Tampilkan postingan dengan label OBAMA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label OBAMA. Tampilkan semua postingan

Rabu, 24 November 2010

Berbagai Kebohongan dan Racun Obama Disebarkan di Tengah-tengah Mereka yang Telah Terjajah Oleh Pemikiran/Kultur Amerika

[Al Islam 532] Sungguh, mayoritas generasi umat Islam di seluruh penjuru negeri ini-yang ditunjukkan oleh berbagai pertemuan dan konsentrasi massa dari kalangan para ulama, dosen dan intelektual-menolak kunjungan Obama. Mereka melakukan berbagai pertemuan dan konsentrasi massa aksi protes di berbagai kota, mulai dari timur hingga barat. Hanya sekelompok antek Amerika, terutama kepala negaranya, yang telah menyambut kunjungan Obama. Stasiun-stasiun televisi di bawah penguasa dan yang berjalan di belakangnya menyiarkan berita kunjungan itu secara luas. Pada saat yang sama, stasiun-stasiun televisi itu membisu, tidak menyiarkan berbagai pertemuan dan konsentrasi massa yang menolak kunjungan Obama. Mereka menutup-nutupi berita penolakan dan protes yang dilakukan oleh berbagai kelompok massa yang ikhlas dari mayoritas umat di Indonesia! Stasiun-stasiun televisi itu mengulang-ulang pidato Obama di hadapan mereka yang telah terjajah oleh pemikiran dan budaya Amerika, yang diselenggarakan di Universitas Indonesia pada tanggal 10 November 2010 lalu. Melalui antek-anteknya di media massa, Amerika mempromosikan di tengah-tengah masyarakat berbagai kebohongan dan racun yang disebarkan Obama itu.

Sebagaimana kebiasaan Presiden Amerika dalam berbagai pidatonya di hadapan orang-orang yang telah terjajah oleh pemikiran/kultur Amerika, Obama mengulang-ulang ucapannya tentang demokrasi, HAM, pluralisme dan pasar bebas. Dia berupaya mengemasnya dengan cara-cara yang manis, berpengaruh, memikat dan menipu; tentang masa kecilnya di Indonesia dan pujiannya terhadap pembangunan di Indonesia! Begitulah, Obama memalingkan para pendengar, meski hanya sebentar, dari racun-racun mematikan yang dia tuangkan ke Indonesia melalui kunjungannya itu!

Sungguh, demokrasi yang dia dengung-dengungkan bukanlah sebatas pemilihan penguasa oleh umat, sebagaimana yang mereka tonjolkan kepada masyarakat. Dalam hal pemilihan penguasa oleh umat itu, Islam justru jauh mendahului demokrasi. Namun persoalannya, demokrasi hakikatnya adalah menyerahkan hak membuat hukum dan undang-undang kepada manusia, bukan kepada Tuhan manusia. Oleh karena itu, dari sisi ini demokrasi merupakan ide kufur. Sebab, Allah SWT telah menjadikan hak untuk menetapkan hukum dan undang-undang semata milik Dia. Allah SWT berfirman:

إِنِ الْحُكْمُ إِلَّا لِلَّهِ

Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah (QS al-An’am [6]: 57).

HAM yang dibangun di atas liberalisme juga merupakan racun yang mematikan! HAM hanyalah hak bagi mereka yang melanggar kehormatan Islam, yang murtad dari Islam, yang berani berlaku lancang terhadap al-Quran al-Karim dan Rasul saw., serta hak bagi para pelaku kemaksiatan homoseksual dan pornografi. Sebaliknya, jika terkait dengan keterikatan seorang Muslim dengan agamanya, pemakaian kerudung atau niqab (cadar) oleh Muslimah, atau pembangunan menara masjid, hak-hak semacam ini ditolak bahkan diperangi dengan kuat!

Pluralisme yang mereka maksud juga bukanlah bahwa kaum minoritas secara agama atau ras harus hidup di bawah naungan Islam di Indonesia yang Muslim. Namun, pluralisme yang mereka maksudkan adalah bagiaman menjadikan minoritas non-Muslim bias menghalangi penerapan Islam di Indonesia yang telah Allah wajibkan. Dalihnya adalah kebebasan beragama dan bahwa agama-agama itu setara dalam hal kebenaran selama mengimani ide ketuhanan. Demikian sebagaimana yang dikatakan oleh Obama! Sesungguhnya melalui ide pluralisme itu mereka ingin (perkara politik) agar kaum minoritas non-Muslim bisa menghalangi penerapan hukum-hukum syariah. Padahal penerapan hukum-hukum syariah itu adalah wajib bagi kaum Muslim secara sekaligus di bawah Daulah Khilafah. Dalam penerapan syariah di bawah Khilafah itulah terdapat kebangkitan kaum Muslim yang sahih dan pembebasan mereka dari penjajahan. Di bawah Khilafah yang menerapkan syariahlah sesungguhnya terletak kemuliaan kaum Muslim. Di dalam Khilafah pula terdapat penjagaan atas hak-hak minoritas keagamaan dalam menunaikan ibadah mereka dan penjagaan atas kehidupan mereka tanpa kezaliman dan penindasan.

Wahai kaum Muslim,

Wahai Orang-Orang Berakal.

Inilah racun-racun Obama.

Adapun kebohongan-kebohongan Obama telah jelas di dalam pidatonya itu. Ia mengatakan, “Amerika Serikat berjanji untuk bekerja demi kemajuan umat manusia.” Faktanya, semua orang, baik jauh maupun dekat, mengetahui apa yang dilakukan oleh Amerika adalah demi para pemilik modal, yaitu para kapitalis, bukan demi kepentingan umat manusia! AS menghancurkan kemanusiaan melalui pembunuhan dan perampokan kekayaan umat manusia. Tidak beda antara Obama dan presiden AS lainnya. Dia berjalan di atas sistem yang sama. Negara penjajah ini terus saja membunuhi kaum Muslim di Irak, Afganistan dan Pakistan. Amerika pun terus saja merampok kekayaan negeri-negeri dunia, termasuk Indonesia, dan membiarkan penduduknya berada dalam kubangan kemiskinan absolut maupun kemiskinan struktural. Inilah yang terjadi di Papua, Acheh, Riau, Cepu, Natuna dan lainnya.

