecaman dan kutukan. Yang paling menyakitkan, penguasa Mesir, Husni Mubarak, tetap enggan membuka satu-satunya pintu masuk ke Gaza, yakni pintu Rafah yang berada dalam kekuasaan Mesir. Rezim Mesir itu tetap tuli dan diam seribu bahasa, sembari dengan tenang dan santainya menyaksikan warga Gaza mati secara perlahan karena blokade dan kekejian Israel.

Perlu dicatat, kepengecutan sikap pemerintah Mesir tidak cukup sampai di sini. Rezim Mesir bahkan meledakkan beberapa terowongan–yang jumlahnya berkisar mulai dari puluhan hingga ratusan–yang menjadi satu-satunya “penghubung” warga Gaza dengan dunia luar. Tindakan keji mereka ini telah memakan korban puluhan pekerja yang sedang mempertaruhkan nyawa mereka untuk mengais sesuap nasi (28/4). Hanya demi alasan kemanan nasional, rezim Mesir enggan memberi akses keluar bagi warga Gaza yang diblokade. Anehnya, pada saat yang sama, rezim Mesir memberikan jalan bagai pesawat-pesawat Israel untuk berkeliaran di perbatasannya, yang nyata-nyata sebelumnya telah menyerang tentara Mesir. Bahkan Mesir selalu memohon izin kepada Israel untuk menambah prajuritnya, sekalipun hanya seorang, untuk ditempatkan di perbatasan. Tampak sekali rezim Mesir bertindak sebagai antek Yahudi-Israel dan AS.

Wahai kaum Muslim:

Belum cukup buktikah bahwa Yahudi-Israel adalah penjahat perang? Belum cukup jelaskah bahwa Amerika Serikat (AS) selalu mendukung setiap kekejian dan kebiadaban Yahudi-Israel atas kaum Muslim di Palestina? Belum cukup terangkah bahwa para penguasa Muslim selama ini membiarkan begitu saja–bahkan memfasilitasi–setiap tindakan biadab dan brutal Israel atas bangsa Palestina?

Wahai kaum Muslim:

Sesungguhnya metode membela Palestina saat ini adalah dengan cara memaksa para penguasa Muslim agar memobilisasi pasukan mereka untuk berjihad. Sebab, Allah SWT telah berfirman:

]قَاتِلُوهُمْ يُعَذِّبْهُمُ اللهُ بِأَيْدِيكُمْ وَيُخْزِهِمْ [

Perangilah mereka (orang-orang kafir), niscaya Allah akan menyiksa mereka dengan (perantaraan) tangan-tangan kalian dan menghinakan mereka (QS at-Taubah [9]: 14).

Allah SWT telah mengecam siapapun yang mengabaikan panggilan jihad ini:

]إِلا تَنْفِرُوا يُعَذِّبْكُمْ عَذَابًا أَلِيمًا[

Jika kalian tidak berangkat untuk berperang, niscaya Allah menyiksa kalian dengan siksaan yang pedih (QS at-Taubah [9]: 39).

Wahai kaum Muslim:

Kekejian dan kebrutalan Yahudi Israel sesungguhnya akan terus berulang. Karena itu, umat ini jelas membutuhkan sebuah institusi negara yang kuat, yang bisa menggabungkan seluruh potensi umat Islam; yakni potensi wilayah yang luas, sumber daya manusia dan tentara yang banyak, sumber daya alam yang melimpah serta–yang lebih penting–sumber ideologi yang sahih dan kokoh. Institusi negara yang kuat dan bisa menyatukan semua potensi itu tidak lain adalah Khilafah Islamiyah ‘ala Minhaj an-Nubuwwah.

Khilafahlah yang pasti akan mampu membebaskan Palestina dan menghancurkan institusi Yahudi sekaligus pelindung dan ‘induk semang’-nya, yakni Amerika Serikat. Tanpa adanya institusi negara yang kuat (super power) yang mewujud dalam Negara Khilafah, maka masalah Palestina dan seluruh persoalan yang menimpa umat Islam di seluruh dunia tak akan pernah terselesaikan.