Dalam pembicaraannya tentang hubungan Amerika dengan Islam, Obama mengatakan bahwa AS tidak memerangi Islam, melainkan memerangi al-Qaeda yang dia sebut sebagai teroris. Namun masalahnya, ini terkait dengan kepentingan Amerika. Siapa saja yang tidak menyenangkan Amerika, atau yang mengkritik berbagai kebijakan Amerika yang imperialistik, akan disebut al-Qaeda, atau memiliki hubungan dengan al-Qaeda. Berdasarkan sebutan itu, Amerika memiliki hak untuk membunuh mereka dengan alasan memerangi teroris! Hal itu tampak jelas di dalam pidato Obama dengan ucapannya, bahwa bangsa Amerika menghadapi bahaya terorisme.

Sebaliknya, pembunuhan dan penumpahan darah ratusan ribu kaum Muslim tak berdosa oleh militer Amerika tidak pernah disebut terorisme! Berbagai aksi kejahatan yang dilakukan oleh Yahudi yang menduduki Palestina juga tidak dia sebut sebagai terorisme! Dengan demikian, dalam pandangan Obama, darah bangsa Amerika terpelihara, sementara darah kaum Muslim boleh ditumpahkan dan mereka dianggap sebagai seburuk-buruk manusia!

Terkait Afganistan, Obama pun menyatakan berbagai ungkapan menyesatkan. Ia menyatakan, “Amerika dan negara-negara sekutu bekerja untuk “membangun pemerintahan Afganistan dan masa depannya”, dan “Amerika bekerja agar tidak ada tempat yang aman bagi ekstremis dan pelaku kekerasan”. Begitulah, Obama menggunakan kata-kata penuh penyesatan untuk memalingkan pikiran dari kebenaran! Masalahnya, benarkah Amerika dan negara-negara sekutu bekerja untuk membangun Afganistan dan masa depannya? Ataukah bahwa militer Amerika dan sekutu melancarkan perang brutal di Afganistan?! Faktanya, sejak memegang tampuk pemerintahan pada Januari 2009 lalu, Obama telah menambah jumlah pasukan Amerika di Afganistan menjadi 150 ribu personel saat ini!

Di dalam pidatonya Obama tidak menyebutkan kepentingan ekonomi Amerika di Afganistan. Afganistan adalah negeri Islam yang kaya dengan sumberdaya alam dan memiliki posisi strategis. Sebaliknya, pembicaraan Obama hanyalah tentang pembangunan Afganistan serta perang terhadap para ekstremis dan pelaku kekerasan! Pertanyaannya: jika kaum Mujahidin yang membela negeri mereka melawan negara-negara penjajah yang menduduki negeri mereka disebut “ekstremis dan pelaku kekerasan”, lalu apa sebutan bagi militer NATO yang menembakkan berton-ton artileri, rudal dan bahan-bahan kimia mematikan terhadap kaum Muslim di Afganistan?!

Terakhir, isi pidato Obama tidak lain hanyalah kebohongan-kebohongan yang jelas, kedustaan yang telanjang, dan kerancuan yang amat gamblang-dengan menyatakan bahwa Amerika tidak ingin memerangi kaum Muslim dan bahwa Obama akan menarik militer Amerika dari Irak (tahun 2011). Kerancuan tersebut terbukti dengan pengiriman 30 ribu tentara Amerika ke Afganistan.

Terkait dengan Irak, kebohongan Obama juga tampak nyata. Kementerian Luar Negeri AS mengumumkan pengiriman 7000 veteran ke Irak. Mereka adalah tentara bayaran di bawah kontraktor keamanan yang buruk untuk disebut: Blackwater. The Guardian (15/8/2010) menyiarkan bahwa penarikan militer pendudukan dari Irak hanyalah propaganda untuk memperbaiki potret Obama dari Bush Jr. pendahulunya. The Guardian menambahkan bahwa Amerika menginginkan dari Irak sebuah pangkalan militer tetap bagi AS sebagaimana yang ada di Korea Selatan. Tujuannya adalah untuk menempatkan ribuan tentara Amerika di pangkalan-pangkalan tetap di Irak. Kenneth M. Pollack, di dalam artikelnya di Washington Post (22/8/2010), juga menyatakan bahwa klaim Amerika akan menarik militernya dari Irak tidak lain hanyalah kebohongan semata. Ia menambahkan, bahwa di sana terdapat 50 ribu veteran Amerika di Irak, tetapi dengan nama lain!

Wahai Kaum Muslim,

Wahai Orang-Orang Berakal.

Telah tampak jelas bahwa Obama ingin memperbaiki potretnya dengan ucapan-ucapan yang menipu, seperti yang dia ulang-ulang tentang upayanya mewujudkan perdamaian di Palestina yang jauh lebih banyak dibanding pendahulunya. Di dalam pidatonya, ia menyebutkan dorongannya bagi aktivitas perdamaian di Palestina untuk mewujudkan rencana dua negara. Ia menyatakan hal itu sebagai wujud perhatiannya pada pembentukan negara bagi orang-orang Palestina dan sebuah negara bagi Yahudi (Israel). Ia menyebutkan pembentukan dua negara itu demi kemaslahatan orang-orang Palestina! Padahal semua itu adalah bagian dari penyesatan dan tipudaya.

Apa yang disodorkan Obama itu, yang pertama dan terakhir, adalah untuk kepentingan Yahudi. Dengan solusi dua negara itu, para penguasa di negeri-negeri kaum Muslim, baik Arab maupun non-Arab, mengakui pendudukan Yahudi atas sebagian besar Palestina dan menjadikan Israel sebagai negara yang paling kuat persenjataannya di kawasan itu. Mereka hanya memberikan kompensasi berupa negara semu yang kecil di sebagian tanah Palestina. Negara kecil untuk rakyat Palestina itu tak mengakar. Persenjataannya terlucuti. Negara kecil itu tidak memiliki kedaulatan penuh atas batas-batas wilayahnya, udaranya, transportasi dan komunikasinya, bahkan hingga atas keamanannya. Itulah yang selalu dinyatakan oleh entitas Yahudi baik pagi maupun sore!

Pernyataan Obama seputar dukungan kepada negara Yahudi sudah amat jelas. Obama menyatakan, “dukungan Amerika kepada negara Yahudi adalah doktrin tetap Amerika yang tidak berubah”. Amerika juga menjual 20 buah pesawat F-35 ke negara Yahudi itu. Dalam kampanye Pemilu Presiden sebelumnya, Obama pun telah mengumumkan bantuan keuangan untuk entitas Yahudi yang mencapai 30 miliar dolar Amerika untuk 10 tahun.

Begitulah, wahai kaum Muslim. Pidato Obama penuh racun dan kebohongan. Tepuk tangan dari antek-antek yang telah terjajah dan terpedaya tidak akan meminimalkan bahayanya. Orang-orang itu telah menjual agama mereka dengan sekerat dunia yang sedikit, bahkan hingga tanpa sekerat pun dari dunia.

Karena itu, wahai kaum Muslim, berhati-hatilah dan waspadalah dari racun-racun tersebut sebelum terlambat! []

10 Dzul Hijjah 1431/16 November 2010 M

Hizbut Tahrir Indonesia

KOMENTAR AL-ISLAM:

Al-Quran Mencerahkan Pikiran (Republika, 23/11/2010).

Juga solusi kehidupan. Jadi, segera terapkan!

Read More

Selasa, 09 November 2010

Caci Maki Pemakai Jalan Sambut Rombongan Obama

JAKARTA - Kedatangan Presiden Barack Obama disambut meriah di Istana Negera. Tapi tidak demikian di sejumlah perempatan yang lalu lintasnya dihentikan sementara. Sumpah serapah justru menyertai iring-iringan Obama.

Seperti terlihat di perempat Sarinah menuju kawasan Tanah Abang, Selasa (9/11/2010) sore. Tak kurang dari setengah jam pengendara roda empat maupun roda empat dipaksa menunggu iring-iringan Obama dari Istana Negara menuju Hotel Shangri-La, di Jalan Jenderal Sudirman.

Bisingnya suara klakson dan geberan suara knalpot menambah suasana panas para pengendara yang jenuh menunggu kedatangan rombongan orang nomor satu di Amerika itu.

Tak hanya itu bentakan kasar para pengendara juga ikut ditujukan kepada polisi lalu lintas yang berjaga di sekitar Jalan Thamrin.

Guyuran hujan yang kian lebat menambah kesal para bikers yang mulai basah kuyup. Kebanyakan pemakaian jalan kemungkinan tidak mengetahui perihal penutupan sementara itu terkait dengan kedatangan Presiden Obama.

Sesaat kemudian, iring-iringan rombongan pun melewati perempatan Sarinah. Cacian dan sorakan ‘huuuu’ kian menggema menyertai rombongan yang melesat menuju bundaran Hotel Indonesia (HI).
(ded)

okzone.com

Read More

Senin, 22 Maret 2010

Inikah yang Dibanggakan dari Barack Obama: Kirim 2.500 Pasukan ke Afghanistan Utara untuk Bunuhi Kaum Muslim?

Syabab.Com - Perlu bukti apa lagi, kejahatan kebijakan Barack Obama dalam menjajah negeri kaum Muslim semakin nampak di ujung mata. Komandan Amerika Serikat di Afghanistan berencana untuk mengerahkan sekitar lebih dari 2.500 pasukan ke Utara karena mereka merasa kewalahan dalam menghadapi para mujahidin taliban yang hadir di tempat itu.

Rencana "tentatif" ini mencakup para pelatih bagi pasukan keamanan Afghanistan serta memungkinkan operasi militer bersama dengan pasukan Jerman yang sudah ada di daerah tersebut. Tujuan dari operasi gabungan ini akan melindungi jalur pasukan utama.

Bantuan pasukan tersebut merupakan bagian dari penambahan 30.000 pasukan yang diperintahkan oleh Presiden Barack Obama pada bulan Desember untuk mengubah perang di sekita itu. Sebagian besar dari 10.000 pasukan yang telah dikirim sejauh ini dikirim ke wilayah Selatan yang merupaka tempat bagi para mujahidin Afghanistan.

Rencana untuk reloksi pasukan itu dirumuskan setelah Komandan Tinggi Jerman mengatakan pasukan pimpinan AS itu merencanakan serangan di Provinsi Kunduz Utara untuk menangkis Taliban di Afghanistan Utara.

"Operasi akan 'menyerupai' dengan serangan yang sedang digelar di provinsi selatan Helmand yang melibatkan 15.000 pasukan AS, NATO dan pasukan Afghanistan," kata Jenderal Bruno Kasdorf, kepala Staf Bantuan Keamanan Internasional (ISAF) kepada radio Jerman, Kamis.

Bunuhi Warga Sipil

Lagi-lagi kita melihat penjajahan dan pendudukan pasukan AS beserta sekutunya yang tak punya malu terus melakukan pembunuhan terhadap kaum Muslim di negeri tersebut. Yang jadi korban adalah warga sipil kaum Muslim.

Pada 21 Feberuari lalu, pasukan NATO menembaki kendaraan di wilayah selatan menewaskan 27 warga sipil. Komandan NATO, Stanley McChrystal mengatakan, "“Saya telah menegaskan pada pasukan kami bahwa kami berada di sini untuk melindungi orang-orang Afghanistan dan secara tidak sengaja membunuh atau melukai warga sipil sehingga mengurangi kepercayaan dan keyakinan mereka atas misi kami".

Setidaknya 12 orang lainnya tewas dalam serangan roket sehari setelah Operasi “Mushtarak” pada bulan ini di distrik Marja Helmand. Dan akhirnya, lebih dari 25 warga sipil telah tewas dalam serangan NATO yang lain; sehingga jumlah total adalah lebih dari 60 warga sipil telah tewas dalam beberapa hari terakhir.

Kantor Media Hizbut Tahrir mengomentari pembunuhan terhadap kaum Muslim itu dengan mepertanyakan, apakah maksud dari ungkapan atau pernyataan munafik seperti itu oleh sang jenderal penjajah, dengan mengatakan bahwa mereka sebenarnya tidak membunuh warga sipil, tetapi melakukan yang sebaliknya?

"Apakah mereka pikir kita adalah orang-orang buta, atau warga sipil itu bukanlah manusia di mata mereka? Apakah para penguasa boneka itu adalah para pelindung kita? Tidak, mereka adalah tiran dan diktator, yang dipekerjakan oleh para tentara salib dan bukan oleh umat Islam. Hanya Imam atau Khalifah lah yang bisa menjadi perisai, di belakangnya anda akan berperang dan melindungi diri anda sendiri."

Ini adalah perang yang dilakukan oleh Obama dan kapitalis Barat terhadap umat Muslim, yang kaya sumber daya, dan memiliki agama yang terbaik. Masihkan kaum Muslim menutup mata? Tidakkah kita mengingat, "Lenyapnya dunia lebih ringan bagi Allah daripada terbunuhnya seorang mukmin tanpa alasan yang benar”. [m/f/prstv/kbht/syabab.com]

Read More

Minggu, 21 Maret 2010

VIDEO: Obama Penerus Bush, Pembantai Kaum Muslim

Adakah sejatinya perubahan yang dibawa oleh seorang Barack Husein Obama? Dari seorang penerus Bush, yang melanjutkan pembantaian kaum muslim.