Sebagaimana Khilafah pada masa lalu bisa menjadi pelayan, pengayom dan pelindung umat Islam dari rongrongan dan serangan bangsa-bangsa kafir selama berabad-abad, maka Khilafah pula saat ini dan ke depan yang bisa melakukan hal yang sama. Hanya Khilafahlah yang bisa menghadapi Israel, AS dan sekutu-sekutunyanya, sekaligus membersihkan antek-antek mereka dari seluruh negeri kaum Muslim. Khilafahlah yang akan memimpin dan mengkomandoi 1,5 miliar kaum Muslim di seluruh dunia untuk berjihad. Khilafahlah yang akan melindungi dan mempertahankan seluruh wilayah dan tanah kaum Muslim. Rasulullah saw. telah bersabda:

إِنَّمَا اْلإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَراَئِهِ وَيُتَّقَى بِهِ

Sesungguhnya Imam (Khalifah) adalah laksana perisai; orang-orang berperang di belakangnya dan berlindung kepadanya (HR Muslim).

Sungguh, sekiranya umat ini sadar dan fokus mengembalikan keberadaan Khilafah yang bakal menjadi solusi final atas tragedi Palestina maupun tragedi-tragedi di Dunia Islam lainya, tentu masalahnya tidak akan berlarut-larut seperti saat ini. Karena itu, jangan sekali-kali ragu untuk mendukung para pejuang Khilafah, sekaligus berjuang bersama mereka untuk mewujudkannya.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا ِللهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ

Wahai orang-orang yang beriman, sambutlah seruan Allah dan seruan Rasul jika Rasul menyeru kalian untuk menuju sesuatu yang menghidupkan kalian (QS al-Anfal [8]: 24). []

Komentar al-islam:

Jusuf Kalla: Indonesia Harus Protes Israel (Vivanews.com, 1/6/2010).

Kirim pasukan untuk berjihad! Bukan hanya memprotes.

Read More

Sabtu, 05 Juni 2010

Hizbut Tahrir Singkap Solusi Palsu dan Serukan Solusi Benar Atas Blokade Gaza

"Penghancuran Blokade Gaza Tidak Akan Terjadi dengan Celaan dan Kunjungan ke PBB, Melainkan dengan Mobilisasi Tentara Mengepung Entitas Yahudi Laksana Gelang Melingkari Pergelangan Tangan". Demikian judul nasyrah yang dikeluarkan oleh Hizbut Tahrir menyikapi serangan Israel atas kapal yang mengangkut bantuan kemanusian ke Gaza.




Dunia memang seolah dungu, buta dan tak mau tahu akan solusi tuntas persolan Palestina. Kejahatan Israel telah nyata, tetapi beberapa kalangan masih juga berharap kepada PBB. Padahal siapa pun tahu, PBB lah yang mendukung Israel mencaplok Palestina pada 1947 lalu. Diantara para penguasa ada yang mengecam, tetapi tidak memberikan pelajaran tuntas bagi teroris Israel itu. Mereka tak berani mengerahkan pasukannya untuk mengusir penjajah Israel.

Seruan Hizbut Tahrir dibilang berani. Ketika sebagian pihak mengecam Israel dan berharap pada PBB, tetapi Hizbut Tahrir bukan sekedar mengecam melainkan membuka mata para penguasa Muslim untuk segera memobilisasi pasukannya menyelamatkan kaum Muslim Palestina.

"Itulah jalan satu-satunya wahai manusia. Lalu kenapa masih saja dibahas solusi-solusi bengkok dan tumpul, kecuali tentang solusi yang sahih dan lurus?!" tegasnya dalam sebuah pernyataan.

Memang, persoalan Palestina belum juga berhenti, seperti halnya pembunuhan atas kaum Muslim yang belum juga berhenti hingga hari ini. Ini semua, akibat kaum Muslim tak memiliki payung pelindung mereka, yakni Khilafah Rasyidah yang akan mengerahkan pasukannya untuk membebaskan negeri mereka dari cengkraman penjajah.

Berikut nasyrah lengkap Hizbut Tahrir yang dikeluarkan pada 17 Jumaduts Tsani 1431 H/ 31 Mei 2010 M. [f/htipress/syabab.com]

==========================
====

بسم الله الرحمن الرحيم

Penghancuran Blokade atas Gaza Tidak Akan Terjadi dengan Celaan dan Kunjungan ke PBB

Melainkan dengan Mobilisasi Tentara Mengepung Entitas Yahudi

Laksana Gelang Melingkari Pergelangan Tangan


Orang-orang berkumpul di atas kapal mengarungi lautan untuk menghilangkan blokade atas Gaza. Mereka didorong oleh semangat kemanusiaan… Mereka bertolak menggunakan kapal untuk meringankan blokade dari para orang tua, wanita, dan anak-anak… Mereka dipuji dan ditepuk-soraki oleh para penguasa di negeri-negeri kaum Muslim yang meneriakkan kegembiraan dan kesenangan bahwa begitulah orang-orang gagah berani berada di dalam armada kebebasan untuk menghilangkan blokade dari Gaza… Erdogan adalah penguasa yang paling banyak berteriak bahwa hari penghancuran blokade telah dekat, maka bergembiralah wahai Gaza!