Download (38 MB)

Read More

Kamis, 18 Maret 2010

Ulil JIL: Dunia Islam Paling Banyak Melanggar HAM, Harus Berguru pada Obama (AS)

SEMAKIN banyak berbicara, semakin terlihat kejahilannya. Itulah ciri khas kelompok liberalis. Setidak-tidaknya, itu diperlihatkan Ulil Abshar Abdalla dalam acara "Debat Kontroversi kedatangan Obama" di studio TVOne, Jakarta, Rabu (17/3/2010).

Dalam debat bertema “Obama Disayang Obama Ditentang” itu dihadiri dua kubu yang saling berseberangan. Dari pihak yang mendukung kedatangan Obama ke Indonesia, tampil dua narasumber: Ulil Abshar (Jaringan Islam Liberal) dan Effendy Choirie (Partai Kebangkitan Bangsa), sedangkan dari pihak yang menolak Obama diwakili oleh dua narasumber: Ismail Yusanto (Hizbut Tahrir Indonesia), Ali Mocthar Ngabalin (Partai Bulan Bintang).

Debat yang disiarkan secara langsung mulai pukul pukul 19.30 WIB itu dibagi dalam dua sesi yang diselingi dengan berbagai iklan. Pada sesi pertama, Ismail Yusanto berdebat dengan Ulil Abshar, disusul dengan debat sesi kedua antara Ali Mochtar Ngabalin dengan Effendy Choirie.

Ulil Abshar berapi-api menyatakan dukungannya terhadap rencana kedatangan Obama ke Indonesia, dengan ungkapan khas Arab “ahlan wa sahlan bihuduri Obama.”

Sebagai anak didik Amerika, agaknya bisa dimaklumi bila Ulil sangat memuji Obama dan Amerikanya. Mungkin itulah apresiasi balas jasa yang dipersembahkan kepada negara yang telah memberikan beasiswa program magister di Universitas Boston, dan studi tingkat PhD di Department of Near Eastern Languages and Civilizations di Universitas Harvard.

Tapi Ulil –yang lama hidup di negara Amerika– itu menjadi sangat tidak wajar jika ia tidak tahu tentang Amerika. Berangkat dari ketidaktahuan itulah, Ulil memuji Amerika sembari menghina Islam, lalu menganjurkan umat Islam supaya belajar (baca: berkiblat) ke Amerika dalam mengatasi masalah diskriminasi.

“Ada pelajaran penting yang bisa diambil dari pengalaman Obama di Amerika.
Ini luar biasa. Jadi orang Islam harus belajar bagaimana mereka mengatasi diskriminasi. Di dalam negara Islam itu diskriminasi masih banyak sekali,” kata Ulil.

Tak puas menyebut kaum Muslimin sebagai negara yang kaya diskriminasi, menantu Kiyai Mustafa Bisri ini bahkan menyebut dunia Islam paling banyak mengoleksi pelanggaran HAM.

"Pelanggaran HAM paling banyak di dunia Islam. Umat Islam harus belajar kepada Amerika, tegas Ulil"


“Pelanggaran HAM paling banyak itu di dunia Islam. Umat Islam harus belajar. Ada hal positif yang bisa diambil dari Amerika,” tegasnya.

Menanggapi tudingan Ulil terhadap umat Islam, Ismail Yusanto menjawab dengan santai. Juru bicara HTI ini tidak membantah langsung, tapi membandingkan pendapat Ulil yang bertolak belakang dengan data Amnesti Internasional.

“Itu tadi menurut Ulil. Bahwa pelanggaran HAM itu paling banyak di negeri Islam. Tapi menurut Amnesti Internasional, pelanggaran HAM terbesar di dunia itu Amerika, yang sekarang presidennya Barrack Obama,” jelas dia.

“Mana yang lebih kredibel, Saudara Ulil atau Amnesti Internasional?” tanya dia.

Ulil nampak kaget dan tidak percaya dengan pernyataan jubir HTI itu. Ulil rupanya belum pernah membaca data Amnesti Internasional bahwa Amerika adalah pelaku pelanggaran HAM terbesar di dunia. Ulil pun tidak terima jika bapak asuhnya disebut sebagai pelanggar HAM terbesar di dunia.

“Saya minta dibuktikan kalau data itu ada,” protes dia.

“Silakan, itu sudah berulangkali dilansir di media,” jawab Ismail.

Ulil yang belum membaca data itu, spontan berkata, “Saya sih nggak percaya!”

Pada debat sesi kedua, meski yang dihadapinya bukan Ulil, tapi Ali Mukhtar Ngabalin masih menyempatkan untuk menyindir Ulil. Tidak terima umat Islam disuruh belajar kepada Amerika untuk mengatasi diskriminasi dan pelanggaran HAM, salah satu pendiri Gerakan Indonesia Bersih (GIB) ini menyemprot Ulil agar jangan menjadi “jongos” Amerika, sembari mengutip petuah Bung Karno.

“Ingat pesan Soekarno, kita boleh berteman dengan Amerika, tapi jangan mentang-mentang menerima beasiswa dari Amerika, kemudian menjadi jongos Amerika!” tegasnya.

"Jangan mentang-mentang menerima beasiswa dari Amerika, kemudian menjadi jongos Amerika!” tegas Ali Mochtar"


Ia juga mengingatkan agar para intelektual tidak berpikir picik menjadi boneka Amerika hanya karena dapat beasiswa dari Amerika.

“Jangan mentang-mentang belajar di Amerika kemudian menjadi corong Amerika, menjadi boneka,” ujarnya.

Mantan anggota DPR RI dari PBB ini juga memperingatkan bahwa sejak dulu kedatangan presiden Amerika ke Indonesia tidak pernah membawa manfaat bagi Indonesia, malah memperluas jajahannya. Antara lain Obama datang ke Indonesia dalam rangka evaluasi terhadap kontrak kerja Freeport, Chievron, ExxonMobil, dll. Kembali, ia mengingatkan petuah Bung Karno.

“Soekarno pernah mengajarkan kepada kita, Amerika itu tidak pernah menawarkan sesuatu yang baik kepada negara-negara berkembang atau dunia ketiga. Itu sebabnya, Amerika harus kita setrika, Inggris kita linggis! Masak kita intelektual masak berpikir sepicik itu?” pungkasnya.

Amnesti Internasional: AS Terbanyak Langgar HAM dalam 50 tahun terakhir



Dalam konferensi pers di London (26/5/2004), Amnesti Internasional, sebuah LSM HAM internasional yang berbasis di London ini melaporkan bahwa Amerika Serikat (AS) adalah pelaku pelanggaran HAM terburuk di seluruh dunia, selama 50 tahun terakhir, sejak negara adidaya itu mengeluarkan kebijakan perang terhadap terorisme dan invasinya ke Iraq. Berita ini dilansir berbagai media internasional semisal AFB, BBC, dan lain-lain.

Sekjen Amnesti International, Irene Khan mengatakan, negara-negara berkuasa yang menyumbangkan pasukan tentara untuk Iraq telah mengabaikan hukum internasional dengan mengorbankan HAM secara `membabi-buta' atas nama keamanan.

"Agenda keamanan dunia yang diperjuangkan oleh AS tidak mempunyai visi dan prinsip yang jelas,'' kata Irena.

"Perbuatannya melanggar HAM di negara sendiri, sikapnya menutup mata terhadap insiden-insiden dan penyiksaan di luar negeri serta penggunaan kekerasan pasukan dengan sewenang-wenang telah menggugat keadilan serta menjadikan dunia ini lebih berbahaya,'' katanya.

Laporan tersebut juga mengungkapkan butir-butir terperinci mengenai pembunuhan warga sipil oleh pasukan penjajah AS di Iraq dan juga mengenai siksaan yang pasukannya atas tahanan Iraq.

Lebih dari 600 warga negara asing ditahan tanpa tuduhan yang jelas atau proses hukum, di penjara Guantanamo, Kuba. AS juga menahan sejumlah tawanannya di beberapa lokasi yang tidak diketahui


Invasi dan penguasaan wilayah Iraq oleh otoritas yang dibentuk negara-negara koalisi, menyebabkan ribuan orang di Iraq ditahan. Laporan itu juga menyebutkan, ratusan orang dari sekitar 40 negara, dipenjarakan AS tanpa proses hukum di Afghanistan.

Laporan Amnesti International itu juga menyentil sikap AS terhadap ratusan orang dari berbagai belahan dunia yang terus ditahan oleh AS tanpa dakwaan di Guantanamo, Kuba.

“Lebih dari 600 warga negara asing ditahan tanpa tuduhan yang jelas atau proses hukum, di penjara Guantanamo, Kuba. Mereka tidak diberi akses ke keluarga atau ke penasihat hukum. Orang-orang ini ditahan atas dugaan terkait dengan Al-Qaeda. Selain di Guantanamo, diduga AS menahan sejumlah tawanannya di beberapa lokasi yang tidak diketahui,” papar laporan tersebut.

Irene menyatakan, perang terhadap terorisme seharusnya dibarengi dengan upaya melindungi hak asasi manusia, tapi pada kenyataannya, kampanye antiterorisme dan perlindungan terhadap hak asasi manusia, saling bertentangan.

Irena mengatakan, dunia telah melihat kenyataan yang sebenarnya, setelah foto-foto penyiksaan dan pelecehan di penjara Abu Guraib tersebar di masyarakat luas. Ini adalah konsekuensi logis, dari perburuan yang membabi buta yang dilakukan AS sejak peristiwa 11 September. AS telah mengabaikan dan menempatkan dirinya diluar sistem hukum yang ada.

AS telah kehilangan moral dan potensinya untuk melakukan segalanya dengan cara yang damai, kata Irene


“AS telah kehilangan moral dan potensinya untuk melakukan segalanya dengan cara yang damai,” kata Irene dalam keterangan persnya di London.

Amnesti Internasional menyatakan, pihak Departemen Kehakiman AS telah mengakui ada problem besar dalam menangani ratusan tahanan warga negara asing sejak peristiwa 11 September.

Selain tidak memberikan akses pada keluarganya, AS juga tidak memberi akses agar para tahanan bisa didampingi pengacara agar proses hukumnya bisa segera dilakukan. Selain itu, bukti-bukti menunjukkan adanya pola penyiksaan fisik maupun verbal yang dilakukan oleh para penyidik.

Amnesti Internasional juga memaparkan pelanggaran Ham lainnya yang dilakukan AS, antara lain, penahanan sekitar 6.000 anak-anak migran dengan tuduhan melakukan kenakalan remaja. Anak-anak ini ditahan sampai berbulan-bulan.

Disamping itu, polisi dan penjaga penjara di AS, telah menyalahgunakan senjata dan menggunakan bahan kimia terhadap para tahanannya, yang menyebabkan kasus tewasnya sejumlah tahanan di penjara AS.

Amnesti Internasional juga memaparkan pelanggaran Ham lainnya yang dilakukan AS, antara lain, penahanan sekitar 6.000 anak-anak migran dengan tuduhan kenakalan remaja, sampai berbulan-bulan


Amnesti Internasional juga mengkritisi penerapan hukuman mati di AS. Sepanjang tahun 2003, sudah 65 orang yang menjalani hukuman mati di AS. Total, sudah ada 885 orang yang menjalani hukuman mati sejak AS menerapkan kembali hukuman itu pada tahun 1976. AS dinilai juga telah melanggar aturan internasional dalam menerapkan hukuman mati ini, karena telah mengenakkannya pada anak dibawah umur 18 tahun.

Yang paling hangat, Amnesti Internasional, mengkritik AS karena berupaya mendapatkan kekebalan hukum dari pengadilan internasional bagi tentaranya yang melakukan kejahatan perang. [taz/dari berbagai sumber]

Sumber :

Read More

498. MENYAMBUT PENGUASA NEGARA PENJAJAH: MENGKHIANATI ALLAH, RASUL-NYA, ISLAM, DAN KAUM MUSLIM

Umat Islam saat ini dihadapkan pada persoalan kenegaraan yang sangat sulit, yaitu rencana kedatangan Obama bulan Maret ini. Sekiranya Obama seorang warga negara biasa tentu tidak akan melahirkan pro-kontra di tengah mayoritas umat Islam Indonesia. Masalahnya, sosok Obama tidak bisa dilepaskan dari kedudukannya sebagai pemimpin dari negara Amerika Serikat (AS). Dunia saat ini melek betul, AS telah banyak menciptakan tragedi kemanusian di berbagai belahan negeri Dunia Islam, baik dalam bentuk penjajahan militer ataupun penjajahan politik, ekonomi dan budaya.

Ironisnya, Pemerintah Indonesia berharap kunjungan Obama tidak batal. Pemerintah malah mengklaim kedatangan Obama ke Indonesia adalah atas undangan dari Pemerintah Indonesia yang disampaikan sebelumnya. Karena itu, Pemerintah berharap, rakyat Indonesia menyambut Obama dengan baik, dengan berbagai dalih. Misal, seperti yang diungkapkan Menkominfo Tifatul Sembiring, “Kedatangan Obama sebagai tamu negara perlu disambut baik, tidak hanya oleh Pemerintah, tapi juga oleh seluruh masyarakat Indonesia. Sebab, banyak kepentingan Indonesia kepada negara adidaya itu.” (Eramuslim.com, 11/3).