Pada pagi hari tanggal 31 Mei 2010 negara Yahudi mengirimkan kapal-kapal perangnya untuk menghadang kapal itu di tengah lautan. Tentara Israel melakukan serbuan yang menyebabkan korban tewas dan luka. Sisanya dibawa ke pelabuhan Asdod di Palestina yang diduduki… Penguasa kaum Muslim dari Arab dan Non-Arab menyeru Dewan Keamanan, Liga Arab, dan PBB. Mereka mengecam negara Yahudi dan kejahatannya yang keji. Mereka mengecam pelanggaran Yahudi terhadap Undang-undang Internasional dan perairan internasional. Mereka melaknatnya dengan kata-kata kasar dan ungkapan-ungkapan panas yang bisa ditemukan! Sebagian mereka menambahinya dengan ucapan bahwa apa yang terjadi akan menggagalkan aktifitas perdamaian!!

Wahai Para Penguasa, mulai yang terbanyak membuat pernyataan sampai yang paling keras tangisannya!

Wahai manusia, wahai orang-orang yang bisa mendengar suara, wahai setiap orang yang memiliki hati atau memiliki pendengaran dan ia bisa melihat!

Anak-anak kecil dan orang dewasa, wanita dan pria, yang memiliki pendengaran dan penglihatan, bahkan hingga yang tidak memilikinya sekalipun…; semuanya menyadari, mengetahui, dan yakin bahwa penghilangan blokade Gaza dan pelenyapan entitas Yahudi tidak lain hanyalah dengan mobilisasi tentara yang mengepung entitas Yahudi laksana gelang melingkari pergelangan tangan, siang maupun malam. Mereka mendatangi Yahudi dari arah mana saja yang tidak diperkirakan oleh Yahudi. Dan berikutnya blokade akan hilang. Negeri akan kembali kepada penduduknya. Allah akan melegakan hati kaum Mukmin:

}قَاتِلُوهُمْ يُعَذِّبْهُمُ اللَّهُ بِأَيْدِيكُمْ وَيُخْزِهِمْ وَيَنْصُرْكُمْ عَلَيْهِمْ وَيَشْفِ صُدُورَ قَوْمٍ مُؤْمِنِينَ{

Perangilah mereka, niscaya Allah akan menyiksa mereka dengan (perantaraan) tangan-tanganmu dan Allah akan menghinakan mereka dan menolong kamu terhadap mereka, serta melegakan hati orang-orang yang beriman (QS at-Tawbah [9]: 14)

Itulah jalan satu-satunya untuk melenyapkan entitas Yahudi dan menghilangkan blokade atas Gaza, Tepi Barat, dan daerah-daerah lainnya baik di depan maupun di belakangnya…

Itulah jalan satu-satunya wahai para penguasa Arab yang mengklaim bahwa Anda menisbatkan nasab kepada kaum pemilik bahasa al-Quran. Wahai penguasa Turki yang mengklaim sebagai anak cucu Utsman. Wahai para pemilik rudal yang gembar gembor memiliki kekuatan yang bisa menghapus “Israel” dari peta. Lalu di mana Anda sekarang wahai para penguasa Iran dan penguasa Pakistan?! Kenapa kita tidak mendengar teriakan dan tidak melihat luncuran rudal?! Atau itu adalah penyesatan dan canda kepada publik. Celakalah, bagaimana Anda sampai bisa dipalingkan.

Itulah jalan satu-satunya wahai manusia. Lalu kenapa masih saja dibahas solusi-solusi bengkok dan tumpul, kecuali tentang solusi yang sahih dan lurus?!



Wahai para penguasa di negeri kaum Muslim yang tetap menahan tentaranya di barak-barak mereka! Sungguh kami bersaksi dan orang-orang shalih juga bersaksi bersama kami, bahwa dalam klaim Anda melaknat negara Yahudi, dan klaim Anda mengerahkan segenap daya upaya dalam menghilangkan blokade dari penduduk Gaza, dan tangisan Anda atas orang yang terbunuh dan terluka di armada kebebasan, dan pakaian hitam Anda tanda berkabung satu, dua dan tiga hari…; sungguh kami bersaksi dan orang-orang shalih juga bersaksi bersama kami, bahwa Anda dusta.