Dukungan kepada Pemerintah juga diberikan oleh beberapa pihak dengan alasan kedatangan Obama ke Indonesia akan memberikan nilai positif, bahkan merupakan kesempatan untuk membangun dialog Islam dan Barat agar AS tidak lagi memposisikan Dunia Islam sebagai musuh, tetapi sebagai sahabat.

Namun, tidak bisa diabaikan, banyak majelis yang dihadiri para ulama dan tokoh masyarakat justru mengeluarkan pernyataan bersama untuk menolak kedatangan Obama. Hal itu dilakukan setelah melakukan kajian mendalam atas fakta-fakta (manât al-hukm) AS dan Obama sebagai presidennya, juga setelah menelaah nash-nash syariah (Al-Quran, as-Sunnah, Ijmak Sahabat dan Qiyas) sampai pada kesimpulan hukum (istinbâth al-hukm). Mereka menyatakan: haram mengundang, menerima dan menyambut seorang pemimpin negara penjajah (harbi fi’l[an]). Penolakan para ulama itu antara lain terjadi di Jawa Timur (Surabaya, Malang), Banten, Bandung, Sumbar, Kalmanatan Timur, Sulsel, Jogya, dll (Suaramedia.com, 13/3).

Dosa-dosa AS di Bawah Obama

Pertama: Di Irak Obama memang mendukung penarikan mundur pasukan AS secara bertahap dalam tempo 16 bulan sejak menjabat. Namun, Obama juga tidak setuju untuk menarik tentara AS total dari Irak yang dianggap masih tetap memberikan manfaat untuk mengamankan kepentingan AS di timur tengah. Obama bahkan berniat untuk menempatkan pasukan AS tidak hanya di Irak, tetapi juga di negara–negara Timur Tengah lain, seperti Kuwait. Padahal akibat pendudukan AS atas Irak sejak tahun 2003, menurut penelitian John Hopkins University, lebih dari 1 juta warga sipil Irak tewas. Kehancuran sosial, budaya serta ekonomi sangat luas.

Kedua: Di Afganistan, Obama menambah jumlah pasukan AS (30.000 pasukan), memperluas daerah operasi militer dan melancarkan serangan lintas batas secara sistematis. Obama telah memprioritaskan untuk membangun rezim agennya di Kabul sehingga Afganistan tetap ada dalam kontrol dalam kepentingan AS. Tujuannya adalah mempertahankan aset strategis di Asia Tengah seperti sumber energi dan infrastruktur pembangunan jalur pipa minyak. Ini sejalan dengan pikiran yang diungkap Obama dalam debat Senat Illionis di Jaringan Radio Illionis 12 Oktober 2004.

Ketiga: Dalam kasus Iran, Obama berjanji menyusun kekuatan internasional untuk menekan Iran dan mencegah Iran mengembangkan nuklir. Obama juga tidak menafikan kemungkinan penggunaan aksi militer untuk menguasai ladang minyak dan gas bumi Iran apabila diperlukan. Saat yang sama, seperti para presiden AS sebelumnya, Obama membisu seribu bahasa atas Israel dengan fasilitas nuklirnya di Demona, Gurun Negev, yang beroperasi sejak tahun 1960 dan telah memiliki hulu ledak nuklir yang menjadi ancaman serius di kawasan Timur Tengah.

Keempat: pada Forum AIPAC (American Israel Public Affairs Committee) Juni 2008 lalu, Obama dengan lantang dan tegas menyatakan dukungannya terhadap Negara Israel. “Saya berjanji kepada Anda bahwa saya akan melakukan apapun yang saya bisa dalam kapasitas apapun untuk tidak hanya menjamin keamanan Israel tapi juga menjamin bahwa rakyat Israel bisa maju dan makmur dan mewujudkan banyak mimpi yang dibuat 60 tahun lalu.”

Juru Bicara Obama juga menegaskan, “Obama akan menghormati kesepakatan-kesepakatan yang sudah dilakukan terkait dengan bantuan dana bagi Israel dan akan mengusahakan agar bantuan itu ditingkatkan sampai 30 miliar dolar AS dalam jangka waktu 10 tahun.” (Suaramedia.com, 6/10/08).

Joe Biden (Wapres AS) dalam ceramahnya di Universitas Tel Aviv juga menegaskan, tidak ada teman terbaik di dunia ini bagi Washington (AS) kecuali Israel (Eramuslim.com, 12/3).

Kemenangan Obama menjadi presiden pun tidak lepas dari dukungan finansial dari komunitas Yahudi seperti: Sheldon Adelson (seorang Republikan); neokonservatif dan seorang ‘megadonor’, Sherry Lansing, penggalang dana dan donatur utama Partai Demokrat, pernah menjadi perempuan pertama yang memimpin Paramount, salah satu studio film terkemuka di Hollywood; Penny Pritzker, ketua nasional bidang keuangan kampanye Obama, seorang miliarder berasal dari keluarga Yahudi yang dikenal kerap menjadi donatur besar; Denise Rich, mantan istri miliarder March Rich, Barbra Streisand, penyanyi terkenal yang menjadi ikon Yahudi-liberal dan penggalang dana bagi Yahudi; dll.

Pembantaian Gaza oleh Israel yang terjadi dari tanggal 28 Desember 2008 hingga 18 Januari 2009 sama sekali tidak disinggung dalam pidato kemenangan Obama. Saat serangan biadab Israel di Gaza itu, Obama justru sangat kentara mendukung penuh negeri Zionis dengan dalih mempertahankan diri. Padahal serangan itu telah mengakibatkan 1.400 orang lebih tewas; ratusan di antaranya adalah anak-anak, wanita dan orang tua; 5.000 orang terluka, termasuk 1.000 yang cacat seumur hidup; selain kehancuran dahsyat akibat berbagai jenis senjata paling mutakhir negeri Zionis itu.

Bagi Obama, menjaga keamanan Israel tidak bisa ditawar dan Amerika di bawah Obama akan tetap menjaga eksistensi Israel. Obama pada faktanya lebih Yahudi daripada orang-orang Yahudi (Lihat: Obama Revealed, Realitas di Balik Pencitraan, Dina Y. Sulaeman, Aliya Publishing 2010).

Kelima: Itikad Obama menutup Penjara Guantanamo juga sudah menjadi cerita usang tiada bukti. Justru Obama lebih gencar melakukan perburuan ‘teroris’ dengan cara menyerang kawasan Yaman, perbatasan Pakistan dan membunuh orang-orang yang hanya disangka ‘teroris’ oleh AS. AS juga memberikan dukungan dana dan pelatihan di negeri Muslim (misal Den-88 Indonesia) untuk mengeksekusi orang-orang yang dianggap bagian dari jaringan al-Qaidah.

Wajib Menolak Obama!

Sejak awal AS telah menempatkan Indonesia sebagai wilayah dan mitra strategis untuk mengokohkan agenda Kapitalisme globalnya. Karena itu, sangat wajar jika penolakan umat Islam terhadap Obama terus membesar dan melahirkan sikap kritis terhadap apa yang dilakukan oleh penguasa. Selain sejumlah alasan di atas, juga antara lain karena:

1. Penguasa telah melanggar Konstitusinya sendiri, yakni UUD 1945 (di bagian Pembukaan) yang tegas menentang seluruh bentuk penjajahan. Jika konsisten dengan UUD ini, bagaimana bisa melihat AS sang penjajah menjadi samar hanya karena sosok Obama? Mengapa pula Indonesia seperti lebih menampakkan diri sebagai negara terjajah daripada menjadi negara yang merdeka? Faktanya, Indonesia bukan hanya tidak sanggup untuk mengatakan AS sebagai negara penjajah, tetapi bahkan memposisikan diri menjadi sapi perahan dari proyek global Kapitalisme yang diemban oleh AS.

2. Jika mengacu pada kaidah politik luar negeri AS maka kepentingan dalam negeri AS adalah segalanya. Dengan “soft strategi” Obama mendekati Dunia Islam, termasuk Indonesia, dengan jargon “mutual respect dan mutual interest”. Padahal kenyataannya, kehadiran Obama (khusus ke Indonesia) tidak lain adalah untuk mengokohkan penjajahan politik ekonomi AS. Indonesia adalah modal besar dan penting untuk AS, karena populasi penduduk, sumberdaya alam maupun geopolitiknya; baik untuk kawasan Asia Pasifik maupun Dunia Islam. Obama sebagai presiden AS datang ke Indonesia untuk memastikan Indonesia tetap dalam kendali dan cengkeraman kepentingan global AS.

3. Berdasarkan pengkajian terhadap nash-nash syariah, menerima pemimpin dari negara penjajah (harbi fi’l[an]) sebagai tamu adalah haram secara syar’i. Obama adalah presiden negara penjajah. Kenyataan ini tidak bisa diabaikan begitu saja hanya karena sosok pribadinya yang berbeda dari pemimpin AS sebelumnya. Sebagian kalangan yang merespon secara positif kehadiran Obama tidak bisa bersembunyi di balik nash tentang kewajiban memuliakan tamu, sementara mereka mengabaikan fakta, bahwa Obama bukanlah tamu yang baik, melainkan tamu yang jahat, yang bahkan masih berlumuran darah kaum Muslim!

Wahai kaum Muslim:

Sesungguhnya Allah SWT telah berfirman:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لاَ تَتَّخِذُوا بِطَانَةً مِنْ دُونِكُمْ لاَ يَأْلُونَكُمْ خَبَالاً وَدُّوا مَا عَنِتُّمْ قَدْ بَدَتِ الْبَغْضَاءُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ وَمَا تُخْفِي صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengambil sebagai teman kepercayaan kalian orang-orang di luar kalangan kalian, karena mereka tidak henti-hentinya menimbulkan kemadaratan atas kalian. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kalian. Telah nyata kebencian dari mulut mereka dan apa saja yang disembunyikan oleh hati mereka lebih besar lagi (QS Ali Imran [3]: 118).

Karena itu, dengan alasan apapun sesungguhnya kaum Muslim haram menyambut Obama. Sebab, sikap itu berarti mengkhianati Allah SWT, Rasulullah saw., Islam dan kaum Muslim. Justru yang wajib dilakukan adalah menolaknya!

Lebih dari itu, sudah saatnya umat Islam memiliki penguasa yang benar-benar hanya takut kepada Allah SWT, bukan takut kepada Amerika atau siapapun yang menjadi musuh umat. Saatnya umat memiliki penguasa yang berpihak pada kepentingan dan kemaslahatan mereka, bukan melayani kepentingan negara penjajah seperti AS. Saatnya umat mengupayakan kehadiran sosok penguasa yang bisa menjaga ‘izzah (kemuliaan) Islam dan kaum Muslim, bukan terus-menerus berada di bawah kekuasaan penguasa yang justru menghinakan Islam dan kaum Muslim. Sosok penguasa itu tidak lain adalah sebagaimana para khalifah pada masa lalu, pemimpin negara Khilafah. Karena itu, perjuangan untuk menegakkan Khilafah sekaligus mengangkat seorang khalifah adalah kebutuhan umat saat ini sekaligus kewajiban dari Allah SWT dan Rasul-Nya. Wallâhu a’lam bi ash-shawab. []

KOMENTAR AL-ISLAM:

Dino Patti Jalal: Obama sudah mengulurkan tangan persahabatan dan simpati kepada umat Islam (Vivanews.com, 16/3/2010).

Tetap membunuhi kaum Muslim di Irak, Afgan, Pakistan dll; itukah bentuk persahabatan dan simpati Obama (AS) kepada umat Islam?!

sumber

Read More

Kepentingan Amerika Dalam Misi Obama

Presiden AS Barack Obama akan datang ke Indonesia pada 22-24 Maret 2010 mendatang. Kedatangannya ini merupakan hasil undangan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang dilayangkan sejak Februari 2009. Pemerintah memandang kedatangan Obama menguntungkan Indonesia. Berbagai partai dan ormas Islam pun diam. Bahkan, Ketua Majelis Ulama Indonesia, Amidhan (8/3/2010) meminta umat Islam agar menghormati Obama. Obama adalah tamu yang berkunjung ke Indonesia. Umat Islam diajarkan untuk menghormati tamu. Pihak yang lantang menolak kedatangan Obama sebagai kepala Negara penjajah tersebut hanyalah Hizbut Tahrir. Partai politik Islam ini menggerakkan para ulama di berbagai penjuru Indonesia menolak kehadiran Obama melalui berbagai forum seperti seminar, demontrasi, dll.