Wahai manusia: Hizbut Tahrir meminta bangkitnya semangat Anda dan memanggil tekad Anda, apakah belum tiba saatnya Anda tahu bahwa tidak ada solusi kecuali memobilisasi tentara untuk memerangi Yahudi dan menghimpun orang-orang yang mampu untuk menjadi tentara di dalamnya? Sesungguhnya militer itu, mereka adalah putera-putera Anda, mereka wajib bergerak untuk berperang tanpa takut kepada penguasa atau orang zalim. Bahkan mereka wajib mencampakkannya jika menghalanginya. Allah adalah pihak yang paling berhak untuk ditakuti dan Dia Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.

Belum tibakah saatnya Anda mengetahui bahwa harus ada seorang komandan mukhlis dan jujur, seorang Khalifah yang mendapat petunjuk, yang bersama Anda berjihad melawan musuh-musuh Anda sehingga mengembalikan jejak al-Faruq penakluk al-Quds, jejak Shalahuddin pembebas al-Quds, dan jejak Sultan Abdul Hamid pembela al-Quds.



Belum tibakah saatnya Anda menindak para penguasa zalim yang mengabaikan mobilisasi pasukan untuk berjihad? Belum tibakah saatnya bagi Anda semua itu. Atau Allah akan menimpakan azab merata terhadap Anda bersama orang-orang zalim:

}وَاتَّقُوا فِتْنَةً لاَ تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ{

Dan peliharalah dirimu daripada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya. (QS al-Anfal [8]: 25)

Imam at-Turmudzi mengeluarkan hadits dari jalur Abu Bakar ash-Shiddiq dan imam at-Turmudzi berkata: hadits sahih. Abu Bakar berkata: aku mendengar Rasulullah saw bersabda:

«إِنَّ النَّاسَ إِذَا رَأَوْا الظَّالِمَ فَلَمْ يَأْخُذُوا عَلَى يَدَيْهِ أَوْشَكَ أَنْ يَعُمَّهُمْ اللَّهُ بِعِقَابٍ مِنْهُ»

Sesungguhnya manusia jika mereka melihat orang yang zalim lalu mereka tidak menindaknya hampir-hampir Allah meratakan terhadap mereka azab dari sisinya


Hizbut Tahrir

17 Jumaduts Tsani 1431 H/31 Mei 2010 M

sumber : syabab.com
Read More

Minggu, 09 Mei 2010

Tunggulah Kehancurannya!

“Apabila sesuatu urusan diserahkan kepada bukan ahlinya, maka tunggu saat kehancurannya” (HR. Bukhari).

Geger artis porno/cabul dan pezina mencalonkan diri jadi pemimpin membuat kita teringat pada beberapa hadist Rosulullah saw yang menjadi panutan kita. Pertama sabda Rosulullah saw: “Tunggu saat kehancuranannya, apabila amanat itu disia-siakan!” Para sahabat serentak bertanya, “Ya Rasulullah, apa yang dimaksud menyia-nyiakan amanah itu?” Nabi SAW menjawab: “Apabila sesuatu urusan diserahkan kepada bukan ahlinya, maka tunggu saat kehancurannya” (HR. Bukhari).

Jelas artis-artis seronok ini tidak punya kapabilitas untuk mengatur urusan umat yang merupakan hal utama dalam politik. Seorang pemimpin politik haruslah mengerti apa yang menjadi masalah masyarakat dan paham solusinya. Bukan hanya itu, dalam Islam, solusi yang diberikan, bukanlah sembarang solusi, tapi haruslah berdasarkan kepada syariah Islam.

Bagaimana artis-artis cabul ini menyelesaikan masalah kemiskinan, kebodohan, sementara selama ini mereka tidak pernah hirau dalam urusan ini. Apalagi berharap mereka akan menyelesaikannya berdasarkan syariah Islam ? Bukankah yang mereka bicarakan selama ini hanyalah persoalan hiburan, gaya pakaian sensual yang mengundang nafsu , gaya panggung memikat yang mengumbar aurat ? Bukankah selama ini justru mereka menjadi pelaku maksiat yang banyak melanggar syariah Islam. Kalau kepemiminan politik ini diserahkankepada mereka tunggu saja kehancurannya !

Saat ini bukti kehancuran itu sudah terjadi di depan mata. Ketika umat Islam dipimpin oleh orang yang maksiat, yang tidak mau berhukum pada hukum Allah SWT. Lebih tunduk kepada hukum kufur, tunduk kepada penjajah kufur dan mengikuti arahan mereka dalam mengatur kehidupan masyarakat. Tunduk kepada imperialis Amerika dengan perangkat sistem sekuler dan organisasi - alat penjajahannya- seperti PBB, IMF dan Bank Dunia. Lihatlah nasib umat Islam yang semakin terpuruk.

Yang kedua adalah hadist Rosulullah saw tentang munculnya ruwaibidhoh. Sabda Rosulullah saw : “Akan datang kepada manusia tahun-tahun yang penuh dengan penipuan. Ketika itu pendusta dibenarkan sedangkan orang yang jujur malah didustakan, pengkhianat dipercaya sedangkan orang yang amanah justru dianggap sebagai pengkhianat. Pada saat itu Ruwaibidhah berbicara.” Ada yang bertanya, “Apa yang dimaksud Ruwaibidhah?“. Beliau menjawab, “Orang bodoh yang turut campur dalam urusan masyarakat luas.” (HR. Ibnu Majah)

Hal ini pun sudah terjadi. Banyak orang bodah yang memimpin umat . Mereka disebut bodoh karena menerapkan sistem yang bodoh (jahiliyah), tidak mau menjalankan syariah Islam. Bodoh , karena sudah tahu sistem sekuler danlibarel yang ada tidak akan membawa kepada kebaikan , malah membawa kehancuran, namun tetap saja dipertahankan. Bodoh, karena tidak mau mendengar pada kebenaran Islam untuk menerapkan syariah Islam.

Dan terbukti, saat ini penuh dengan penipuan. Yang tadinya berpakaian seksi , menipu ummat dengan, pura-pura berbusana muslim. Berjanji akan memperhatikan rakyat, setelah memimpin malah memiskinkan dan menambah derita rakyat. Bicara mempertahankan kedaulatan negara, pada realitanya malah menjual negara kepada asing, dengan menyerahkan kekayaan alam yang seharusnya untuk rakyat, dirampok oleh penjajah asing. Namun , sayangnya, masih ada masyarakat yang menganggap mereka sebagai orang yang amanah, bukan pengkhianat. Sebaliknya, yang menyerukan syariah Islam yang berasal dari Allah SWT yang Maha Pengasing dan Penyayang , justru dituduh mengancam negara.

Namun yang jelas , maraknya artis maksiat mencalonkan diri menjadi pemimpin , tidak bisa dilepaskan dari sistem demokrasi yang kita anut sekarang ini. Inilah yang menjadi pangkal kehancuran sistem politik kita. Dalam sistem demokrasi dimana sekulerisme menjadi asasnya, persoalan agama dianggap merupakan persoalan pribadi. Sehingga syarat-syarat agama, tidak menjadi penting dan tidak bisa jadi ukuran .

Ditambah dengan prinsip liberalisme yang memberikan kepada siapapun kebebasan atas nama suara rakyat untuk dipilih menjadi pemimpin. Seperti yang dikatakan Gary Hart, calon presiden AS (1988) yang ketahuan selingkuh : Let the people decide, biarkan rakyat memilih, menjadi slogan demokrasi. Tanpa perlu melihat ketaqwaan dari sang pemimpin. Sampai-sampai Amin Rais mengatakan : meskipun yang terpilih adalah setan gundul.

Padahal ketaqwaan menjadi hal yang sangat penting dalam Islam. Hancur atau tidaknya sebuah negara , bangsa, dan rakyatnya tergantung pada ketaqwaan masyarakat , tergantung kepada keterikatan mereka pada syariah Islam. Kalau mereka bertaqwa Allah SWT akan membukakan pintu barakoh dari langit dan bumi (QS al A’raf : 96). Sebaliknya kalau mereka menyimpang dari aturan Allah swt mereka akan ditimpakan dengan kehidupan yang sempit dengan berbagai penderitaan (QS Thoha: 123-126).

Ketaqwaan disini bukanlah sekedar ketaqwaan personal dari pemimpin , tapi juga sistem yang dijalankan oleh sang pemimpin. Artinya, kita bukan hanya butuh pemimpin yang terikat pada syariat Islam secara individu, tapi sistem yang diterapkan untuk mengatur kehidupan masyarakat dalam berpolitik, ekonomi, pendidikan, dan masalah mua’amalah lainnya haruslah berdasarkan syariah Islam. Jangan berharap itu akan terwujud selama sistem yang diterapkan adalah sistem demokrasi, sistem kufur yang menyerahkan sumber kedaulatan hukum kepada manusia, bukan kepada Allah SWT semata-mata. (Farid Wajdi)

Read More