Kunjungan ini sebenarnya hanyalah dalam rangka untuk mengokohkan cengkeraman AS kepada Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari beberapa hal. Pertama, kunjungan Obama terjadi pada saat munculnya isu pemakzulan terhadap Presiden SBY. Dengan kunjungan ini Obama menunjukkan dukungannya kepada Presiden SBY. Kedua, mulai Januari 2010 Indonesia telah menjalankan perdagangan bebas dengan Cina dan Asean. Indonesia menjalin hubungan ekonomi lebih erat dengan Cina padahal Cina merupakan salah satu halangan bagi AS di Asia Pasifik. Ketiga, kunjungan Obama diawali dengan kunjungan Menteri Luar Negeri AS, Hillary Clinton pada Februari 2009. Saat itu ia memuji Indonesia dengan menegaskan: ” Indonesia menjalankan perang yang sukses terhadap terorisme dan ekstrimisme, berhasil mengakhiri konflik sektarian dan separatisme serta bekerja membuat dunia ini menjadi tempat yang lebih aman bagi perdagangan global dan HAM”.

Lebih tegas lagi, tujuan sebenarnya kedatangan Obama adalah:

Pertama, mencengkeramkan kepentingan ekonomi AS. Obama (11/3/2010) menegaskan: “So while I’m there, I’ll visit Indonesia and Australia, two vibrant economies and democracies that will be critical partners for the United States. And in both countries, I’ll highlight the role that American businesses play there, and underscore how strong economic partnerships can create jobs on both sides of the Pacific while advancing both regional and global prosperity. Going forward, I will be a strong and steady advocate for our workers and our companies abroad”.

Dalam pernyataannya itu, Obama menyampaikan misi penting dalam lawatannya ke Indonesia untuk menggarisbawahi aturan main bisnis Amerika yang berlaku di sana. Selain itu, ia berjanji akan menjadi advokat yang kuat dan tangguh untuk tenaga kerja dan perusahaan AS di luar negeri”. Kalau dulu ketika, Presiden George W. Bush datang ke Indonesia maka Indonesia menyerahkan blok kaya minyak Cepu ke perusahaan AS maka peluang besar kedatangan Obama akan diikuti oleh penyerahan blok minyak dan gas di Natuna. Sebab, selama ini AS mengincar Natuna, selain untuk minyak dan gas juga untuk pangkalan militer mereka.

Juru bicara Gedung Putih Gibbs (12/3/2010) menyampaikan: “We are — we can’t lead in this region of the world (i.e. Asia-Pacific) without strong bilateral relationships with Indonesia and Australia. They’re key in our ability to keep our country safe. They’re key in our ability to grow our economy through increased exports. And they’re key to tackling big challenges. Indonesia is the fourth-largest greenhouse gas emitter in the world. Obviously they’ll be incredibly important to international agreements on climate change.”

Ini makin menegaskan bahwa kedatangan Obama adalah untuk menjaga kepentingan AS, menjadikan Indonesia sebagai pasar, dan mitra dalam menghadapi tantangan besar AS. Lebih dari itu, kedatangan Obama ini untuk menjadikan AS benar-benar dapat memimpin Asia Pasifik. Sebab, sebagaimana disampaikan Gibbs AS tidak dapat memimpin kawasan Asia Pasifik tanpa kerjasama kuat antara Indonesia dan Australia.

Kedua, melanjutkan kunjungannya dulu dari Turki, Kairo, dan kini Indonesia dalam mengusung “perang melawan terorisme” (war on terrorism). Juru bicara Gedung Putih, Robert Gibbs dalam situs resmin AS www.whitehouse.gov pada 12/3/2010 menegaskan: “The Asia-Pacific region of the world is tremendously important to the United States for a number of reasons. We will — we’re going to visit, obviously, Indonesia, the world’s largest Muslim population, an emerging democracy. The President will follow up on his speech from Cairo in a speech in Indonesia — a key partner, obviously in our counterterrorism efforts — before traveling to Australia, obviously a very important trading partner and an important ally in our efforts in Afghanistan.

Nampak jelas, misi berikutnya kedatangan Obama adalah untuk merangkul dunia Islam melalui Indonesia. Indonesia sebagai “the world’s largest Muslim population” menjadi pertimbangan penting Obama. Presiden Obama akan menindaklanjuti pidatonya di Kairo dalam pidatonya di Indonesia, satu mitra kunci, terutama dalam upaya kita memerangi terorisme. Tidaklah mengherankan, dua minggu terakhir ini, menjelang kedatangan Obama, di Indonesia mencuat kembali isu terorisme. Bahkan, beberapa orang dibunuh dan belasan lainnya ditangkap dengan dalih terorisme. Padahal, belum ada bukti tentang kebenaran tuduhan tersebut.

Ketiga, mengokohkan pembelaan Israel lewat Indonesia. Wakil Presiden AS dalam pidatonya di depan kaum Yahudi di Universitas Tel Aviv pada awal Maret 2010 mengatakan tentang Obama: “In Cairo last June, he launched a new beginning between the United States and the Muslim communities around the world. Later this month, the President will continue this engagement by visiting Indonesia, home of the world’s largest Muslim population where he lived as a boy. We are absolutely convinced that this approach will improve not only our security, but as a consequence, your security”.

Di Kairo, Juni lalu, dia (Presiden Obama) mengumumkan “babak baru hubungan antara AS dengan komunitas Muslim dunia”. Bulan ini, Presiden akan melanjutkan hal ini dengan mengunjungi Indonesia, negeri Muslim terbesar tempat ia hidup waktu kecil. Inti dari kunjungan ini jelas sekali dalam ucapannya: “Kami yakin dengan sebenar-benarnya bahwa pendekatan ini akan meningkatkan bukan hanya keamanan kami, melainkan sebagai konsekuensinya meningkatkan keamanan anda juga”. Tidak mengherankan apabila akan dijalankan upaya membentuk kelompok lobi Israel-AS di Indonesia.

Hal-hal tersebut menegaskan bahwa kunjungan Obama adalah untuk memajukan keamanan dan kemakmuran serta kepentingan nasional AS lainnya. Jadi, kehadiran Obama bukan untuk menawarkan pemulihan hubungan AS dengan dunia Islam setelah mengalami ketegangan pada era George Bush seperti dinyatakan sebagian tokoh Islam di negeri ini, melainkan untuk mencengkeramkan kukunya lebih dalam lagi.

Wahai kaum Muslim,

Berdasarkan hal ini maka semestinya kaum Muslim menolak kehadiran pemimpin Negara penjajah itu di negeri Muslim terbesar, Indonesia ini. Mereka datang untuk makin mencengkeramkan kukunya. Tidakkah kita ingat pada firman Allah SWT:

وَلَن يَجعَلَ اللَّهُ لِلكٰفِرينَ عَلَى المُؤمِنينَ سَبيلًا

“Dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang yang beriman” (TQS. an-Nisa[4]:141).[MR KURNIA ]

sumber

Read More